Puisi: Sekitar Pasar Kembang (Karya Badjuri Doellah Joesro)

Puisi "Sekitar Pasar Kembang" karya Badjuri Doellah Joesro bercerita tentang seseorang yang menyaksikan dan merasakan perputaran nasib di sebuah ...
Sekitar Pasar Kembang

Aku tak bicara tentang angin
Dan wangi serta cekikikan malam.

Tapi selalu nasib yang berputar
Bagai kitiran lepas.

Gerimis tangismu sudah kau tumpahkan
Bila sejak pagi, sisa hidup
Tak sejumput pun kau resapi dalam-dalam

Mengoceh tidurku, tanpa tanyamu.

Kau tersenyum, sepanjang jalan ini
Sepanjang hari ini
Sepanjang hasta terbagi
Sepanjang malam tersisih

Tak satu pun kita melihatnya,

Dari sebuah ampunan dosa,
Kita berlari dalam ujung simpul
Yang tak mungkin lepas di alam bebas.

Yogyakarta, 1990

Sumber: Astana Kastawa 2 (2015)

Analisis Puisi:

Puisi "Sekitar Pasar Kembang" karya Badjuri Doellah Joesro menghadirkan potret batin yang muram dan getir tentang kehidupan manusia di ruang-ruang marjinal kota. Alih-alih melukiskan suasana fisik pasar secara gamblang, penyair justru menyoroti pergulatan nasib, kesedihan, dan keterikatan yang tak terucap melalui bahasa yang simbolik dan padat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah nasib dan keterikatan manusia dalam lingkaran kehidupan yang sulit dilepaskan. Pasar Kembang hadir sebagai latar simbolik yang merepresentasikan kehidupan malam, pinggiran moral, dan realitas pahit yang terus berulang.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan dan merasakan perputaran nasib di sebuah ruang kehidupan yang keras. Ia tidak berbicara tentang hal-hal indah seperti angin atau wangi malam, melainkan tentang kehidupan yang berputar tanpa ampun, air mata yang telah ditumpahkan, dan senyum yang dipaksakan sepanjang hari dan malam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kondisi hidup yang menjerat manusia dalam situasi tanpa pilihan. Nasib digambarkan seperti “kitiran lepas” yang berputar tanpa kendali. Senyum yang terus dipertahankan menyiratkan kepura-puraan demi bertahan hidup, sementara “ujung simpul” menandakan keterikatan yang sulit dilepaskan dari sistem atau keadaan sosial tertentu.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa muram, getir, dan penuh kelelahan batin. Ada kesan pasrah, seolah para tokohnya telah terbiasa dengan kesedihan dan tidak lagi berharap pada perubahan besar.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari kerasnya kehidupan manusia di ruang-ruang yang sering diabaikan. Puisi ini mengingatkan bahwa di balik senyum dan hiruk-pikuk malam, terdapat luka, tangis, dan nasib yang berputar tanpa belas kasih.

Puisi "Sekitar Pasar Kembang" adalah puisi yang keras namun lirih dalam menyuarakan realitas hidup manusia di pinggiran. Badjuri Doellah Joesro berhasil menyampaikan kritik sosial dan empati melalui bahasa simbolik, menghadirkan potret kehidupan yang berputar dalam simpul nasib yang sulit dilepaskan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Sekitar Pasar Kembang
Karya: Badjuri Doellah Joesro
© Sepenuhnya. All rights reserved.