Puisi: Pantun Osaka-Nara (Karya Ajip Rosidi)

Puisi "Pantun Osaka-Nara" karya Ajip Rosidi mengeksplorasi tema rindu dan kenangan melalui perjalanan dan pengalaman pribadi.
Pantun Osaka-Nara

Dari Osaka hendak ke Nara
Berhenti sebentar di Ikoma;
Rindu hati tidak kentara
Tapi zikir tetap bergema.

Dari Osaka hendak ke Nara
Kalau pulang membawa moci
Meski sama sekali tak bersuara
Dalam hati tak kunjung henti.

Taman Nara berhektar-hektar
Banyak rusa sedang merumput;
Tak pernah lupa meski sebentar
Walau engkau tidak menyahut.

Sumber: Pantun Anak Ayam (2006)
Catatan:
Moci: Makanan Jepang terbuat dari beras pulut yang ditumbuk sampai halus. Uli (Melayu), ulen (Sunda), jadah (Jawa).

Analisis Puisi:

Puisi "Pantun Osaka-Nara" karya Ajip Rosidi adalah sebuah karya yang menggunakan bentuk pantun untuk mengekspresikan tema rindu dan kenangan. Dengan latar belakang perjalanan antara dua kota di Jepang, Osaka dan Nara, puisi ini menggambarkan pengalaman emosional yang mendalam serta keterhubungan yang terus-menerus meski dalam kesunyian.

Struktur dan Bentuk Pantun

Pantun adalah bentuk puisi tradisional yang sering digunakan untuk menyampaikan perasaan atau pesan secara singkat namun penuh makna. Dalam puisi ini, Ajip Rosidi memanfaatkan bentuk pantun untuk mengungkapkan tema rindu dan kenangan dengan gaya yang elegan dan terstruktur.

Perjalanan dan Rindu

Puisi ini dibuka dengan gambaran perjalanan dari Osaka ke Nara dan pemberhentian di Ikoma:

Dari Osaka hendak ke Nara
Berhenti sebentar di Ikoma;
Rindu hati tidak kentara
Tapi zikir tetap bergema.

Baris pertama dan kedua menyebutkan perjalanan dari Osaka ke Nara dengan pemberhentian di Ikoma. Pemberhentian ini mencerminkan momen-momen singkat dalam perjalanan yang mungkin mengandung makna khusus. Sementara itu, perasaan rindu disebutkan sebagai "tidak kentara," menunjukkan bahwa meskipun rindu tersebut tidak selalu terlihat secara jelas, itu tetap ada dan terasa di hati. "Zikir tetap bergema" melambangkan bahwa meskipun perasaan tersebut tidak tampak jelas, kehadirannya tetap terasa melalui doa atau harapan yang terus-menerus.

Kenangan dan Keterhubungan

Bagian kedua puisi menyampaikan perasaan mendalam mengenai kenangan dan ketidakberbicarakan:

Dari Osaka hendak ke Nara
Kalau pulang membawa moci
Meski sama sekali tak bersuara
Dalam hati tak kunjung henti.

Menggunakan "moci," makanan tradisional Jepang, sebagai simbol, puisi ini menggambarkan perjalanan pulang yang membawa oleh-oleh sebagai bentuk penghargaan atau kenangan. Meskipun "tak bersuara," yaitu tidak ada komunikasi verbal, perasaan dan kenangan tetap hidup dan tidak pernah berhenti di dalam hati.

Taman dan Kenangan Abadi

Bagian akhir puisi menggambarkan Taman Nara yang luas dengan rusa:

Taman Nara berhektar-hektar
Banyak rusa sedang merumput;
Tak pernah lupa meski sebentar
Walau engkau tidak menyahut.

Taman Nara, dengan luasnya dan rusa-rusa yang merumput, menjadi latar belakang untuk mengingat kembali momen-momen yang telah berlalu. Meskipun "engkau tidak menyahut," atau mungkin tidak ada tanggapan atau komunikasi, kenangan tersebut tetap terukir dalam ingatan. Kenangan ini, yang terkait dengan tempat dan waktu, tidak akan terlupakan meskipun tidak ada interaksi langsung.

Puisi "Pantun Osaka-Nara" karya Ajip Rosidi mengeksplorasi tema rindu dan kenangan melalui perjalanan dan pengalaman pribadi. Dengan menggunakan bentuk pantun, Rosidi mengungkapkan perasaan mendalam yang terkait dengan perjalanan, kenangan, dan hubungan yang terus ada meskipun dalam kesunyian. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana kenangan dan perasaan dapat terus hidup dalam hati, meskipun tidak selalu terlihat secara langsung.

Puisi Ajip Rosidi
Puisi: Pantun Osaka-Nara
Karya: Ajip Rosidi

Biodata Ajip Rosidi:
  • Ajip Rosidi lahir pada tanggal 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.
  • Ajip Rosidi meninggal dunia pada tanggal 29 Juli 2020 (pada usia 82 tahun) di Magelang, Jawa Tengah.
  • Ajip Rosidi adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.