Puisi: Di Ambang Ubatuba (Karya Sides Sudyarto D. S.)

Puisi “Di Ambang Ubatuba” karya Sides Sudyarto D. S. bercerita tentang kedatangan seseorang ke Ubatuba—sebuah wilayah yang indah namun sarat ...
Di Ambang Ubatuba

Spada! Siapa di situ?
Ubatuba, aku datang
Untuk menginjak wajahmu

Ubatuba, siapa di sana?
Orang-orang asing
Negeri antah berantah
Bagai mimpi
Tanpa nama tanpa waktu.

Engkau molek siapa tahu?
Engkau permai siapa ragu?
Tetapi, Ubatuba, rakyatmu rindu kayu
Mereka nyalang dalam rindu Cruzeiro
mata uang yang tidur lelap
Di mancanegara

Ubatuba, permainan waktu
pantaimu tenggelam dalam
gincu berpangku-pangku

Jangan gila Ubatuba, terkutuk kau!
Jangan bisu, terbius kau!
Ubatuba, telah hamil kau
Oleh sergahan peradaban
Kepingan-kepingan Eropa
Di bawah mataharimu ingin kukecup
Kemurungan waktu
Di bawah sepi dadamu.

Sumber: Sajak-Sajak Tiang Gantungan (2002)

Analisis Puisi:

Puisi “Di Ambang Ubatuba” karya Sides Sudyarto D. S. menghadirkan lanskap yang sekaligus asing dan simbolik. Dari judulnya saja, pembaca diajak berdiri “di ambang”—sebuah batas, peralihan, atau ruang antara. Sementara itu, Ubatuba sendiri merujuk pada sebuah wilayah pesisir di Brasil, tepatnya di negara bagian São Paulo, yakni Ubatuba. Namun dalam puisi ini, Ubatuba bukan sekadar tempat geografis, melainkan ruang imajinatif yang menyimpan kegelisahan sejarah, ekonomi, dan peradaban.

Tema

Tema utama puisi ini adalah benturan peradaban dan kegelisahan terhadap modernitas. Penyair memotret sebuah wilayah yang tampak indah (“Engkau molek siapa tahu? / Engkau permai siapa ragu?”), tetapi menyimpan luka sosial dan sejarah. Keindahan alam Ubatuba berhadapan dengan realitas rakyat yang “rindu kayu” dan “nyalang dalam rindu Cruzeiro”.

Tema lain yang menguat adalah kritik terhadap kolonialisme dan kapitalisme global. Penyebutan “kepingan-kepingan Eropa” serta “mata uang yang tidur lelap di mancanegara” memberi isyarat tentang eksploitasi ekonomi dan dominasi budaya asing.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang kedatangan seseorang ke Ubatuba—sebuah wilayah yang indah namun sarat persoalan. Dialog retoris seperti “Spada! Siapa di situ?” dan “Ubatuba, siapa di sana?” menciptakan kesan konfrontatif. Seolah-olah sang penyair sedang menantang, menginterogasi, bahkan menggugat sebuah tempat yang telah berubah oleh arus peradaban.

Rakyat Ubatuba digambarkan merindukan “kayu”—yang bisa dimaknai sebagai sumber daya alam atau simbol kehidupan tradisional. Sementara itu, mereka juga “nyalang dalam rindu Cruzeiro,” yakni mata uang Brasil lama, seolah mengisyaratkan kerinduan akan stabilitas ekonomi atau masa lalu yang lebih bermakna.

Puisi ini bergerak dari kekaguman terhadap keindahan menuju nada kecaman:

“Jangan gila Ubatuba, terkutuk kau!
Jangan bisu, terbius kau!”

Nada ini memperlihatkan kegelisahan penyair terhadap sebuah negeri yang “hamil oleh sergahan peradaban.”

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada simbolisasi Ubatuba sebagai representasi dunia ketiga atau negeri berkembang yang terhimpit modernitas global. Kehamilan yang disebut dalam larik “Ubatuba, telah hamil kau / Oleh sergahan peradaban” bukanlah kehamilan biologis, melainkan metafora tentang penetrasi budaya dan ekonomi asing.

“Kepingan-kepingan Eropa” menunjukkan jejak kolonialisme dan pengaruh Barat yang masuk ke wilayah tropis. Sementara itu, “mata uang yang tidur lelap di mancanegara” dapat dimaknai sebagai kekayaan yang mengalir keluar negeri—sebuah kritik terhadap ketimpangan ekonomi global.

Ada pula nuansa eksistensial: “Tanpa nama tanpa waktu.” Ubatuba digambarkan sebagai ruang liminal, tempat identitas dan sejarah seakan mengabur. Penyair seakan mempertanyakan: apakah keindahan alam cukup untuk menutupi kehilangan jati diri?

Puisi “Di Ambang Ubatuba” bukan sekadar puisi perjalanan atau deskripsi tempat eksotis. Ia adalah refleksi tentang pertemuan budaya, tentang negeri yang indah tetapi terluka, tentang rakyat yang rindu kesejahteraan, dan tentang peradaban yang datang dengan wajah ganda.

Puisi ini mengajak pembaca berdiri di “ambang”—momen reflektif sebelum memutuskan: menerima peradaban tanpa kritik, atau menegosiasikan identitas dengan lebih sadar.

Puisi: Di Ambang Ubatuba
Puisi: Di Ambang Ubatuba
Karya: Sides Sudyarto D. S.

Biodata Sides Sudyarto D. S.:
  • Sudiharto lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 14 Juli 1942.
  • Sudiharto meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 14 Oktober 2012.
  • Sudiharto menggunakan nama pena Sides Sudyarto D. S. (Sides = Seniman Desa. huruf D = nama ibu, yaitu Djaiyah. huruf S = nama ayah, yaitu Soedarno).
© Sepenuhnya. All rights reserved.