Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kitab Asmoro Jowo (Karya Kang Thohir)

Puisi "Kitab Asmoro Jowo" karya Kang Thohir bercerita tentang seseorang yang tengah dilanda rasa kasmaran namun tidak sepenuhnya berani ...

Kitab Asmoro Jowo

Part 1
Kesemsem marang sliramu
Ono lintang lan wulan ing pucuk gunung 
Yen aku ndelok sliramu beh tenang nan syahdu 
Ojo nganti kemurung 

Ono renjono ing walik wektu
Muncak seko atiku wis resah 
Dene koyo diguyur udan ing tatu
Nanging tumibo ing wiwitan, nek ngucapke marang sliramu yo wegah

Brebes, 20 Januari 2026

Part 2

Roso iku tondone melas, nek melas tondone welas asih tur cinto. 
Paite jamu luwih apik nggo mariki, nek paite wong loro ati, yo abot lan suwe mongsone tur angel tambane.
 
Bedo maning karo wong kasmaran, senadyan dugal yo ora katon dugal, sebab diimbangi karo sayang, pan nganuk yo ra iso, yo eman-eman.

Koyo ono dene lintang ing jagat dhuwur kangge hiasan awang-awang, lan rembulan sing katon benderang. Ati wis seneng uripe tur riang. Lantaran olih jodoh sing tepat lan saling nerimake opo onone. Mugi munggah derajate sing kang mulyo, lan sugih bendo. Uripe barokah lan ayem. Alhamdulillah. Allahumma, aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.

Brebes, 21 Januari 2026

Analisis Puisi:

Puisi "Kitab Asmoro Jowo" karya Kang Thohir merupakan karya yang memadukan bahasa Jawa dengan nuansa reflektif, religius, dan filosofis tentang cinta. Puisi ini terbagi dalam dua bagian yang saling melengkapi: bagian pertama berisi gejolak perasaan personal, sedangkan bagian kedua bergerak menuju perenungan yang lebih matang dan bijaksana tentang cinta, penderitaan, serta makna kebersamaan.

Penggunaan bahasa Jawa dalam puisi ini bukan sekadar pilihan estetika, melainkan juga sarana untuk menghadirkan kedalaman rasa, keintiman emosi, dan kearifan lokal yang khas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta dalam perspektif Jawa: cinta yang lembut, penuh welas asih, sekaligus sarat dengan perenungan batin. Cinta tidak digambarkan secara berlebihan atau romantis semata, melainkan sebagai perasaan yang membawa ketenangan, kegelisahan, pengorbanan, hingga doa.

Selain itu, terdapat tema pendukung berupa kesabaran, penerimaan, dan spiritualitas, terutama pada bagian kedua puisi yang menyinggung jodoh, keberkahan hidup, dan kepasrahan kepada Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang tengah dilanda rasa kasmaran namun tidak sepenuhnya berani mengungkapkan perasaannya. Pada bagian pertama, penyair menggambarkan kekaguman mendalam kepada sosok “sliramu” yang diibaratkan sebagai sumber ketenangan, layaknya lintang dan rembulan di puncak gunung. Namun, di balik ketenangan itu tersimpan keresahan, luka batin, dan keraguan untuk menyatakan cinta.

Bagian kedua memperluas cerita menjadi refleksi tentang hakikat rasa. Penyair membandingkan pahitnya jamu dengan pahitnya rasa dua hati yang terluka, lalu mengontraskannya dengan kebahagiaan orang yang kasmaran dan telah menemukan jodoh yang tepat. Cerita pun berakhir pada doa dan harapan akan kehidupan yang ayem, berkah, dan mulia.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar rasa senang, tetapi juga tanggung jawab batin. Perasaan yang dipendam, kegelisahan yang tidak terucap, dan luka yang tersiram hujan menjadi simbol dari kompleksitas cinta manusia.

Puisi ini juga menyiratkan pandangan Jawa bahwa cinta sejati seharusnya dilandasi welas asih, penerimaan apa adanya, serta keselarasan hidup. Pada akhirnya, cinta yang matang akan bermuara pada doa dan kepasrahan, bukan sekadar hasrat pribadi.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung tenang, sendu, dan kontemplatif. Pada bagian pertama, suasana didominasi oleh keteduhan yang bercampur kegelisahan batin. Bagian kedua menghadirkan suasana yang lebih hangat dan damai, seiring munculnya kebijaksanaan, harapan, dan doa.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa cinta perlu dijalani dengan kesadaran, kesabaran, dan welas asih. Cinta yang dipaksakan hanya akan melahirkan luka, sedangkan cinta yang dilandasi penerimaan dan keikhlasan akan membawa ketenteraman hidup.

Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa jodoh dan kebahagiaan sejati tidak lepas dari peran Tuhan, sehingga manusia perlu menyertakan doa dan kepasrahan dalam perjalanan cintanya.

Puisi "Kitab Asmoro Jowo" karya Kang Thohir adalah puisi yang menawarkan pemaknaan cinta secara mendalam dan membumi. Ia tidak hanya berbicara tentang rasa kasmaran, tetapi juga tentang perjalanan batin manusia dalam memahami cinta, luka, dan keberkahan hidup.

Kang Thohir
Puisi: Kitab Asmoro Jowo
Karya: Kang Thohir

Biodata Kang Thohir:
  • Kang Thohir merupakan nama pena dari Muhammad Thohir/Tahir (biasa disapa Mas Tair). Ia lahir di Brebes, Jawa Tengah.
  • Kang Thohir suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD sampai masuk ke Pondok Pesantren. Ia menulis puisi, cerpen dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.