Puisi: Merpati (Karya Piek Ardijanto Soeprijadi)

Puisi "Merpati" karya Piek Ardijanto Soeprijadi mengajak pembaca untuk terus menjaga dan menyebarkan pesan kemanusiaan, kemerdekaan, dan kedamaian ...
Merpati

kulepas sepasang merpati putih
tenang melayang memadu kasih
di atas tanah cerah laut membuih
terbanglah sekuat sayap
berkopaklah pantang hinggap

merpatiku putih sepasang
jelajahlah sawang
mengedari jagat melayang
menyebar amanat
tuntutan kemajuan umat

oi merpatiku yang berkasihan sepasang
berkopak hasratkan kemerdekaan
melayang hasratkan kedamaian
edarilah dunia dengan berita kemanusiaan
bulan telah diinjak insan

Sumber: Horison (November, 1971)

Analisis Puisi:

Puisi "Merpati" karya Piek Ardijanto Soeprijadi menampilkan ungkapan harapan dan cita-cita kemanusiaan melalui simbol yang sederhana namun kuat: sepasang merpati putih. Puisi ini bergerak dalam nada optimistis, penuh keyakinan, dan mengandung semangat universal tentang kemerdekaan, kedamaian, serta kemajuan umat manusia. Dengan bahasa yang jernih dan ritme yang teratur, penyair menjadikan burung merpati sebagai medium penyampai amanat moral dan sosial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah harapan akan kedamaian, kemerdekaan, dan kemajuan umat manusia. Puisi ini juga memuat tema cinta universal, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral untuk menyebarkan nilai-nilai luhur ke seluruh penjuru dunia. Merpati putih menjadi lambang cita-cita ideal yang ingin diwujudkan bersama.

Puisi ini bercerita tentang pelepasan sepasang merpati putih ke angkasa. Penyair melepas burung-burung tersebut dengan doa dan harapan agar mereka terbang jauh, menjelajah dunia, dan menyebarkan pesan kemanusiaan. Merpati digambarkan melayang di atas laut dan tanah cerah, terbang tanpa ragu, pantang hinggap, seolah membawa misi yang harus dituntaskan.

Di bait-bait berikutnya, merpati tidak lagi sekadar burung, melainkan utusan yang membawa amanat: tuntutan kemajuan umat, hasrat akan kemerdekaan, dan kerinduan pada kedamaian dunia, bahkan di tengah kemajuan peradaban manusia yang telah “menginjak bulan”.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kerinduan manusia akan dunia yang lebih beradab, damai, dan manusiawi di tengah kemajuan teknologi. Meskipun manusia telah mencapai pencapaian besar secara ilmiah dan teknologis, nilai-nilai kemanusiaan tetap harus disebarkan dan dijaga.

Pelepasan merpati menyiratkan kepercayaan pada kekuatan pesan moral dan cinta kasih yang mampu melampaui batas geografis, ideologis, dan politik. Merpati menjadi simbol harapan yang dilepaskan dengan keyakinan, bukan dengan paksaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa tenang, optimistis, dan penuh harapan. Nuansa kedamaian muncul sejak bait awal melalui gambaran merpati putih yang melayang lembut. Seiring puisi berjalan, suasana berkembang menjadi lebih idealistis dan visioner, menandai keyakinan akan kemungkinan dunia yang lebih baik.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk terus memperjuangkan kemanusiaan, kedamaian, dan kemerdekaan. Puisi ini menegaskan bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian teknologi, tetapi juga dari seberapa jauh nilai kemanusiaan disebarkan dan diwujudkan.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan tentang keberanian untuk bermimpi dan menyebarkan harapan, meskipun dunia telah mengalami banyak perubahan dan tantangan.

Puisi "Merpati" karya Piek Ardijanto Soeprijadi adalah sajak yang menyuarakan optimisme dan keyakinan akan nilai-nilai luhur manusia. Melalui simbol sederhana sepasang merpati putih, puisi ini mengajak pembaca untuk terus menjaga dan menyebarkan pesan kemanusiaan, kemerdekaan, dan kedamaian di tengah dunia yang terus berubah.

Puisi: Merpati
Puisi: Merpati
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi

Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
  • Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.
© Sepenuhnya. All rights reserved.