Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pantun (Karya Korrie Layun Rampan)

Puisi “Pantun” karya Korrie Layun Rampan bercerita tentang perjalanan batin manusia yang mempertanyakan tempat jiwa (sukma) di tengah perubahan zaman.

Pantun


Segamang-Mu kah lagu
Tergantung di cakrawala merah
Serawan-Mu kah ujung sedu
Pecah di hati melayah

Singgah di manakah Sukma
Istirah menuju Keabadian
Meludah wajah bumi tua
Memadam bakaran Zaman

Tinggal keasingan purba
Karib mengukur diri
Rawan-Mu menyalib Kata
Membaca 1000 ayat para Nabi

1976

Sumber: Suara Kesunyian (1981)

Analisis Puisi:

Puisi “Pantun” karya Korrie Layun Rampan menampilkan kepadatan bahasa yang khas: simbolik, reflektif, dan sarat nuansa spiritual. Meski berjudul Pantun, puisi ini tidak mengikuti struktur pantun tradisional secara formal, melainkan menghadirkan semangat pantun sebagai lompatan makna, permainan bunyi, dan kerapatan metafora. Puisi ini bergerak di wilayah perenungan eksistensial manusia—tentang jiwa, zaman, kata, dan relasinya dengan keabadian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pergulatan sukma manusia dengan waktu, bahasa, dan nilai-nilai keabadian.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin manusia yang mempertanyakan tempat jiwa (sukma) di tengah perubahan zaman. Penyair menghadirkan gambaran tentang kegelisahan, keterasingan, dan usaha memahami makna hidup melalui kata, iman, dan perenungan terhadap sejarah serta ajaran para nabi.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa manusia modern hidup dalam ketegangan antara warisan spiritual dan kenyataan zaman yang membakar, mengikis, bahkan menyalib makna kata. Bahasa tidak lagi netral; ia menjadi medan konflik antara kesucian dan kerusakan, antara keabadian dan kefanaan. Pertanyaan-pertanyaan dalam puisi mencerminkan kegelisahan eksistensial yang tak kunjung selesai.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana yang muram, kontemplatif, dan penuh kegelisahan batin. Warna merah cakrawala, sedu yang pecah, serta citraan bumi tua menghadirkan nuansa getir dan berat, seolah pembaca diajak masuk ke ruang renung yang sunyi namun tegang.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk merenungi kembali posisi manusia, bahasa, dan iman di tengah zaman yang terus berubah. Penyair seakan mengingatkan bahwa di balik kemajuan dan kegaduhan zaman, manusia tetap harus mengukur diri, menjaga kata, dan membaca kembali nilai-nilai spiritual sebagai penopang makna hidup.

Puisi “Pantun” karya Korrie Layun Rampan adalah karya yang menuntut pembacaan perlahan dan reflektif. Kepadatan metafora dan simbol spiritual menjadikan puisi ini bukan sekadar permainan bahasa, melainkan ruang kontemplasi tentang makna hidup, peran kata, dan nasib sukma manusia di tengah zaman yang terus membara. Puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, mengukur diri, dan kembali membaca makna—bukan hanya teks, tetapi juga kehidupan.

Korrie Layun Rampan
Puisi: Pantun
Karya: Korrie Layun Rampan

Biodata Korrie Layun Rampan:
  • Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
  • Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
  • Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.