Puisi: Daging (Karya Gus tf)

Puisi “Daging” karya Gus tf mengajak pembaca untuk terus bertanya, sambil menyadari bahwa keberadaan manusia—dengan segala keterbatasannya—bermula ...
Daging

Angkasa luas inilah yang menggelembungkan balon
di kepalaku. Bongkahan planet melayang, seperti gumpalan
dada yang mengerang. "Siapa Anda? Punyakah Anda secebis
kisah tentang dunia? Tolong."

Tidak. Tak ada kisah
tentang dunia. Kecuali dongeng, semacam konon,
yang diterbangkan oleh sepotong daging di jagat raya. "Ini
bulan, kuserpih dari seratku yang malam. Ini matahari, kubeset
dari kulitku yang siang. Pada keduanya ada gerhana, tempat
kau berpikir tentang tiada."

Tentang tiada? "Aku manusia! Diriku lahir
karena ada. Siapa Anda? Takkan aku bertanya
kalau di mataku Anda tiada. Takkan aku berkata kalau gugus
galaksi gelap saja. Takkan aku berpikir kalau semuanya
sia-sia. Siapa Anda?"

"Sudah mereka katakan aku cuma dongeng.
Sudah mereka katakan aku cuma konon.
Tapi aku daging. Daging, yang setiap hari engkau telan
engkau muntahkan…"

Payakumbuh, 1997

Sumber: Daging Akar (Penerbit Buku Kompas, 2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Daging” karya Gus tf merupakan puisi reflektif-filosofis yang menggugat pemahaman manusia tentang keberadaan, penciptaan makna, dan hubungan antara tubuh manusia dengan semesta. Melalui dialog imajiner yang intens, puisi ini membawa pembaca pada perenungan mendalam tentang apa yang disebut “ada”, “tiada”, dan posisi manusia di jagat raya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah eksistensi manusia dan pencarian makna hidup. Gus tf menempatkan manusia di tengah bentangan kosmos luas, lalu mempertanyakan hakikat keberadaan: apakah manusia, dunia, bahkan Tuhan atau pencipta hanyalah “dongeng”, atau justru nyata dalam bentuk yang paling dekat—yakni daging.

Puisi ini bercerita tentang dialog antara “aku” dengan sebuah sosok yang ambigu: bisa dimaknai sebagai Tuhan, semesta, atau kesadaran terdalam manusia itu sendiri. Dialog tersebut mempertanyakan asal-usul dunia, makna penciptaan, serta hubungan antara tubuh manusia (daging) dan realitas kosmik seperti planet, bulan, matahari, dan galaksi.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap cara manusia memandang keberadaan hanya melalui konsep-konsep abstrak dan dongeng metafisik, sementara mengabaikan kenyataan paling konkret: tubuh dan daging. Daging dihadirkan sebagai simbol keberadaan yang nyata, rapuh, namun tak terbantahkan. Puisi ini seolah menegaskan bahwa manusia mengalami dunia bukan lewat ide-ide besar semata, tetapi lewat tubuh yang hidup, makan, memuntahkan, dan merasakan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa gelisah, menggugat, dan penuh ketegangan intelektual. Ada rasa resah eksistensial yang kuat, disertai kegigihan subjek liris untuk terus bertanya dan menolak jawaban simplistik tentang dunia dan keberadaan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan amanat agar manusia tidak menjauh dari kenyataan keberadaannya sendiri. Gus tf mengajak pembaca untuk berdamai dengan fakta bahwa manusia adalah makhluk jasmani sekaligus pemikir. Daging bukan sesuatu yang hina atau remeh, melainkan medium utama manusia mengalami hidup, semesta, dan makna.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, misalnya daging sebagai simbol keberadaan sejati.
  • Personifikasi, pada planet, bulan, dan matahari yang “diserpih” dan “dibeset” dari tubuh.
  • Repetisi dan dialog retoris, terutama pada pertanyaan “Siapa Anda?” yang menegaskan pencarian makna dan identitas.
Puisi “Daging” karya Gus tf adalah puisi perenungan yang berani dan tajam. Ia tidak menawarkan jawaban final, melainkan mengajak pembaca untuk terus bertanya, sambil menyadari bahwa keberadaan manusia—dengan segala keterbatasannya—bermula dan berakhir pada daging itu sendiri.

Gus tf Sakai
Puisi: Daging
Karya: Gus tf

Biodata Gus tf Sakai:
  • Gustrafizal Busra atau lebih dikenal Gus tf Sakai lahir pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.