Puisi: Tanggamus (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi "Tanggamus" karya Wayan Jengki Sunarta mengajak pembaca menyelami sejarah sebagai pengalaman batin, bukan sekadar catatan waktu, serta ...
Tanggamus

di Tanggamus, aku menemukanmu
o, saudara masa lalu
yang lahir kembali
di kebun-kebun kopi
siapa menujum ruhmu
berserakan jadi bongkah-bongkah batu
tumbuh di ladang-ladang hijau kaum tani

jangan tanya aku dari mana
aku hanya pasasir
yang mampir
setelah beratus-ratus tahun terlunta
di setapak jalan yang tak kupahami

kini, aku menemukanmu
meski yang menyapaku
hanya tumpukan batu
dolmen, monolit, menhir,
lumpang, lesung dan beliung

aku merindukanmu,
wahai bayang yang hilang
adakah kau sembunyi di kebun-kebun kopi
atau merasuk ke lembah-lembah keramat
yang dihuni danyang dan memedi?

kupungut sebutir batu
sekilas ingatan menyelami masa silam
o, beliung itu masih tersimpan rapi
dalam sarkopagus, bersama manik-manik,
serpih-serpih tembikar, jimat dan mantra
menemani belulangku yang kian rapuh

berapa darah hewan buruan tumpah di situ
berapa umbi lumat dan tandas
o, beliung yang begitu memukau,
perkakas terakhirku yang setia
warna-warni bianglala
membias di dingin tubuhnya
dan melintas jua parasmu, Ibu

gajah dan kerbau dari batu
yang kutatah untukmu
menggigil dalam cuaca dinihari
halimun menyungkupi sukmaku
kenangan demi kenangan membuncah
aksara-aksara menjelma di bongkah batu :
namo bhagawate...

Sumber: Kajian Puisi (FKIP UHAMKA, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi "Tanggamus" menghadirkan perjalanan batin seseorang yang berjumpa dengan jejak masa silam melalui lanskap alam dan peninggalan purba. Tanggamus tidak sekadar diposisikan sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang ingatan kolektif yang menyimpan sejarah, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan leluhur.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan pada masa lalu dan pencarian identitas melalui jejak peradaban purba. Tema tersebut berpadu dengan refleksi tentang asal-usul manusia, keterikatan pada tanah, serta kesinambungan antara yang hidup dan yang telah tiada.

Puisi ini bercerita tentang pertemuan penyair dengan “saudara masa lalu” di Tanggamus—sebuah metafora bagi leluhur atau diri purba yang pernah hidup di wilayah itu. Pertemuan tersebut terjadi melalui benda-benda arkeologis seperti dolmen, menhir, beliung, sarkopagus, dan batu-batu yang tersebar di kebun kopi serta ladang kaum tani. Penyair menempatkan dirinya sebagai “pasasir” (pengembara) yang telah lama terlunta sebelum akhirnya menemukan kembali akar sejarahnya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran bahwa identitas manusia modern tidak terlepas dari masa silam yang kerap terlupakan. Batu-batu dan artefak purba menjadi simbol ingatan yang membeku, namun tetap menyimpan ruh kehidupan, pengorbanan, dan cinta—termasuk figur “Ibu” yang muncul sebagai sumber asal kehidupan. Puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap keterputusan manusia masa kini dari sejarah dan alamnya.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana kontemplatif, magis, dan penuh kerinduan. Nuansa sakral terasa kuat melalui penyebutan lembah keramat, danyang, memedi, hingga mantra penutup. Kesunyian alam dan dingin dinihari mempertebal suasana perenungan spiritual.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menghormati jejak leluhur dan menjaga ingatan sejarah. Manusia diajak menyadari bahwa kemajuan hari ini berdiri di atas pengorbanan dan kerja keras masa silam, sehingga hubungan dengan alam dan warisan budaya tidak seharusnya terputus.

Puisi "Tanggamus" karya Wayan Jengki Sunarta memperlihatkan kekuatan puisi sebagai medium penghubung antara masa kini dan masa lampau. Dengan bahasa yang arkais dan imaji yang kuat, puisi ini mengajak pembaca menyelami sejarah sebagai pengalaman batin, bukan sekadar catatan waktu, serta merasakan kembali denyut kehidupan yang pernah tumbuh di atas tanah yang sama.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Tanggamus
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.