Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Namamu Bukan di Sungai dan di Tanah (Karya Deni Puja Pranata)

Puisi "Namamu Bukan di Sungai dan di Tanah" karya Deni Puja Pranata bercerita tentang upaya seseorang untuk menghapus nama seseorang dari ingatan.
Namamu Bukan di Sungai dan di Tanah

Telah kutenggelamkan namamu di deras sungai
bersama sepi dari sepotong sisa amis kenangan
biar arus jeram menyeret namamu ke hulu-hulu
tanpa tepian. Dari segala waktu yang ada, debur
arus sungai membentur batu-batu ribuan tahun
yang mengendap dan dimuntahkanlah namamu
ke cerobong ingatan. Namamu tak diterima sungai

Lalu aku bakar namamu bersama reranting sayup
yang berserak di halaman. Abunya aku tabur diatas
tanah basah dekat pepohonan pisang, januari, beberapa
hari kemudian, pohon pisang tumbuh, dan lembaran-
lembaran daunnya ada ejaan bertuliskan namamu

Tanah dan sungai adalah saksi dimana jalan namamu
bukan di sungai atau di tanah, namamu untuk aku telan
dengan gerobak puisi untuk menjadi abadi, lalu kurajam
namamu dengan bongkahan besi yang menimbun namamu
dalam hati. Namamu bukan di sungai dan di tanah tanah.

Madura, 2014

Analisis Puisi:

Puisi "Namamu Bukan di Sungai dan di Tanah" karya Deni Puja Pranata menghadirkan pergulatan batin yang intens tentang ingatan, usaha melupakan, dan paradoks keabadian cinta atau luka. Melalui citraan alam seperti sungai, tanah, api, dan tanaman, penyair menampilkan proses simbolik untuk menghapus sebuah nama dari dunia luar, namun justru menemukan bahwa ingatan tidak dapat dimusnahkan begitu saja. Puisi ini bergerak dalam ketegangan antara keinginan melupakan dan kenyataan bahwa kenangan terus hidup dalam batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan melupakan dan mengabadikan ingatan secara bersamaan. Puisi ini juga mengusung tema kehilangan, luka batin, serta relasi manusia dengan memori yang tak pernah benar-benar lenyap meskipun telah dicoba dihancurkan melalui berbagai cara.

Puisi ini bercerita tentang upaya seseorang untuk menghapus nama seseorang dari ingatan. Nama itu ditenggelamkan ke sungai deras agar terbawa arus tanpa tepi, namun justru dimuntahkan kembali ke cerobong ingatan. Kemudian nama itu dibakar dan abunya ditabur ke tanah basah, tetapi dari tanah tersebut justru tumbuh pohon pisang dengan daun-daun yang kembali “mengeja” nama itu.

Pada bagian akhir, penyair menyadari bahwa sungai dan tanah tidak mampu menerima nama tersebut. Maka, satu-satunya tempat yang mungkin adalah di dalam diri: ditelan, dirajam, dan ditimbun dalam hati melalui puisi, agar menjadi abadi dalam ruang batin.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ketidakmungkinan menghapus kenangan yang telah menyatu dengan batin. Usaha menenggelamkan dan membakar nama melambangkan keinginan melupakan secara total, namun alam justru memantulkan kembali ingatan tersebut. Sungai dan tanah, yang biasanya menjadi simbol peluruh dan penerima, menolak nama itu.

Puisi ini menyiratkan bahwa ingatan paling kuat bukanlah yang disimpan di luar diri, melainkan yang dipendam di dalam hati. Dengan menjadikannya puisi, penyair memilih cara yang paling manusiawi: mengabadikan luka agar dapat diterima, bukan disangkal.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa kelam, getir, dan intens secara emosional. Nada puisi sarat dengan kelelahan batin, kemarahan yang tertahan, serta kepasrahan yang pahit. Meski demikian, terdapat pula nuansa reflektif yang dalam ketika penyair menyadari tempat sejati ingatan itu berada.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk jujur pada perasaan dan menerima keberadaan ingatan, alih-alih memaksakan diri untuk melupakan. Puisi ini mengingatkan bahwa beberapa nama, pengalaman, atau luka tidak bisa dihapus, tetapi dapat diolah menjadi sesuatu yang bermakna melalui kesadaran dan ekspresi.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa puisi dan bahasa memiliki kekuatan untuk menampung apa yang tidak sanggup ditanggung oleh alam sekalipun.

Puisi "Namamu Bukan di Sungai dan di Tanah" karya Deni Puja Pranata merupakan sajak reflektif yang kuat secara imaji dan emosional. Puisi ini menegaskan bahwa ingatan tidak selalu bisa dilenyapkan oleh waktu atau alam, melainkan harus dihadapi dan diterima sebagai bagian dari diri—dan puisi menjadi ruang terakhir sekaligus abadi bagi nama yang tak menemukan tempat di mana pun selain di hati.

"Deni Puja Pranata"
Puisi: Namamu Bukan di Sungai dan di Tanah
Karya: Deni Puja Pranata
© Sepenuhnya. All rights reserved.