Puisi: Nelayan Pesisir (Karya Abimardha Kurniawan)

Puisi "Nelayan Pesisir" karya Abimardha Kurniawan bercerita tentang seorang nelayan yang mencari ikan di pesisir dengan segala keterbatasannya.

Nelayan Pesisir

(1)
hanya sebentuk lekuk di air pasang
yang mampu menjelma tanda
bagi kebangkitanku.

sekarang ataupun nanti, teramat rindu aku
memeluk setiap geliat dan rasa taklukmu.

ladang laut memberiku sunyi.
kepadanya, sebaris siul kuhantarkan
— menjemputmu, duhai kekasih,
demi lapar nan seru di lambung anakku.

tanpa berbekal sampan,
langkahku berayun penuh tarian,
menjejak, mengiris sepi di garis pesisir.

duhai ikan, gerakmu centang perenang,
berduyunlah lekas kau ke jala lengang!

(2)
biarlah kuraba alamatmu
pada pantai berlumpur gembur itu.
sebab di situ, nasibku kelak beralamat.

biarlah kuburu segala gerak kecipakmu.
sebab aku tahu,
takdirku selaras permainanmu.

aduh, suluhku tak sebanding sinaran bulan,
tak kuasa mengangkat pasang ke pelabuhan.
aduh, kakiku semakin lesak dan tertanam,
tapi kau selalu lari, sembunyi di liang diam.
 
ya, hidup ini sebatas petak umpet, sayang.
di sini, di gigir pesisir senja ini,
bahasa kita hanya sebatas kalah dan menang.

(3)
angin berhantu dari teluk sepasang,
kelak akan berhembus, menggetarkan senar jala.

wahai sirip takdir, teruslah mengayuh.
bujuklah si ikan lena, berenang menuju jala.

ombak bergalur dari laut timur,
kelak bergulung,
menjamah dinding dan lunas sampan.

wahai arus yang kerap, teruslah merayap.
bawalah si ikan lena, agar lekas ia kutangkap.

aduh, tak mahir aku menyela sakal.
berayun sampanku
ditimang si ombak nakal.

nanti, kalau nasibku berujung sial,
oh tangis anakku pasti kian menebal.

Surabaya, 2015

Analisis Puisi:

Puisi "Nelayan Pesisir" karya Abimardha Kurniawan menghadirkan potret kehidupan nelayan kecil yang bertumpu sepenuhnya pada laut, cuaca, dan nasib. Melalui bahasa puitik yang kaya citraan dan metafora, penyair mengajak pembaca menyelami keseharian nelayan yang penuh harap, rindu, sekaligus kecemasan. Laut bukan sekadar ruang kerja, melainkan medan takdir tempat hidup dipertaruhkan.

Tema

Tema puisi ini adalah perjuangan hidup nelayan pesisir dalam menghadapi alam dan ketidakpastian nasib. Laut digambarkan sebagai ladang penghidupan yang memberi sunyi, harap, dan ancaman sekaligus.

Puisi ini bercerita tentang seorang nelayan yang mencari ikan di pesisir dengan segala keterbatasannya. Ia menanti tanda-tanda alam, meraba lumpur pantai, membaca gerak ikan, serta berdoa kepada angin, ombak, dan arus agar berpihak padanya. Semua usaha itu dilakukan demi keluarga—terutama demi mengisi “lapar nan seru di lambung anakku”.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kehidupan nelayan adalah permainan antara usaha dan nasib. Nelayan berjuang keras, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada kehendak alam. Ungkapan “hidup ini sebatas petak umpet” menyiratkan bahwa hidup adalah proses mencari dan dikejar oleh nasib, dengan kemungkinan kalah dan menang yang sama besar.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana sunyi, lirih, dan penuh harap yang bercampur dengan kecemasan. Ada keintiman antara nelayan dan laut, tetapi juga ketegangan menghadapi ombak, arus, dan kemungkinan kegagalan yang berujung pada tangis anak di rumah.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah penghargaan terhadap kerja keras nelayan kecil yang hidupnya sangat bergantung pada alam. Puisi ini juga mengingatkan bahwa di balik ikan di meja makan, ada perjuangan, doa, dan kecemasan orang-orang pesisir yang kerap luput dari perhatian.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, antara lain:
  • Imaji visual: “lekuk di air pasang”, “garis pesisir”, “pantai berlumpur gembur”, “ombak bergalur”.
  • Imaji gerak: “gerakmu centang perenang”, “berduyunlah lekas”, “ombak bergulung”.
  • Imaji pendengaran: “sebaris siul kuhantarkan”, “menggetarkan senar jala”.
Imaji-imaji ini membuat pengalaman nelayan terasa hidup dan dekat dengan pembaca.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, seperti “ladang laut”, “sirip takdir”, dan “bahasa kita hanya sebatas kalah dan menang”.
  • Personifikasi, pada angin, ombak, dan arus yang diajak bicara serta diminta membantu.
  • Apostrof, ketika penyair menyapa langsung ikan, angin, dan arus.
  • Repetisi, pada kata “biarlah” dan “wahai” yang menegaskan nada doa dan permohonan.
Puisi "Nelayan Pesisir" karya Abimardha Kurniawan bukan sekadar catatan tentang profesi nelayan, melainkan refleksi tentang kehidupan manusia yang menggantungkan hidup pada alam dan takdir. Dengan bahasa yang lembut namun getir, puisi ini menghadirkan suara pesisir yang sunyi, penuh harap, dan sarat perjuangan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Nelayan Pesisir
Karya: Abimardha Kurniawan

Biodata Abimardha Kurniawan:
  • Abimardha Kurniawan lahir pada tanggal 26 Maret 1986 di kampung Pandegiling, Surabaya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.