Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sejoli Burung Dara (Karya Yudhistira A.N.M. Massardi)

Puisi “Sejoli Burung Dara” menghadirkan kisah tentang cinta, keterikatan, pengorbanan, dan konsekuensi kehidupan yang terus bergerak, bahkan ketika ..
Sejoli Burung Dara

Sejoli burung dara: tak terbang lagi
Sayapnya terkunci. Jagungnya habis
Mereka bercinta. Paruhnya luka
Kini anaknya. Terbang sendiri
Jatuh di rimba. Tak pergi lagi

Sumber: Horison (September, 1976)

Analisis Puisi:

Puisi “Sejoli Burung Dara” merupakan puisi pendek yang padat dan sugestif. Dalam ruang kata yang sangat terbatas, penyair menghadirkan kisah tentang cinta, keterikatan, pengorbanan, dan konsekuensi kehidupan yang terus bergerak, bahkan ketika cinta itu sendiri telah berhenti.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta dan pengorbanan yang berujung pada keterhentian, serta siklus kehidupan yang memaksa generasi berikutnya berjalan sendiri. Cinta digambarkan bukan sebagai kebebasan, melainkan sebagai sesuatu yang dapat mengikat dan melelahkan.

Puisi ini bercerita tentang sepasang burung dara yang tidak lagi terbang. Sayap mereka terkunci, sumber makanan telah habis, dan cinta yang mereka jalani justru meninggalkan luka. Sementara itu, anak burung mereka harus terbang sendiri, jatuh ke rimba, dan akhirnya juga mengalami keterhentian. Kisah ini bergerak dari pasangan menuju keturunan, dari kebersamaan menuju kesendirian.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat dibaca sebagai refleksi tentang cinta yang menguras, hubungan yang terlalu melekat hingga melumpuhkan, serta kenyataan bahwa generasi penerus kerap menanggung akibat dari pilihan generasi sebelumnya. Burung dara, simbol kesetiaan, justru ditampilkan dalam kondisi tragis—tidak lagi bebas, tidak lagi berdaya.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana muram dan tragis. Larik-larik pendek dengan pernyataan langsung menciptakan kesan dingin, sunyi, dan tak terelakkan, seolah semua yang terjadi adalah takdir yang tak bisa dilawan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyiratkan amanat bahwa cinta dan keterikatan yang berlebihan dapat berubah menjadi belenggu. Selain itu, kehidupan menuntut kemandirian; anak pada akhirnya harus terbang sendiri, meskipun dunia yang dihadapi keras dan penuh risiko.

Puisi “Sejoli Burung Dara” menunjukkan kepiawaian Yudhistira A.N.M. Massardi dalam memadatkan tragedi kehidupan ke dalam larik-larik minimalis. Dengan simbol burung dara, puisi ini mengajak pembaca merenungkan cinta, kebebasan, dan nasib generasi yang lahir dari hubungan yang rapuh namun penuh pengorbanan.

Yudhistira ANM Massardi
Puisi: Sejoli Burung Dara
Karya: Yudhistira A.N.M. Massardi

Biodata Yudhistira A.N.M. Massardi:
  • Yudhistira A.N.M. Massardi (nama lengkap Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi) lahir pada tanggal 28 Februari 1954 di Karanganyar, Subang, Jawa Barat.
  • Yudhistira A.N.M. Massardi dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980-1990-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.