Puisi: Seraut Wajah Berbingkai Darah (Karya Joshua Igho)

Puisi “Seraut Wajah Berbingkai Darah” karya Joshua Igho bercerita tentang sebuah potret wajah korban kekerasan yang tergantung di dinding kusam, ...
Seraut Wajah Berbingkai Darah

Seraut wajah berbingkai darah
tanpa tanggal dan tahun
terpajang di dinding kusam
mulutnya terkunci popor senapan
tapi sorot matanya
seperti hendak bercerita
tentang nama-nama
yang menganiayanya

Debu sejarah telah mengelupaskan
jejak-jejak yang pernah dilakoninya
angin segala musim
telah mengaburkan namanya
tapi suatu saat, kelak, entah kapan
waktu yang akan bertutur
tentang semuanya.

2017

Analisis Puisi:

Puisi “Seraut Wajah Berbingkai Darah” karya Joshua Igho merupakan puisi bernuansa historis dan politis yang kuat. Melalui citra sebuah wajah yang terpajang di dinding kusam, penyair menghadirkan kesunyian korban kekerasan yang dilupakan sejarah. Puisi ini tidak hanya merekam luka fisik, tetapi juga luka ingatan kolektif—tentang mereka yang disenyapkan, dihapus, dan tak pernah diberi ruang untuk bersuara.

Bahasa yang digunakan padat, simbolik, dan sarat citraan visual, membuat puisi ini terasa seperti monumen sunyi bagi korban ketidakadilan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekerasan, penindasan, dan penghapusan sejarah korban. Puisi ini juga mengangkat tema ingatan kolektif, ketidakadilan, serta harapan akan kebenaran yang suatu hari akan terungkap. Wajah yang “berbingkai darah” menjadi simbol kuat tentang tragedi yang tidak selesai.

Puisi ini bercerita tentang sebuah potret wajah korban kekerasan yang tergantung di dinding kusam, tanpa penanda waktu yang jelas. Korban tersebut tidak dapat berbicara karena mulutnya “terkunci popor senapan”, namun matanya masih menyimpan kisah tentang para pelaku yang menganiayanya.

Meski sejarah berusaha menghapus jejak dan nama korban, penyair menegaskan bahwa waktu kelak akan berbicara dan membuka kembali kebenaran yang tertutup.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap sejarah resmi yang sering menyingkirkan suara korban. “Tanpa tanggal dan tahun” menyiratkan upaya pengaburan fakta, sementara “debu sejarah” melambangkan pelapukan ingatan yang disengaja.

Puisi ini juga menyiratkan keyakinan bahwa kebenaran tidak bisa sepenuhnya dikubur. Sekalipun nama dihapus dan jejak dilenyapkan, waktu akan menjadi saksi yang tak bisa dibungkam.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, menekan, dan penuh duka. Ada kesan sunyi yang panjang, seolah pembaca berdiri di hadapan potret korban yang ingin berbicara tetapi dipaksa diam. Nuansa ini memperkuat rasa keadilan yang tertunda.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya menjaga ingatan terhadap korban kekerasan dan penindasan. Puisi ini mengingatkan bahwa melupakan sejarah berarti mengkhianati mereka yang pernah menjadi korban.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa kebenaran memiliki waktunya sendiri untuk muncul, meski harus menunggu lama.

Puisi “Seraut Wajah Berbingkai Darah” karya Joshua Igho merupakan puisi perlawanan yang tenang namun menghantam. Dengan menghadirkan wajah korban yang dibisukan, penyair mengajak pembaca untuk menolak lupa dan menunggu dengan waspada saat kebenaran akhirnya berbicara. Puisi ini menegaskan bahwa sejarah bukan hanya milik pemenang, tetapi juga milik mereka yang darah dan namanya berusaha dihapus dari ingatan.

"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Seraut Wajah Berbingkai Darah
Karya: Joshua Igho
© Sepenuhnya. All rights reserved.