Puisi: Binatang (Karya Dimas Arika Mihardja)

Puisi "Binatang" karya Dimas Arika Mihardja mengajak pembaca bercermin: sejauh mana manusia masih beradab dalam hidup bersama, dan kapan perilaku ...
Binatang

Kami tak pernah pelihara kucing
tapi tiap hari kucing tetangga berak dan kencing
sembarangan!

Mereka beranak-pinak, berbiak
lalu berteriak di atas genteng
lari dan sembunyi untuk berteriak lagi
tikus-tikus tak tersentuh
cicak-cicak di dinding masih meracau
parau

Dasar anjing
lha ngising di atas piring
kan bikin pusing?

Terkadang datang tak diundang
musang, biawak, kodok, ayam kampung
ulahnya bikin canggung!

Jambi, 2010

Analisis Puisi:

Puisi “Binatang” karya Dimas Arika Mihardja menghadirkan kritik sosial melalui bahasa yang lugas, jenaka, dan sekaligus getir. Dengan memanfaatkan metafora hewan serta situasi keseharian yang tampak sepele, puisi ini menyodorkan gambaran tentang ketidakteraturan, gangguan, dan kekacauan yang diterima manusia tanpa pernah benar-benar diundang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketidaktertiban sosial dan perilaku mengganggu yang merugikan pihak lain, yang disampaikan melalui simbol-simbol binatang. Tema ini juga dapat diperluas sebagai kritik terhadap sikap abai, tidak bertanggung jawab, dan pembiaran dalam kehidupan bersama.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman sebuah “kami” yang tidak memelihara binatang, tetapi justru harus menanggung dampak dari binatang milik orang lain. Kucing tetangga yang buang kotoran sembarangan, suara gaduh di atap, hingga kehadiran hewan-hewan lain yang “datang tak diundang” menjadi rangkaian gangguan yang terus berulang. Situasi ini digambarkan dengan nada kesal, heran, sekaligus ironis.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap perilaku manusia yang menyerupai binatang: seenaknya sendiri, tidak peduli ruang bersama, dan membiarkan dampak perbuatannya ditanggung orang lain. Binatang dalam puisi ini dapat dibaca sebagai metafora bagi individu atau kelompok yang hidup tanpa tanggung jawab sosial, sementara “kami” mewakili masyarakat yang dipaksa menerima kekacauan tersebut.

Ungkapan kasar seperti “Dasar anjing” bukan sekadar makian, tetapi penanda ledakan emosi akibat ketidakadilan yang terus-menerus dialami.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana kesal, bising, dan tidak nyaman. Repetisi gangguan, suara teriakan binatang, serta gambaran kotoran dan kekacauan menciptakan nuansa sumpek yang akrab dengan pengalaman hidup di ruang sosial yang semrawut.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya tanggung jawab dan kesadaran dalam hidup berdampingan. Kebebasan individu—termasuk memelihara atau membiarkan sesuatu—tidak boleh merugikan orang lain. Puisi ini juga mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kekacauan kecil dapat berubah menjadi masalah besar bila terus dianggap wajar.

Puisi "Binatang" karya Dimas Arika Mihardja menunjukkan bagaimana persoalan kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk kritik sosial yang tajam. Dengan bahasa sederhana, kasar, dan penuh ironi, puisi ini mengajak pembaca bercermin: sejauh mana manusia masih beradab dalam hidup bersama, dan kapan perilaku manusia justru lebih “binatang” daripada binatang itu sendiri.

Puisi: Binatang
Puisi: Binatang
Karya: Dimas Arika Mihardja
© Sepenuhnya. All rights reserved.