Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Lembah Kenangan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Lembah Kenangan" karya Gunoto Saparie bercerita tentang sebuah lembah kenangan yang berada “di kejauhan”, tertutup kabut dan dipenuhi kesepian.
Lembah Kenangan

adalah lembah kenangan
di kejauhan yang berkabut itu
namun di sana hanya kesepian
hanya keheningan semesta bisu

dari pinus ke pinus
angin pun mendesir gelisah
kau pergi meninggalkan kisah
namun jejak-jejakmu tak terhapus

adalah lembah kenangan
basah menggigil dalam hujan
mengekalkan kesunyian dan kesendirian
almanak pun rontok ke lantai dingin

2020

Analisis Puisi:

Puisi "Lembah Kenangan" karya Gunoto Saparie menghadirkan lanskap batin yang sunyi dan muram. Melalui gambaran alam yang berkabut, hujan, dan pinus, penyair mengekspresikan perasaan kehilangan serta kenangan yang tak sepenuhnya bisa ditinggalkan. Alam tidak sekadar latar, melainkan medium untuk menyuarakan kesepian dan keheningan batin manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan dan kehilangan. Lembah menjadi simbol ruang batin tempat ingatan masa lalu bersemayam, sementara kepergian seseorang meninggalkan kehampaan yang terus terasa.

Puisi ini bercerita tentang sebuah lembah kenangan yang berada “di kejauhan”, tertutup kabut dan dipenuhi kesepian. Penyair mengingat seseorang yang telah pergi, meninggalkan kisah, tetapi jejak kehadirannya masih tertanam kuat. Kenangan itu terus hidup, meski waktu berlalu dan hari-hari berganti.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kenangan, terutama tentang kehilangan, tidak mudah dihapus oleh waktu. Meskipun seseorang telah pergi, bekas-bekas emosionalnya tetap melekat dalam ingatan. Kabut, hujan, dan dingin menjadi lambang kebingungan, kesedihan, dan kehampaan yang menyelimuti batin penyair.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa sunyi, melankolis, dan penuh kesendirian. Keheningan yang berulang ditegaskan melalui diksi seperti “kesepian”, “keheningan semesta bisu”, dan “kesunyian”, menciptakan kesan duka yang mendalam dan berlarut.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menerima kenyataan bahwa kehilangan merupakan bagian dari kehidupan. Kenangan memang tidak selalu bisa dilenyapkan, tetapi keberadaannya menjadi bukti bahwa pernah ada hubungan dan kisah yang bermakna.

Puisi "Lembah Kenangan" merupakan puisi yang lembut namun kuat dalam mengekspresikan rasa kehilangan. Gunoto Saparie berhasil memadukan alam dan emosi menjadi satu kesatuan, sehingga pembaca dapat merasakan bagaimana kenangan tetap hidup di tengah kesunyian dan perjalanan waktu.

Foto Gunoto Saparie Februari 2020
Puisi: Lembah Kenangan
Karya: Gunoto Saparie


GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.

Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.