Puisi: Campuhan, Ubud (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi "Campuhan, Ubud" karya Wayan Jengki Sunarta bercerita tentang pengalaman perjalanan batin seorang ...
Campuhan, Ubud
bersama phutut ea

mengapa jalanku tiba-tiba buntu
ketika senja menjelma
bunga alang-alang
yang tumbuh di tebing karang

di bawah, ricik air bagai mantra purba
yang dilantunkan para pendeta
atau mungkin baris-baris aksara
yang digurat sang kawi

mengapa jiwa serupa angin
mengalun dari buluh-buluh bambu

pada akhirnya kau pergi
aku pergi
mereka pergi
tapi hanya jalanku
yang tiba-tiba buntu
disumbat gumpalan masa lalu
yang tidak juga enyah.

Sumber: Malam Cinta (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Campuhan, Ubud" karya Wayan Jengki Sunarta menampilkan kepekaan penyair terhadap alam dan perjalanan batin manusia. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, puisi ini mengajak pembaca merenungi pengalaman pribadi yang berkaitan dengan waktu, ingatan, dan perpisahan.

Tema

Tema utama puisi ini berkisar pada kehilangan dan perjalanan hidup yang terhenti oleh kenangan masa lalu. Penyair menyoroti bagaimana manusia terkadang merasa jalannya buntu ketika menghadapi masa lalu yang belum terselesaikan, meski hidup terus bergerak. Selain itu, tema tentang koneksi manusia dengan alam juga terasa kuat melalui penggunaan simbol alam seperti bunga alang-alang, tebing karang, air, dan buluh bambu.

Secara naratif, puisi ini bercerita tentang pengalaman perjalanan batin seorang individu yang diwarnai oleh perasaan kehilangan dan kebingungan. Puisi dibuka dengan pertanyaan retoris tentang jalannya yang “tiba-tiba buntu” saat senja, menandakan awal refleksi pribadi. Selanjutnya, penyair memadukan unsur alam—ricik air, buluh bambu, bunga alang-alang—sebagai cerminan jiwa yang terombang-ambing antara perpisahan dan kenangan. Adegan perpisahan ditunjukkan dengan baris “pada akhirnya kau pergi / aku pergi / mereka pergi”, menekankan kesadaran bahwa manusia datang dan pergi, namun kenangan tetap menyumbat jalannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat dibaca sebagai refleksi terhadap keterikatan manusia pada masa lalu. Jalannya yang buntu bukan sekadar rintangan fisik, melainkan simbol dari hambatan emosional dan psikologis yang muncul akibat kenangan yang belum terlepaskan. Ricik air yang “bagai mantra purba” dan aksara yang “digurat sang kawi” dapat diinterpretasikan sebagai upaya manusia mencari makna atau kebijaksanaan dari pengalaman hidupnya, namun tetap terikat oleh memori yang tak lekang.

Puisi "Campuhan, Ubud" mengajak pembaca menyelami perjalanan batin yang dipenuhi perpisahan dan kenangan, sambil menampilkan keterikatan manusia dengan alam sebagai medium refleksi. Dengan tema kehilangan, cerita yang menyentuh hati, makna tersirat tentang masa lalu, serta penggunaan imaji dan majas yang efektif, puisi ini menegaskan keindahan bahasa dan kedalaman pengalaman manusia yang diungkap melalui lensa alam Bali.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Campuhan, Ubud
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.