Anggur Cinta
Dia datang, bak Rembulan yang tak pernah terlihat di
langit, baik dalam jaga maupun dalam mimpi.
Bermahkota api abadi yang tak pernah mati.
Lihatlah, Wahai Paduka, dari cawan anggur cinta-Mu,
jiwaku berenang
meninggalkan kerangka raga lempungku.
Kata pertama Pemberi buah anggur tiba, hatiku nan
tengah kesepian menjadi mendapat mitra,
Anggur membakar dadaku dan seluruh pembuluhku kian
sarat dengan darah;
Namun ketika citra-Nya memikat seluruh pandanganku,
Suara pun merendah:
"Sungguh indah , O Anggur nan perkasa dan Piala nan
tiada tara!"
Tangan kuat cinta merenggut dari atas hingga ke dasar
tempat yang diselubungi kegelapan
Yang celah-celahnya enggan meraih sinar keemasan.
Hatiku, jika lautan Cinta tiba-tiba memasuki pandangannya,
melompatlah segera ke dalam, serta "Temukan aku
sekarang juga!"
Sebab, bila matahari bergerak, awan pun mengikutinya
dari belakang.
Semua hati menyertaimu, O Matahari Tabriz!
Catatan:
Puisi ini berasal dari buku Nyanyian Seruling dan Jalan Tasawuf (Sega Arsy, 2014) yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari puisi-puisi Sufistik karya Jalaluddin Rumi.
Analisis Puisi:
Puisi “Anggur Cinta” merupakan salah satu ekspresi paling kuat dari spiritualitas sufistik Jalaluddin Rumi. Dalam tradisi tasawuf, bahasa puisi tidak dimaksudkan untuk dibaca secara harfiah, melainkan sebagai simbol pengalaman batin yang sulit dijelaskan dengan nalar biasa. Anggur, cawan, api, matahari, dan cahaya dalam puisi ini bukan sekadar citraan puitik, tetapi metafora perjalanan ruhani seorang pencari Tuhan.
Puisi ini menampilkan pengalaman perjumpaan dengan Yang Ilahi yang begitu dahsyat hingga melampaui batas tubuh, bahasa, dan kesadaran rasional. Rumi menulis bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai seseorang yang “telah terbakar” oleh cinta Ilahi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta Ilahi (mahabbah) dalam perspektif tasawuf. Cinta dalam puisi ini bukan cinta duniawi, melainkan cinta transenden yang memabukkan, membakar, dan meluruhkan ego manusia.
Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema fana’, yakni lenyapnya diri (ego) dalam kehadiran Tuhan. Jiwa yang “berenang meninggalkan kerangka raga lempung” menunjukkan keinginan kuat untuk melampaui keterikatan jasmani demi menyatu dengan sumber cinta sejati.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seorang hamba ketika berjumpa dengan kehadiran Ilahi yang datang secara tiba-tiba, agung, dan tak terjangkau logika. Sosok “Dia” digambarkan seperti rembulan yang tak pernah terlihat di langit biasa—menandakan bahwa kehadiran Tuhan tidak dapat ditangkap oleh indra lahir.
Anggur cinta yang diminum dari “cawan” Tuhan melambangkan anugerah spiritual. Anggur ini tidak menyegarkan secara fisik, melainkan membakar dada, mengaliri seluruh pembuluh darah, dan mengubah kesadaran. Dalam kondisi ini, sang penyair kehilangan bahasa, kehilangan suara, dan hanya mampu berseru dalam kekaguman.
Puisi ini juga bercerita tentang tarikan cinta Ilahi yang merenggut manusia dari “tempat yang diselubungi kegelapan”, yakni dunia material, menuju cahaya keemasan kesadaran ruhani. Pada bagian akhir, Rumi menyebut “Matahari Tabriz”, sebuah rujukan penting terhadap Syams Tabrizi, guru spiritual yang menjadi poros transformasi batin Rumi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini sangat kental dengan ajaran tasawuf. Anggur di sini bukanlah simbol kenikmatan dunia, melainkan pengetahuan Ilahi dan ekstase spiritual. Mabuk bukan berarti kehilangan kesadaran, tetapi justru mencapai kesadaran tertinggi yang melampaui logika.
Api abadi yang “tak pernah mati” melambangkan cinta Tuhan yang kekal dan tidak bergantung pada kondisi manusia. Ketika cinta ini hadir, kesepian hati lenyap karena jiwa menemukan “mitra sejatinya”, yakni Tuhan sendiri.
Seruan agar hati segera “melompat ke dalam lautan cinta” menyiratkan ajakan untuk tidak ragu, tidak setengah-setengah, dalam menempuh jalan spiritual. Tasawuf menuntut totalitas: menyerahkan diri sepenuhnya, bahkan jika itu berarti kehilangan identitas lama.
Penyebutan matahari dan awan menyiratkan hukum kosmik cinta: ketika sumber cahaya bergerak, segala sesuatu akan mengikutinya. Dalam konteks ini, Tuhan (atau kekasih Ilahi) menjadi pusat gravitasi spiritual seluruh hati manusia.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini didominasi oleh ekstase, kekaguman, dan kepasrahan total. Ada nuansa mabuk spiritual yang kuat, bercampur dengan rasa takzim dan keterpesonaan mendalam. Namun suasana tersebut tidak tenang atau lembut; justru penuh ledakan emosi batin, api, dan gerak yang intens.
Keheningan juga hadir ketika “suara pun merendah”, menandakan bahwa pada puncak pengalaman Ilahi, kata-kata menjadi tidak lagi memadai.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk berani menyerahkan diri sepenuhnya pada cinta Ilahi. Rumi mengingatkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak bisa ditempuh dengan setengah hati atau sekadar rasio.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa cinta sejati akan menghancurkan ego, membakar kepalsuan diri, dan mengangkat manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dalam tasawuf, kehilangan diri bukanlah kehancuran, melainkan jalan menuju keberadaan yang lebih hakiki.
Selain itu, puisi ini menegaskan pentingnya guru spiritual (seperti Syams Tabriz) sebagai matahari yang menerangi perjalanan batin seorang pencari.
Puisi “Anggur Cinta” karya Jalaluddin Rumi adalah gambaran mendalam tentang perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan melalui cinta. Dengan simbol-simbol yang kaya dan bahasa yang membara, Rumi tidak sekadar menulis puisi, tetapi membuka pintu pengalaman batin yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berani “melompat ke dalam lautan cinta”.
Puisi ini menegaskan bahwa dalam tasawuf, cinta bukan sekadar perasaan, melainkan kekuatan kosmik yang mampu mengubah jiwa, melampaui tubuh, dan menyatukan manusia dengan sumber segala cahaya.
Karya: Jalaluddin Rumi
Biodata Jalaluddin Rumi:
- Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
- Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
- Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.