Puisi: Dengan Tengkorak (Karya S.M. Ardan)

Puisi “Dengan Tengkorak” karya S.M. Ardan menegaskan bahwa alienasi manusia bukan hanya penderitaan pasif, tetapi juga dapat berubah menjadi energi ..
Dengan Tengkorak

Turunlah hujan! segera hujan dia turunkan
Kami, aku, dan dia, kenal juga keserba-duaan
Kami sama lapar, mencari dalam simpangsiur benda
Antara kami jurang-kecanggungan, tidak kelihatan dari jauh:

Persinggungan yang tidak datangkan suatu apa
Karena kejalangan membunuh rasa-lain
Yang satu tenggelam dan yang lain mengambang, aku diantaranya.

Mataku dua, masih kosong. belum berisi
Tunggu, semua daerah akan kudatangi!
Aku menangis, dia tidak. – ya, dia tidak
Aku yang dirayu, terus saja berlari
Aku yang dicaci “sampah” (pupuk kebun), melata di tanah
Yang tertawa, yang lapar; itu penduduk daerah asing
Tapi, aku topan, bermaksud menghancur pencakar-langit
– Bukan  bulan yang tidak adil –

Sumber: Majalah Pudjangga Baru (Nomor 4, Tahun XII)

Analisis Puisi:

Puisi “Dengan Tengkorak” karya S.M. Ardan menampilkan dunia batin yang keras, terasing, dan penuh konflik eksistensial. Penyair bergerak dalam ruang sosial yang asing dan menekan, mengalami lapar, caci, dan keterasingan, tetapi sekaligus menyimpan dorongan destruktif dan pemberontakan. Judul “tengkorak” sendiri mengarahkan pembacaan pada simbol kematian, kekosongan, atau identitas manusia yang tersisa hanya kerangka.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan pemberontakan manusia terhadap realitas sosial yang menindas.

Penyair berada di antara dua kutub (“yang satu tenggelam dan yang lain mengambang”), menandakan posisi liminal: tidak sepenuhnya diterima, tetapi juga tidak sepenuhnya tenggelam. Lapar, caci, dan jurang kecanggungan menunjukkan keterputusan hubungan manusia.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang terasing di tengah masyarakat yang keras dan asing, di mana ia:
  • merasa lapar secara fisik dan eksistensial,
  • tidak memiliki keterhubungan emosional (“kejalangan membunuh rasa-lain”),
  • mengalami penghinaan (“sampah”),
  • melihat orang lain sebagai “penduduk daerah asing”,
  • tetapi menyimpan hasrat menghancurkan struktur kekuasaan (“pencakar-langit”).
Dengan demikian, puisi menceritakan perjalanan kesadaran individu terasing yang berubah menjadi energi pemberontakan.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat yang dapat dibaca:
  • Tengkorak sebagai simbol kekosongan identitas manusia modern. Tengkorak mengisyaratkan manusia yang tinggal sisa—tanpa rasa, tanpa hubungan, tanpa makna. Ini sejalan dengan “mataku dua, masih kosong”.
  • Lapar sebagai metafora kebutuhan eksistensial. “Kami sama lapar” tidak hanya fisik, tetapi lapar makna, cinta, atau pengakuan sosial.
  • Masyarakat sebagai ruang asing. “penduduk daerah asing” menunjukkan keterasingan di lingkungan sendiri—tema khas alienasi modern.
  • Topan sebagai simbol pemberontakan diri. “aku topan, bermaksud menghancur pencakar-langit” menyiratkan dorongan destruksi terhadap struktur modernitas (kota, kapitalisme, kekuasaan).
  • Penolakan terhadap ketidakadilan kosmik. “Bukan bulan yang tidak adil” menandakan kesadaran bahwa ketidakadilan bukan takdir alam, melainkan ciptaan manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana relatif jelas dan kuat:
  • Gelisah dan tertekan → lapar, caci, jurang.
  • Suram dan asing → daerah asing, tengkorak.
  • Memberontak dan destruktif → topan, menghancur.
Dominan: muram-eksistensial dengan energi pemberontakan.

Amanat / Pesan yang disampaikan puisi

Pesan yang dapat ditarik:
  • Keterasingan manusia modern dapat melahirkan kehampaan dan kekerasan batin.
  • Ketidakadilan sosial bukan kodrat alam, melainkan struktur manusia yang bisa dilawan.
  • Individu yang terpinggirkan menyimpan potensi perubahan destruktif.
Puisi mengingatkan bahwa ketika manusia diperlakukan sebagai “sampah”, ia bisa berubah menjadi “topan”.

Puisi “Dengan Tengkorak” menampilkan potret manusia terasing yang lapar makna dan pengakuan dalam dunia sosial yang dingin. Melalui simbol tengkorak, jurang, sampah, dan topan, S.M. Ardan menggambarkan perjalanan batin dari keterasingan menuju potensi pemberontakan.

Puisi ini menegaskan bahwa alienasi manusia bukan hanya penderitaan pasif, tetapi juga dapat berubah menjadi energi destruktif terhadap struktur ketidakadilan.

S.M. Ardan
Puisi: Dengan Tengkorak
Karya: S.M. Ardan

Biodata S.M. Ardan:
  • S.M. Ardan lahir pada tanggal 2 Februari 1932 di Medan, Sumatra Utara.
  • S.M. Ardan meninggal dunia pada tanggal 26 November 2006.
© Sepenuhnya. All rights reserved.