Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Refleksi di Sore Hari (Karya I Nyoman Wirata)

Puisi “Refleksi di Sore Hari” karya I Nyoman Wirata bercerita tentang hubungan simbolik antara langit dan bumi sebagai metafora cinta semesta, lalu ..
Refleksi di Sore Hari

Langit jatuh cinta
Lewat hujan mengirim surat
ke alamat kekasihnya
Bernama bumi
Dan hari ini
Hasratnya berupa cahaya
Dikirim via pagi
Bermata hari bermata hati

Langit jatuh cinta
Lewat hujan mewarnai peristiwa
Lalu warna-warni bunga
Hasrat menjadi sesaji
Hati jatuh cinta pada langit

Langit jatuh cinta
Mengirim hasrat
Membangkitkan sepi
Membanjir luka
Dan luka jatuh cinta pada puisi
Berwarna merah hati
Berwarna hitam kelam

Lalu indah itu entah siapa yang mengatakan

Aku
Jatuh cinta
Pada warna

Sekali waktu aku
Hitam
Sekali waktu
Belang
Melata mengikuti naluri 
Dengan lidah bercabang
Meracuni 
Mengular menganak sungai
Mendedahkan kepalsuan
Membusanai
Memahkotai kebiadaban.

16/03/2018

Analisis Puisi:

Puisi “Refleksi di Sore Hari” karya I Nyoman Wirata menghadirkan perenungan mendalam tentang cinta, alam, dan sisi gelap manusia. Melalui metafora langit, hujan, warna, dan citra-citra tubuh simbolik, penyair mengajak pembaca menelusuri perubahan rasa—dari keindahan hingga kebiadaban—dalam satu tarikan kesadaran.

Tema

Tema utama puisi ini adalah refleksi tentang cinta dan kontradiksi batin manusia. Cinta tidak hanya dimaknai sebagai keindahan dan cahaya, tetapi juga sebagai luka, sepi, dan kegelapan yang lahir dari naluri terdalam manusia.

Puisi ini bercerita tentang hubungan simbolik antara langit dan bumi sebagai metafora cinta semesta, lalu bergerak ke pengalaman personal penyair yang jatuh cinta pada “warna”. Warna-warna tersebut menjadi penanda perubahan batin: dari terang menuju gelap, dari keindahan menuju kebiadaban.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa cinta dan keindahan tidak pernah tunggal. Di balik cahaya dan warna-warni, tersimpan potensi luka, kepalsuan, dan kekerasan naluriah. Refleksi sore hari menjadi momen kesadaran akan ambiguitas tersebut—bahwa manusia mampu mencintai sekaligus merusak.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi bergerak dinamis: bermula lirih, puitis, dan kontemplatif, lalu berangsur menjadi gelap, getir, dan mengganggu. Perubahan suasana ini sejalan dengan pergeseran dari gambaran alam yang indah menuju pengakuan jujur tentang sisi liar manusia.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari dan mengakui dualitas dalam diri manusia. Cinta tidak selalu suci; ia bisa menjadi sumber luka dan kebiadaban jika tidak disertai kesadaran dan pengendalian diri.

Puisi “Refleksi di Sore Hari” karya I Nyoman Wirata merupakan perenungan puitik yang tajam tentang cinta dan kemanusiaan. Dengan memadukan keindahan alam dan pengakuan gelap, puisi ini mengajak pembaca menatap diri sendiri: bahwa dalam cinta dan keindahan, selalu ada bayangan naluri yang menuntut untuk dikenali dan direnungkan.

I Nyoman Wirata
Puisi: Refleksi di Sore Hari
Karya: I Nyoman Wirata
© Sepenuhnya. All rights reserved.