Analisis Puisi:
Puisi “Refleksi di Sore Hari” karya I Nyoman Wirata menghadirkan perenungan mendalam tentang cinta, alam, dan sisi gelap manusia. Melalui metafora langit, hujan, warna, dan citra-citra tubuh simbolik, penyair mengajak pembaca menelusuri perubahan rasa—dari keindahan hingga kebiadaban—dalam satu tarikan kesadaran.
Tema
Tema utama puisi ini adalah refleksi tentang cinta dan kontradiksi batin manusia. Cinta tidak hanya dimaknai sebagai keindahan dan cahaya, tetapi juga sebagai luka, sepi, dan kegelapan yang lahir dari naluri terdalam manusia.
Puisi ini bercerita tentang hubungan simbolik antara langit dan bumi sebagai metafora cinta semesta, lalu bergerak ke pengalaman personal penyair yang jatuh cinta pada “warna”. Warna-warna tersebut menjadi penanda perubahan batin: dari terang menuju gelap, dari keindahan menuju kebiadaban.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa cinta dan keindahan tidak pernah tunggal. Di balik cahaya dan warna-warni, tersimpan potensi luka, kepalsuan, dan kekerasan naluriah. Refleksi sore hari menjadi momen kesadaran akan ambiguitas tersebut—bahwa manusia mampu mencintai sekaligus merusak.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi bergerak dinamis: bermula lirih, puitis, dan kontemplatif, lalu berangsur menjadi gelap, getir, dan mengganggu. Perubahan suasana ini sejalan dengan pergeseran dari gambaran alam yang indah menuju pengakuan jujur tentang sisi liar manusia.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari dan mengakui dualitas dalam diri manusia. Cinta tidak selalu suci; ia bisa menjadi sumber luka dan kebiadaban jika tidak disertai kesadaran dan pengendalian diri.
Puisi “Refleksi di Sore Hari” karya I Nyoman Wirata merupakan perenungan puitik yang tajam tentang cinta dan kemanusiaan. Dengan memadukan keindahan alam dan pengakuan gelap, puisi ini mengajak pembaca menatap diri sendiri: bahwa dalam cinta dan keindahan, selalu ada bayangan naluri yang menuntut untuk dikenali dan direnungkan.