Tak Ada Tidur Sekalipun Hari Libur
Hari libur ini sama saja tak berarti,
tak ada tidur hari ini atau nanti,
semua harus bekerja seperti semut,
seperti ayam di tempat sampah dan kerbau di sawah,
seperti sapi di depan pedati dan buaya di paya-paya.
Tak ada libur kalau ingin tidur;
truk dan kereta api mondar-mandir,
becak berjalaran lambat oleh berat;
piring dan mangkok, garpu dan sendok dicuci,
sesudah asap rokok kursi pun berganti penghuni.
Sama saja hari libur ini, tak berarti,
sebab pada hari libur ini semua kerja lembur
sampai petang
sampai penat datang
sampai datang rasa ingin pulang
sampai terasa kerja ini sia-sia dan percuma.
Liburan itu mendekat dalam perjalanan,
dalam bis kota yang berjalan pelan;
tas di pangkuan di antara lunglai tangan,
seperti cumi-cumi yang malas menggapai makanan,
seperti isyarat akan kediaman yang muktamat ...
sampai terasa kerja ini sia-sia dan percuma, sebab
bahkan untuk bercita-cita pun terasa tak pernah sempat.
1973
Sumber: Horison (Maret, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi "Tak Ada Tidur Sekalipun Hari Libur" karya Yuswadi Saliya menyoroti ironi kehidupan kelas pekerja yang nyaris tak pernah benar-benar merasakan makna libur. Melalui penggambaran aktivitas sehari-hari yang padat, monoton, dan melelahkan, penyair menghadirkan kritik sosial yang kuat tentang kerja, kelelahan, dan hilangnya ruang bagi manusia untuk beristirahat, bahkan untuk bermimpi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ironi hari libur dan keterasingan manusia dalam rutinitas kerja. Hari libur yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi kelanjutan dari beban hidup.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan orang-orang kecil yang tetap bekerja meski hari libur, tanpa kesempatan untuk tidur, beristirahat, atau sekadar merasa bebas. Aktivitas manusia, kendaraan, dan pekerjaan rumah tangga digambarkan terus berjalan tanpa henti, seolah waktu libur tidak pernah benar-benar ada.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini menunjukkan bahwa kerja yang terus-menerus dapat menggerus makna hidup manusia. Bukan hanya fisik yang lelah, tetapi juga batin yang perlahan mati. Bahkan harapan dan cita-cita terasa semakin jauh karena hidup hanya diisi oleh kewajiban bertahan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa penat, muram, dan penuh kelelahan eksistensial. Ada rasa jenuh dan putus asa yang mengendap, terutama ketika kerja digambarkan sebagai sesuatu yang “sia-sia dan percuma”.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa manusia membutuhkan ruang untuk beristirahat, merenung, dan bermimpi. Hidup yang hanya diisi kerja tanpa jeda akan menghilangkan kemanusiaan itu sendiri. Penyair seolah mengingatkan pentingnya menata ulang makna kerja dan libur dalam kehidupan.
Puisi "Tak Ada Tidur Sekalipun Hari Libur" karya Yuswadi Saliya merupakan potret getir kehidupan modern yang menempatkan manusia dalam lingkaran kerja tanpa henti. Puisi ini tidak hanya menggambarkan kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan batin, ketika bahkan waktu untuk bercita-cita pun terasa tak pernah sempat.
Biodata Yuswadi Saliya:
Juswadi Saliya lahir pada tanggal 15 Juni 1938 di Bandung. Sejak SMA ia sudah mulai menulis, mula-mula pada lembaran-lembaran remaja lalu pada majalah-majalah kebudayaan seperti Basis.
Ia tamat sebagai sarjana arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1966 dan direkrut sebagai staff di ITB pada saat itu. Kemudian mengajar Sejarah Arsitektur dan Ilmu-Ilmu Sosial. Ia mendapat gelar master dari University of Hawaii pada tahun 1975.
