Di Simpang Rindu Dini Hari
Aku masih di sini
Di simpang rindu
Sedang mentari
Masih lama untuk bertamu
Aku masih di sini
Bersama kenanganmu
Mengutuhkan separuh bahagia
Biar airmata tak lagi bertegur sapa
Paopale Daya, 5 Juli 2022
Analisis Puisi:
Puisi "Di Simpang Rindu Dini Hari" menampilkan suasana batin yang tenang sekaligus perih. Dengan larik-larik pendek dan diksi sederhana, penyair menghadirkan pengalaman menunggu, mengenang, dan berdamai dengan rasa kehilangan. Puisi ini tidak berteriak, tetapi justru bekerja lewat kesunyian dan jeda emosional yang terasa kuat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan yang tertahan. Kerinduan tersebut tidak sekadar rindu fisik kepada seseorang, melainkan rindu yang telah menyatu dengan kenangan dan waktu. Tema ini juga bersinggungan dengan kesepian, penantian, dan usaha menyembuhkan luka batin.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang masih bertahan di titik perasaan yang sama, meskipun waktu telah berjalan. “Di simpang rindu” menjadi metafora posisi batin: tidak sepenuhnya pergi dari masa lalu, tetapi juga tidak lagi benar-benar berharap pada kehadiran yang dinanti. Penyair masih tinggal bersama kenangan, mencoba menyempurnakan kebahagiaan yang pernah terbelah.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah upaya menerima kenyataan tanpa menghapus kenangan. Penyair tidak menyangkal rasa rindu, tetapi memilih mengelolanya agar tidak berubah menjadi kesedihan yang terus melukai. Frasa “mengutuhkan separuh bahagia” mengisyaratkan bahwa kebahagiaan tidak lagi utuh, namun masih bisa dirawat agar air mata tidak terus datang.
Suasana dalam puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini adalah sunyi, sendu, dan reflektif. Dini hari sebagai latar waktu memperkuat kesan kesepian dan perenungan. Tidak ada kegaduhan emosi, yang ada justru ketenangan yang pahit—sebuah kesadaran akan rasa rindu yang belum selesai.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah belajar berdamai dengan kehilangan. Puisi ini seakan mengajak pembaca memahami bahwa tidak semua rindu harus berujung pertemuan; sebagian cukup disimpan, diterima, dan dijadikan bagian dari proses pendewasaan batin.
Puisi "Di Simpang Rindu Dini Hari" karya Moh. Ghufron Cholid menunjukkan bahwa kesederhanaan bahasa tidak mengurangi kedalaman makna. Justru melalui larik-larik yang ringkas, puisi ini berhasil menyampaikan pengalaman batin yang universal: rindu yang tidak selesai, tetapi perlahan diterima. Puisi ini menjadi ruang sunyi bagi pembaca untuk bercermin pada kenangan dan perasaan yang pernah, atau masih, mereka simpan.
Karya: Moh. Ghufron Cholid
Biodata Moh. Ghufron Cholid:
- Moh. Ghufron Cholid lahir pada tanggal 7 Januari 1986 di Bangkalan. Karya-karyanya tersiar di Mingguan Malaysia, Mingguan Wanita Malaysia, Utusan Malaysia, Utusan Borneo, dan lain sebagainya.
