Puisi: Pada Puisi (Karya Ngurah Parsua)

Puisi “Pada Puisi” karya Ngurah Parsua bercerita tentang seseorang yang membawa kepedihan, luka, dan kelelahan hidup ke dalam puisi. Puisi menjadi ...
Pada Puisi

kepedihan luka, mengembara ke batas dunia
sayap tak pernah jemu dan layu
kepak pikiran, gairah, burung mungil terbang
dalam sunyi, pembicaraan dini hari

penghibur lelahku, diamlah duka, tidur saja
dalam puisi ini, rebahkan tubuh kering dan pahit kaku
tatap langit biru senandungkan isi hati
haru tergenang di kelopak mata
istirahat dari huru-hara

kutulis cermin sendiri, mengasah pedang
mesiu, memberi selamat kepada saudara
dendam dengki kasih sayangku, kebanggaan
dan kesombonganku
keserakahan, ketercelaan pikiran burukku
memberi selamat kepada derita
tabahlah, dunia kecil jatuh
ke tangan kesedihan

rebahlah, tidur paling nyenyak
esoknya mendaki pegunungan himalaya
pulang dan mengembara
menyeberangi selat malaka
teduhnya rumah sendiri
pada puisi

Denpasar, 1979

Sumber: 99 Puisiku (Lembaga Seniman Indonesia Bali, 2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Pada Puisi” karya Ngurah Parsua menempatkan puisi bukan sekadar sebagai medium ekspresi, melainkan sebagai ruang batin tempat penyair beristirahat, berdamai, sekaligus berkonfrontasi dengan dirinya sendiri. Puisi ini bergerak dari luka personal menuju perjalanan imajiner yang luas, melintasi batas geografis dan emosional, sebelum akhirnya kembali ke rumah batin: puisi itu sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah puisi sebagai ruang perenungan dan penyembuhan batin. Puisi diperlakukan layaknya tempat singgah, tempat merebahkan luka, menenangkan kegelisahan, dan mengurai konflik internal manusia. Di dalamnya juga tersirat tema perjalanan hidup, pertarungan batin, serta usaha berdamai dengan sisi gelap diri sendiri.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang membawa kepedihan, luka, dan kelelahan hidup ke dalam puisi. Puisi menjadi wadah pengakuan—tempat segala emosi, baik yang luhur maupun yang tercela, dihadirkan tanpa penyangkalan. Dari sunyi dini hari, pengakuan batin itu berkembang menjadi perjalanan simbolik: mendaki Himalaya, menyeberangi Selat Malaka, mengembara dan pulang, hingga akhirnya menemukan “teduhnya rumah sendiri” pada puisi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa puisi berfungsi sebagai cermin sekaligus senjata. Ia adalah cermin karena penyair menatap dirinya sendiri—dendam, kesombongan, keserakahan, dan kasih sayang disadari sebagai bagian dari kemanusiaan. Ia juga menjadi senjata karena puisi digunakan untuk “mengasah pedang”, yakni mempertajam kesadaran dan keberanian menghadapi realitas batin yang pahit.

Selain itu, terdapat makna bahwa perjalanan sejauh apa pun—baik fisik maupun batin—akan bermuara pada kebutuhan manusia untuk pulang, bukan sekadar ke rumah secara geografis, melainkan ke ruang yang paling jujur dan menenangkan: ekspresi diri yang otentik.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini dominan melankolis dan reflektif, terutama pada bagian awal yang dipenuhi citra luka, sunyi, dan kelelahan. Namun seiring berjalannya larik, suasana bergerak menuju keteduhan dan ketenangan. Pada bagian akhir, muncul nuansa pasrah yang matang, seolah seseorang telah menemukan ruang aman untuk beristirahat dari “huru-hara” kehidupan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya menghadapi dan mengakui seluruh sisi diri, termasuk yang gelap dan tercela. Puisi mengajarkan bahwa pelarian bukan selalu tentang menjauh, melainkan tentang keberanian untuk masuk ke dalam diri sendiri. Melalui kejujuran batin, manusia dapat menemukan keteduhan dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup.

Puisi “Pada Puisi” karya Ngurah Parsua adalah refleksi mendalam tentang hubungan intim antara manusia dan puisinya. Puisi tidak lagi berdiri sebagai teks semata, melainkan sebagai ruang hidup—tempat luka direbahkan, kesalahan diakui, perjalanan dimaknai, dan keteduhan akhirnya ditemukan. Puisi ini menegaskan bahwa dalam hiruk-pikuk dunia, kata-kata yang jujur bisa menjadi rumah paling aman bagi jiwa.

Ngurah Parsua
Puisi: Pada Puisi
Karya: Ngurah Parsua

Biodata Ngurah Parsua:
  • Ngurah Parsua memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Parsua.
  • Ngurah Parsua lahir di Bondalem, Singaraja, Buleleng.
© Sepenuhnya. All rights reserved.