Analisis Puisi:
Puisi "Membaca Wajah Cinta" karya Dimas Arika Mihardja menampilkan perenungan yang padat dan simbolik tentang cinta, bahasa, dan spiritualitas. Dengan larik-larik singkat dan metaforis, puisi ini mempertemukan aktivitas “membaca” dengan upaya memahami makna cinta melalui kata, perilaku, dan pengalaman batin.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian makna cinta melalui bahasa dan laku spiritual. Cinta tidak dipahami sebagai perasaan semata, melainkan sebagai sesuatu yang dibaca, dieja, dan dihayati dalam berbagai bentuk kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berusaha “mengeja” wajah cinta melalui berbagai kategori bahasa: kata sifat, kata benda, dan kata kerja. Pencarian itu berlangsung melalui tabiat, berhala, dan karya, hingga akhirnya bermuara pada pengenalan isyarat cinta dalam ayat-ayat, yang bernuansa religius.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa cinta sejati tidak cukup dipahami lewat definisi linguistik atau simbol duniawi semata. Ia menuntut penghayatan batin dan kesadaran spiritual. Sajadah yang menghitam dan basah menandakan laku ibadah yang intens, sementara kegelisahan batin menjadi bagian dari proses mendekatkan diri pada makna cinta yang hakiki.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa khusyuk dan kontemplatif. Ada kegelisahan, tetapi juga kesungguhan dalam pencarian, sehingga nuansa spiritual dan reflektif sangat dominan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyiratkan amanat bahwa cinta dapat dibaca dan dikenali melalui sikap hidup, perbuatan, dan hubungan manusia dengan Yang Ilahi. Bahasa, karya, dan ibadah menjadi jalan untuk memahami cinta secara lebih utuh dan mendalam.
Puisi "Membaca Wajah Cinta" merupakan puisi reflektif yang memadukan bahasa, etika, dan spiritualitas. Dimas Arika Mihardja menghadirkan cinta sebagai teks kehidupan yang harus dibaca dengan kesadaran batin, laku nyata, dan kedekatan pada nilai-nilai transendental.
Karya: Dimas Arika Mihardja
