Oleh Nahazon Da Costa Kire
Warga Palestina saat ini menghadapi apa yang disebut sebagian pihak sebagai bencana kemanusiaan terbesar di abad ini, akibat konflik berkepanjangan yang telah menghancurkan kehidupan jutaan orang di Gaza dan Tepi Barat. Sejak dimulainya perang besar pada Oktober 2023, dan meskipun ada upaya gencatan senjata dan bantuan internasional, realitas di lapangan tetap mengerikan dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti. Menurut data organisasi kemanusiaan internasional, lebih dari 1,9 juta orang di Gaza, sekitar 90 persen dari populasi telah mengalami pengungsian internal, sementara fasilitas dasar seperti rumah sakit dan pusat kesehatan sebagian besar rusak atau hanya beroperasi sebagian. Krisis ini bukan sekadar statistik; ia adalah kenyataan kelaparan, penyakit, keterbatasan layanan medis, serta putusnya akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air dan sanitasi. Organisasi Pangan Dunia (WFP) memperkirakan bahwa lebih dari 1,6 juta orang sedang menghadapi tingkat kelaparan akut, dan lebih dari 100.000 anak diproyeksikan mengalami malnutrisi akut hingga April 2026. Kondisi ini diperburuk oleh kekurangan bahan bakar dan akses terbatas ke bantuan kemanusiaan, yang menghambat distribusi makanan dan layanan medis yang sangat diperlukan. Data UNICEF juga menunjukkan dampak yang mendalam pada anak-anak dan komunitas rentan: hampir 95 persen sekolah di Gaza telah rusak atau hancur, meninggalkan ratusan ribu anak tanpa pendidikan yang layak; sekaligus sistem kesehatan yang rapuh hanya memiliki ribuan tempat tidur untuk lebih dari dua juta penduduk, menyebabkan kematian yang sebenarnya bisa dicegah karena fasilitas medis tidak memadai.
Fakta-fakta ini bukan hanya soal angka kematian atau kerusakan fisik, tetapi menyentuh inti pengalaman hidup manusia yang kehilangan martabatnya. Dalam pandangan filsafat Emmanuel Levinas, etika bukan sekadar aturan moral yang abstrak, melainkan respons terhadap wajah sesama yang hadir dalam penderitaan, kehadiran manusia yang rapuh, bergantung, dan terluka. Wajah anak-anak yang kelaparan, mereka yang kehilangan tempat tinggal, atau keluarga-keluarga yang terpisah oleh konflik adalah wajah yang memanggil tanggung jawab kita. Kepedulian terhadap mereka tidak hanya sekadar simpati, tetapi panggilan moral yang menuntut tindakan nyata. Sayangnya, respons dunia terhadap krisis Palestina sering jatuh pada retorika diplomatik atau bantuan bersyarat, bukan langkah tegas untuk menghentikan penderitaan. Bantuan kemanusiaan yang diberikan, meskipun penting, masih jauh dari kebutuhan yang sesungguhnya: WFP memperkirakan kebutuhan dana mencapai ratusan dolar untuk menyediakan makanan, kesehatan, dan perlindungan hingga Mei 2026, namun realisasi masih tertinggal jauh. Ketergantungan pada bantuan darurat menempatkan warga Palestina dalam posisi rentan yang sistemik, mereka bergantung pada keputusan politik yang sering kali tidak berpihak pada kemanusiaan.
Realitas ini menuntut refleksi lebih dari sekadar politis; ia menuntut tanggung jawab etis global. Levinas mengingatkan bahwa tanggung jawab terhadap sesama bersifat asimetris: yang memiliki kekuatan, sumber daya, dan suara yang besar memiliki kewajiban lebih besar untuk melindungi dan memperjuangkan martabat mereka yang rentan. Ketika dunia melihat konflik berkepanjangan tanpa membawa solusi yang sungguh mengakhiri penderitaan, itu berarti kita gagal mengenali wajah-wajah kemanusiaan yang paling membutuhkan. Krisis kemanusiaan di Palestina tidak hanya sebuah tragedi geopolitik melainkan seruan bagi komunitas global untuk menilai ulang cara kita memandang konflik kekuasaan, dan nilai kemanusiaan itu sendiri. Ketika wajah sesama memanggil melalui jutaan kisah hidup yang rapuh, respons kita tidak boleh berhenti pada komentar belas kasih di media sosial, tetapi harus meluas pada kebijakan nyata yang menempatkan perlindungan terhadap nyawa manusia sebagai prioritas utama. Bencana ini, seperti halnya penderitaan manusia lainnya, menjadi tes kualitas moral kita sebagai komunitas internasional. Bagaimana kita menjawab panggilan etis ini akan menentukan apakah kita benar-benar menghormati martabat manusia, atau tetap membiarkan suara mereka yang tertindas tenggelam di antara riuhnya kepentingan politik dan strategi kekuasaan.
Biodata Penulis:
Nahazon Da Costa Kire saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Filsafat, di Universitas Widya Mandira Kupang.