Berdua
jangan mengganggu kami
yang hangat dalam sepi
berdua di tepi danau
angin mengusik pun kami halau
purnama malam ini
merpati singgah di hati
sebentar berkendara mega
bulan mandi dalam telaga
Sumber: Horison (September, 1979)
Analisis Puisi:
Puisi “Berdua” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menghadirkan momen kebersamaan yang sederhana namun intim. Dengan larik-larik pendek dan bahasa yang jernih, puisi ini menempatkan dua insan dalam ruang alam yang sunyi, hangat, dan terlindungi dari gangguan luar. Keheningan justru menjadi medium bagi kedekatan, bukan kesepian.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keintiman dan kebersamaan dalam kesunyian. Puisi ini menegaskan bahwa kedekatan emosional tidak selalu membutuhkan keramaian; justru dalam sepi, kehadiran dua orang menjadi terasa utuh dan hangat.
Puisi ini bercerita tentang dua insan yang memilih menyepi di tepi danau. Mereka menolak gangguan apa pun—bahkan angin—demi menjaga kehangatan kebersamaan. Malam purnama, merpati, mega, dan telaga menjadi latar yang memperindah momen berdua tersebut.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah penghayatan akan cinta atau kebersamaan yang bersifat personal dan eksklusif. Ada penegasan batas antara dunia luar dan ruang intim yang ingin dijaga. Kebahagiaan tidak diumbar, melainkan dirawat dalam kesenyapan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa romantis, damai, dan hangat. Kesunyian tidak menghadirkan kehampaan, melainkan ketenangan. Alam malam yang lembut memperkuat rasa tenteram dan keintiman antara dua sosok dalam puisi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk menghargai momen kebersamaan yang sederhana. Puisi ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sering hadir dalam ruang-ruang kecil yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk dan gangguan.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, seperti pada “angin mengusik” dan “bulan mandi dalam telaga”, yang memberi sifat hidup pada unsur alam.
- Metafora, pada “merpati singgah di hati” sebagai lambang kedamaian dan cinta.
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi
Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
- Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
- Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
- Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.