Di Altar 'Arsy-Mu
Ada yang berayun-ayun di pucuk cemara senja
Sayup-sayup dan lengang memancarkan makna
Tuhan, inilah jagat raya hakikat kebesaran-Mu
Tahta mahligai Arsy-Mu yang Kau bentangkan
Seluruh alam bersujud dan memohon ampunan
Bersimpuh penuh kerinduan dan kecintaan
Tatkala firman-firman-Mu dibacakan
Di seluruh ruang dan waktu
Tanpa batas tanpa pembatas
Kau awas aim pun bergegas
Dalam pusaran waktu melintas
Ada yang beralun-alun di puncak menara
Menembus guratan hakikat dan makrifat
Tatkala azan dikumandangkan ke arah kiblat
Tuhan, inilah senandung cinta-Mu pada umat
Mengurat pada tapak-tapak zaman yang lelah
Berpusar dan berputar pada roda sejarah
Di bawah tahta mahligai 'Asry-Mu yang indah
Dalam pusaran pergulatan batiniyah
Melacak tafsir, menguak firasat akhir
Bersikap pasrah di tubir takdir
Ada yang berayun-ayun di tangkai ilalang
Menyatu indah dengan bunga dan kembang mayang
Di taman firdaus dan surga yang dijanjikan
Tuhan, inilah pesona wajah-Mu yang dada tara
Mengatasi ruang dan waktu
Di altar 'Arsy-Mu yang abadi
Sujudku berpasrah diri
Doaku berserah diri
Kau awas aku pun puas.
Sumber: Kultus (2021)
Analisis Puisi:
Puisi “Di Altar ‘Arsy-Mu” merupakan puisi religius-kontemplatif yang mengekspresikan kekaguman dan kepasrahan manusia di hadapan kebesaran Tuhan. Penyair memadukan citra alam, kosmos, dan ritual ibadah untuk menggambarkan hubungan makhluk dengan Sang Pencipta. Puisi bergerak dari pengamatan alam senja menuju kesadaran spiritual dan kepasrahan total di “altar ‘Arsy”.
Tema
Tema puisi ini adalah pengagungan terhadap kebesaran Tuhan dan kepasrahan spiritual manusia di hadapan-Nya. Tema lain yang menyertai ialah pengalaman religius batin dan pencarian makrifat.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan tanda-tanda kebesaran Tuhan melalui alam, azan, sejarah, dan kosmos. Ia merasakan bahwa seluruh alam bersujud kepada Tuhan di bawah ‘Arsy-Nya. Pengalaman itu membawanya pada kesadaran batin: manusia hanyalah makhluk yang akhirnya berserah diri di hadapan takdir dan cinta Ilahi.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa seluruh realitas—alam, waktu, sejarah, dan kehidupan manusia—berpusat pada Tuhan sebagai sumber makna dan tujuan akhir. Manusia yang menyadari hal itu akan mencapai kepasrahan dan kedamaian batin.
Puisi juga menyiratkan perjalanan spiritual: dari pengamatan (alam dan azan), pemahaman (hakikat dan makrifat), hingga kepasrahan (berserah di altar ‘Arsy).
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa sakral, khusyuk, dan kontemplatif. Nuansa religius diperkuat oleh kata-kata seperti sujud, firman, azan, makrifat, surga, dan ‘Arsy. Pada bagian akhir suasana menjadi damai dan pasrah.
Amanat / pesan yang disampaikan puis
Amanat puisi ini adalah agar manusia menyadari kebesaran Tuhan yang meliputi seluruh alam dan kehidupan. Kesadaran tersebut seharusnya membawa manusia pada kepasrahan, kerinduan spiritual, dan kedekatan dengan Tuhan. Puisi juga mengingatkan bahwa perjalanan hidup pada akhirnya bermuara pada kehendak Ilahi.
Puisi “Di Altar ‘Arsy-Mu” karya Faisal Ismail adalah puisi religius yang menggambarkan kebesaran Tuhan melalui citra alam, kosmos, dan ibadah. Penyair menunjukkan perjalanan spiritual manusia dari pengamatan dunia menuju kepasrahan di hadapan Ilahi. Puisi ini menegaskan bahwa seluruh alam semesta berada di bawah ‘Arsy Tuhan, dan manusia menemukan kedamaian melalui kepasrahan kepada-Nya.
