Analisis Puisi:
Puisi "Tanggamus" menghadirkan perjalanan batin seseorang yang berjumpa dengan jejak masa silam melalui lanskap alam dan peninggalan purba. Tanggamus tidak sekadar diposisikan sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang ingatan kolektif yang menyimpan sejarah, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan leluhur.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan pada masa lalu dan pencarian identitas melalui jejak peradaban purba. Tema tersebut berpadu dengan refleksi tentang asal-usul manusia, keterikatan pada tanah, serta kesinambungan antara yang hidup dan yang telah tiada.
Puisi ini bercerita tentang pertemuan penyair dengan “saudara masa lalu” di Tanggamus—sebuah metafora bagi leluhur atau diri purba yang pernah hidup di wilayah itu. Pertemuan tersebut terjadi melalui benda-benda arkeologis seperti dolmen, menhir, beliung, sarkopagus, dan batu-batu yang tersebar di kebun kopi serta ladang kaum tani. Penyair menempatkan dirinya sebagai “pasasir” (pengembara) yang telah lama terlunta sebelum akhirnya menemukan kembali akar sejarahnya.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran bahwa identitas manusia modern tidak terlepas dari masa silam yang kerap terlupakan. Batu-batu dan artefak purba menjadi simbol ingatan yang membeku, namun tetap menyimpan ruh kehidupan, pengorbanan, dan cinta—termasuk figur “Ibu” yang muncul sebagai sumber asal kehidupan. Puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap keterputusan manusia masa kini dari sejarah dan alamnya.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana kontemplatif, magis, dan penuh kerinduan. Nuansa sakral terasa kuat melalui penyebutan lembah keramat, danyang, memedi, hingga mantra penutup. Kesunyian alam dan dingin dinihari mempertebal suasana perenungan spiritual.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menghormati jejak leluhur dan menjaga ingatan sejarah. Manusia diajak menyadari bahwa kemajuan hari ini berdiri di atas pengorbanan dan kerja keras masa silam, sehingga hubungan dengan alam dan warisan budaya tidak seharusnya terputus.
Puisi "Tanggamus" karya Wayan Jengki Sunarta memperlihatkan kekuatan puisi sebagai medium penghubung antara masa kini dan masa lampau. Dengan bahasa yang arkais dan imaji yang kuat, puisi ini mengajak pembaca menyelami sejarah sebagai pengalaman batin, bukan sekadar catatan waktu, serta merasakan kembali denyut kehidupan yang pernah tumbuh di atas tanah yang sama.
Karya: Wayan Jengki Sunarta
Biodata Wayan Jengki Sunarta:
- Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
