Tanda
Tiap kali kita jatuh cinta
kadang menyenangkan
kadang tidak
karena yang diinginkan
juga mempunyai rasa
namun tidak menyenangkan
bila raga yang diinginkan
tak mau dimiliki
Apakah kita menyerah bila
orang yang sangat kita sukai
tidak dimiliki? dan langsung patah semangat?
seharusnya
Niat untuk mencintai dengan tulus kita itu
jika tidak jatuh pada orang yang kita sukai
maka carilah tempat lain
meski awalnya terasa berat
Dan jangan berpikir bahwa rasa yang kita miliki hanya
layak pada orang yang kita sukai atau yang kita jatuh cinta.
masih ada ruang lain
yang siap menyambut hangatnya cinta kita
Ambillah jalan lain, jangan hanya terpaku pada satu jalan yakni pada orang yang kita merasa jatuh cinta padanya...
Kupang, 13 Januari 2026 | 11.33
Analisis Puisi:
Puisi "Tanda" karya Aprianus Gregorian Bahtera merupakan sajak reflektif yang berbicara tentang pengalaman jatuh cinta secara jujur dan membumi. Dengan bahasa yang lugas dan nyaris naratif, puisi ini tidak mengidealkan cinta secara berlebihan, melainkan menempatkannya sebagai pengalaman manusiawi yang penuh kemungkinan: menyenangkan, menyakitkan, sekaligus mendewasakan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kedewasaan dalam mencintai dan menerima kenyataan cinta yang tidak selalu berbalas. Puisi ini menyoroti proses memahami cinta sebagai rasa yang perlu diarahkan dengan kesadaran, bukan sekadar keinginan memiliki.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman jatuh cinta yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tokoh "aku"—yang sekaligus mewakili suara reflektif penyair—menggambarkan bahwa cinta kadang menyenangkan, kadang tidak, terutama ketika rasa yang dimiliki tidak disambut oleh orang yang diinginkan.
Puisi ini kemudian berkembang menjadi rangkaian pertanyaan dan nasihat: apakah seseorang harus menyerah dan patah semangat ketika cintanya tidak terbalas, atau justru belajar mencari ruang lain untuk menyalurkan ketulusan cinta tersebut.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah ajakan untuk memandang cinta sebagai energi yang tidak boleh dipaksakan pada satu objek semata. Penyair menyiratkan bahwa cinta sejati tidak identik dengan kepemilikan, dan penolakan bukanlah akhir dari kemampuan seseorang untuk mencintai.
Puisi ini juga mengandung makna bahwa kegagalan cinta bukan tanda kekurangan diri, melainkan “tanda” bahwa jalan tersebut bukan tempat yang tepat untuk rasa yang dimiliki.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini cenderung tenang, reflektif, dan menenangkan, meskipun berangkat dari pengalaman pahit. Nada yang digunakan tidak meledak-ledak, melainkan seperti percakapan batin yang berusaha menguatkan diri dan pembaca.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya mencintai dengan tulus tanpa memaksa, serta keberanian untuk melangkah ke jalan lain ketika cinta tidak berbalas. Puisi ini mengajarkan bahwa rasa cinta tetap bernilai, bahkan ketika tidak menemukan tempatnya pada orang yang diinginkan.
Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa selalu ada ruang lain yang siap menerima kehangatan cinta, asalkan seseorang bersedia membuka diri dan tidak terpaku pada satu arah.
Puisi "Tanda" karya Aprianus Gregorian Bahtera adalah puisi perenungan tentang cinta yang tidak berbalas, namun tidak jatuh pada kepahitan. Dengan nada yang jujur dan membimbing, puisi ini mengajak pembaca untuk memaknai cinta secara lebih dewasa: mencintai dengan tulus, menerima kenyataan, dan berani melangkah ke jalan lain ketika diperlukan.