Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kopi (Karya Hidayat Raharja)

Puisi "Kopi" karya Hidayat Raharja bercerita tentang pengalaman menikmati kopi pada malam hingga pagi hari, yang membawa penyair pada ingatan akan ...

Kopi

Sepekat malam tubuhmu mengental dalam gelas percakapan. Pekat rasa pahit di lidah, menuruni bukit-bukit miring di ketinggian malam. Kebun-kebun lebat yang dipenuhi gemintang dan sepenggal bulan mengintip dari balik bukit.

Kepulan asap menari, tarian angin menyusuri celah dan lembah. Guguran embun dini membasahi kerongkongan pagi, lunasi haus dan pedih. Dua bola matamu terbit dari mulut gelas berjaga di tebing waktu.

Cairan bergerak menyusuri selokan waktu yang mampat, membisingkan bangun ibu dipagi itu, menjerang air di atas tungku. Sendokan gula dan bubukan pekat teraduk dalam pualam hati ibu, yang takkan pernah kaupaham makna pahit dan kelam yang ibu jeram.

Didih air tertuang menyusupi geronggang bubukan, membunuh kuman seteru dan mengepulkan rindu.

Sumber: Kajian Puisi (FKIP UHAMKA, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi "Kopi" karya Hidayat Raharja menghadirkan pengalaman yang intim dan reflektif melalui simbol minuman kopi. Kopi tidak sekadar hadir sebagai benda keseharian, melainkan sebagai medium kenangan, relasi batin, dan ingatan tentang sosok ibu. Bahasa puisi yang pekat dan metaforis membuat pengalaman minum kopi menjelma menjadi perjalanan rasa, waktu, dan kesadaran emosional.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan dan kepahitan hidup yang dibingkai dalam kehangatan relasi keluarga. Kopi menjadi simbol kehidupan yang pahit, namun tetap memberi kehangatan dan daya hidup.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman menikmati kopi pada malam hingga pagi hari, yang membawa penyair pada ingatan akan ibu. Proses menyeduh kopi—dari air mendidih, bubuk kopi, gula, hingga kepulan asap—menjadi rangkaian peristiwa yang menghubungkan rasa pahit kopi dengan pahitnya hidup yang dijalani sang ibu.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kepahitan hidup sering kali dijalani secara sunyi oleh sosok ibu, tanpa sepenuhnya dipahami oleh anak. Seperti kopi yang pahit namun menghangatkan, hidup ibu dipenuhi jerih payah, pengorbanan, dan ketabahan yang baru disadari setelah direnungkan kembali.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa hening, melankolis, dan hangat. Keheningan malam, kepulan asap, serta aktivitas pagi hari membangun suasana yang lirih namun penuh keakraban batin.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk memahami dan menghargai pengorbanan ibu. Manusia diingatkan agar tidak sekadar menikmati hasil, tetapi juga menyadari proses pahit dan sunyi yang menyertainya.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual, imaji perasa, dan imaji penciuman. Imaji visual tampak pada “kepulan asap menari”, “sepenggal bulan mengintip”, dan “dua bola matamu terbit dari mulut gelas”. Imaji perasa hadir melalui rasa pahit kopi di lidah, sementara imaji penciuman muncul dari aroma kopi yang mengepul dan air mendidih.

Majas

Puisi ini menggunakan majas metafora dan personifikasi secara dominan. Metafora terlihat pada kopi sebagai simbol tubuh, rasa hidup, dan ingatan. Personifikasi tampak pada “kepulan asap menari” dan “bulan mengintip”, yang memberi kesan hidup pada benda-benda alam dan memperkuat suasana puitik.

Puisi "Kopi" karya Hidayat Raharja adalah refleksi puitik tentang rasa, ingatan, dan kasih ibu. Melalui simbol kopi yang pahit dan hangat, penyair berhasil menghadirkan kesadaran emosional bahwa di balik kenikmatan hidup, terdapat jerih payah yang sering luput dipahami.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Kopi
Karya: Hidayat Raharja
© Sepenuhnya. All rights reserved.