Puisi: Mengulur Tangan (Karya Mohammad Diponegoro)

Puisi “Mengulur Tangan” karya Mohammad Diponegoro bercerita tentang golongan pendusta agama, yaitu mereka yang secara lahiriah menjalankan ritual ...
Mengulur Tangan
(Puitisasi terjemahan al-Qur’an: Al-Ma'un)

Pernahkah kautahu siapa pendusta agama?
Merekalah yang mengusir anak-anak yatim
Dan enggan berbagi makan dengan si miskin

Maka celakalah yang mendirikan sembahyang
Tapi melengahkan arti-maknanya
Mereka berbuat semata ingin dilihat
Dan enggan mengulur tangan

Sumber: Kabar dari Langit (1988)

Analisis Puisi:

Puisi “Mengulur Tangan” karya Mohammad Diponegoro merupakan bentuk puitisasi dari pesan moral Surah Al-Ma’un dalam Al-Qur’an. Melalui larik-larik yang ringkas, tegas, dan langsung, puisi ini menampilkan kritik sosial dan keagamaan yang tajam. Penyair tidak sekadar menerjemahkan makna ayat, melainkan mengolahnya menjadi bahasa puisi yang komunikatif sekaligus menggugah kesadaran etis pembaca.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kepalsuan keberagamaan dan ketimpangan sosial. Puisi menyoroti perilaku manusia yang mengaku beriman dan beribadah, tetapi abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan, khususnya kepedulian kepada anak yatim dan kaum miskin.

Puisi ini bercerita tentang golongan pendusta agama, yaitu mereka yang secara lahiriah menjalankan ritual ibadah, namun menolak berbagi dan menutup mata terhadap penderitaan sosial. Penyair menegaskan bahwa keimanan tidak cukup diukur dari sembahyang, tetapi harus tercermin dalam tindakan nyata, terutama kesediaan untuk “mengulur tangan”.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik keras terhadap formalisme agama. Ibadah yang dilakukan tanpa pemahaman dan empati sosial dipandang kosong dan bahkan berbahaya. Puisi ini juga menyiratkan bahwa inti ajaran agama terletak pada keberpihakan kepada yang lemah, bukan pada pencitraan kesalehan.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana peringatan dan kecaman moral. Nada yang digunakan bersifat menghakimi, namun bukan untuk meniadakan harapan, melainkan untuk menggugah kesadaran dan refleksi diri pembaca.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk memaknai agama secara utuh. Ibadah harus disertai kepedulian sosial, keikhlasan, dan tindakan nyata membantu sesama. Tanpa itu semua, agama kehilangan ruh dan maknanya.

Puisi “Mengulur Tangan” karya Mohammad Diponegoro berhasil menjembatani teks suci dengan realitas sosial melalui bahasa puisi yang jernih dan tajam. Sebagai puitisasi Surah Al-Ma’un, puisi ini menegaskan bahwa agama bukan sekadar ritual, melainkan tanggung jawab moral terhadap sesama. Dengan kesederhanaan bahasanya, puisi ini justru tampil kuat sebagai pengingat bahwa keimanan sejati selalu berpihak pada kemanusiaan.

Puisi: Mengulur Tangan
Puisi: Mengulur Tangan
Karya: Mohammad Diponegoro

Biodata Mohammad Diponegoro:
  • Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, pada tanggal 28 Juni 1928.
  • Mohammad Diponegoro meninggal dunia di Yogyakarta, pada tanggal 9 Mei 1982 (pada usia 53 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.