Memaafkan Diri Pelan-Pelan
Aku berani menoleh
dan arahnya ke belakang
namun bukan untuk meraihnya
dan tanpa ingin untuk kembali
tapi hanya ingin mengerti
memahami, mengetahui
mengapa dalam hidupku
aku pernah sekeras itu
bukan pada orang lain
tapi diri sendiri
Aku rasa ada sesuatu yang salah
kurasa ada pilihan yang
keliru
dan itu yang kupilih
kurasa ada diam yang terlalu panjang
aku berani memaafkannya
tanpa pidato
tanpa ada upacara
hari ini
aku siap untuk mengatakan
berani berhenti menghukum
versi lama yang dulu
yang pernah aku rasakan
dan aku hanya sedang siap bertahan
untuk melanjutkan perjalananku
Analisis Puisi:
Puisi "Memaafkan Diri Pelan-Pelan" karya Aprianus Gregorian Bahtera menghadirkan suara batin yang jujur dan tenang. Puisi ini tidak berbicara tentang konflik eksternal, melainkan pergulatan internal seseorang yang berusaha berdamai dengan masa lalu dan sikap keras terhadap dirinya sendiri. Dengan bahasa yang sederhana dan reflektif, puisi ini menekankan proses penyembuhan yang berlangsung perlahan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penerimaan diri dan proses memaafkan diri sendiri. Puisi ini menyoroti perjalanan batin manusia dalam memahami kesalahan masa lalu tanpa keinginan untuk kembali atau mengulanginya.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berani menoleh ke belakang, bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk memahami alasan di balik sikap keras yang pernah ia tujukan kepada dirinya sendiri. Ia menyadari adanya pilihan yang keliru dan keheningan yang terlalu panjang, lalu memilih untuk memaafkan diri tanpa ritual besar—cukup dengan kesadaran batin.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa luka terdalam sering kali berasal dari cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri. Kesalahan, diam, dan keputusan keliru tidak selalu harus ditebus dengan hukuman berkepanjangan. Keberanian sejati justru terletak pada kemampuan berhenti menghukum diri dan memberi ruang untuk bertumbuh.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa reflektif, tenang, dan perlahan mengarah pada kelegaan. Dari pengakuan kesalahan hingga kesiapan untuk melanjutkan perjalanan hidup, suasana bergerak dari rasa bersalah menuju penerimaan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya memaafkan diri sendiri sebagai bagian dari proses hidup. Manusia tidak harus terus terjebak pada versi lama dirinya. Dengan berhenti menghukum diri, seseorang dapat bertahan dan melangkah maju dengan lebih jujur dan kuat.
Puisi "Memaafkan Diri Pelan-Pelan" adalah puisi yang lembut namun kuat secara emosional. Aprianus Gregorian Bahtera menghadirkan pesan bahwa penyembuhan tidak selalu membutuhkan perayaan atau pengakuan besar—cukup keberanian untuk memahami diri, memaafkan kesalahan, dan melanjutkan perjalanan hidup dengan versi diri yang lebih manusiawi.