Analisis Puisi:
Puisi “Bawang – Sukorejo” menghadirkan potret perjalanan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya sarat makna batin. Gunoto Saparie tidak hanya menggambarkan lanskap alam yang dilintasi, tetapi juga menyelipkan dinamika relasi manusia—khususnya hubungan suami-istri—dalam bingkai perjalanan fisik yang berlapis perjalanan emosional dan spiritual.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan cinta dan kebersamaan dalam ikatan pernikahan. Perjalanan yang digambarkan bukan semata perjalanan geografis dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga perjalanan batin dua manusia yang telah terikat secara sah dan emosional. Alam, waktu, dan kendaraan menjadi simbol dari fase hidup yang sedang mereka jalani bersama.
Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema keheningan yang komunikatif—bagaimana dua insan dapat saling memahami tanpa harus selalu berbicara.
Puisi ini bercerita tentang sepasang suami-istri yang sedang melakukan perjalanan melewati hutan, lembah, dan perbukitan. Dalam perjalanan itu, sang “aku” menjadi pengemudi mobil yang membawa istrinya menyusuri jalan berkelok. Sepanjang perjalanan, muncul dialog batin, pengamatan terhadap alam, dan kesadaran akan status relasi mereka:
“memang aku kini suamimu, penjemputmu”
Baris ini menegaskan bahwa perjalanan tersebut bukan hanya tamasya, melainkan simbol tanggung jawab, perlindungan, dan komitmen. Sang aku bukan sekadar pengemudi, tetapi juga pendamping hidup.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini terletak pada cara perjalanan fisik disamakan dengan perjalanan hidup bersama. Hutan, kabut, bukit, dan kelokan jalan dapat dibaca sebagai metafora rintangan, ketidakpastian, dan misteri dalam kehidupan rumah tangga.
Kalimat:
“kalbu kita berbicara tanpa kata-kata”
menyiratkan kedalaman hubungan emosional, di mana komunikasi tidak lagi bergantung pada bahasa verbal. Ada kepercayaan dan pemahaman yang tumbuh dari kebersamaan yang matang.
Sementara frasa “bumi cahaya itu” dapat ditafsirkan sebagai tujuan hidup yang diharapkan bersama: kebahagiaan, ketenteraman, atau masa depan yang lebih terang.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana dalam puisi yang tenang, intim, dan kontemplatif. Kesunyian alam, suara serangga, dedaunan, serta kabut di lembah menciptakan nuansa damai sekaligus reflektif. Meski ada suara mobil dan klakson yang memecah kesunyian, hal itu justru mempertegas keberadaan manusia di tengah alam, bukan merusaknya.
Suasana tersebut mengalir lembut, tanpa konflik terbuka, seolah mengajak pembaca ikut duduk di kursi penumpang, menyimak perjalanan sambil merenung.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat / pesan tentang pentingnya kebersamaan, tanggung jawab, dan kesadaran akan peran dalam hubungan. Menjadi pasangan hidup berarti siap “menjemput” dan “membawa pergi”—menemani dalam perjalanan, apa pun kondisi jalannya.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan pesan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam percakapan panjang atau euforia besar, melainkan dalam keheningan yang dipahami bersama.
Puisi “Bawang – Sukorejo” adalah puisi yang tenang namun bermakna dalam. Gunoto Saparie berhasil menjadikan perjalanan sehari-hari sebagai ruang perenungan tentang cinta, tanggung jawab, dan kebersamaan. Dengan bahasa yang sederhana dan imaji alam yang kuat, puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa hidup bersama bukan tentang sampai secepatnya ke tujuan, melainkan tentang bagaimana perjalanan itu dijalani—bersama, dalam kesadaran dan keheningan yang saling memahami.
Karya: Gunoto Saparie
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).
Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).
Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
