Dunia Waktu
Setiap saat engkau mati dan kembali. "Dunia ini hanya
sekejab," sabda Nabi.
Pikiran kita adalah anak panah yang dibidikkan oleh-Nya:
Bagaimana ia akan tetap tinggal di udara? Ia akan kembali
lagi kepada Tuhan.
Setiap saat dunia diperbaharui kembali, dan kita tidak
menyadari perubahannya yang tak pernah berhenti.
Hidup pun senantiasa mengalir baru, meski dalam tubuh
tampak kemiripan bentuk yang berkesinambungan.
Karena cepatnya ia tampak berkesinambungan, bagai
kembang api yang engkau putar dengan tangan.
Waktu dan masa adalah gejala yang dihasilkan oleh
cepatnya Tindakan Tuhan,
Bagaikan punting berapi yang cekatan diputar
menimbulkan ilusi lingkaran api panjang.
Catatan:
Puisi ini berasal dari buku Nyanyian Seruling dan Jalan Tasawuf (Sega Arsy, 2014) yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari puisi-puisi Sufistik karya Jalaluddin Rumi.
Analisis Puisi:
Puisi “Dunia Waktu” merupakan salah satu puisi sufistik Jalaluddin Rumi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebagaimana karya-karya Rumi pada umumnya, puisi ini tidak sekadar menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga mengandung refleksi metafisis yang dalam mengenai kehidupan, waktu, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Rumi memanfaatkan bahasa simbolik yang khas, berpadu dengan rujukan spiritual Islam, untuk mengajak pembaca merenungkan hakikat dunia yang terus berubah. Puisi ini singkat, namun sarat makna, terutama bagi pembaca yang ingin menyelami pandangan tasawuf tentang fana, kebaruan hidup, dan ilusi keberlangsungan dunia.
Tema Puisi
Tema utama puisi ini adalah kefanaan dunia dan sifat waktu yang terus diperbarui oleh kehendak Tuhan. Rumi menegaskan bahwa apa yang dianggap manusia sebagai kesinambungan hidup sesungguhnya adalah rangkaian perubahan yang sangat cepat. Dunia, waktu, dan kehidupan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus “mati dan kembali” dalam setiap saat.
Tema ini sangat selaras dengan ajaran tasawuf tentang tajdid al-khalq (pembaruan ciptaan) dan kesadaran bahwa realitas sejati berada pada Tuhan, bukan pada bentuk-bentuk duniawi yang tampak tetap.
Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang bagaimana dunia dan kehidupan manusia senantiasa diperbarui dalam setiap detik, meskipun secara lahiriah tampak sama. Rumi membuka puisinya dengan pernyataan bahwa manusia “mati dan kembali” setiap saat, sebuah ungkapan simbolik yang menegaskan bahwa perubahan terjadi terus-menerus, bahkan ketika manusia tidak menyadarinya.
Rumi juga menggambarkan pikiran manusia sebagai anak panah yang dilepaskan oleh Tuhan. Anak panah itu tidak mungkin berhenti di udara; ia pasti kembali kepada asalnya. Dengan metafora ini, Rumi menekankan bahwa seluruh kesadaran, pikiran, dan eksistensi manusia pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu.
Puisi ini kemudian memperluas gagasan tersebut dengan ilustrasi kembang api dan punting berapi yang diputar cepat. Lingkaran api yang terlihat sebenarnya hanyalah ilusi yang muncul karena gerakan cepat. Begitu pula dunia dan waktu: tampak berkesinambungan, padahal sejatinya terdiri dari momen-momen yang terus diciptakan ulang.
Makna Tersirat
Makna tersirat yang kuat dalam puisi ini adalah kritik halus terhadap cara pandang manusia yang terlalu melekat pada dunia dan bentuk-bentuk lahiriah. Manusia cenderung menganggap hidup sebagai sesuatu yang stabil dan berkelanjutan, padahal menurut Rumi, yang terjadi adalah perubahan total yang berlangsung sangat cepat.
Ungkapan “setiap saat dunia diperbaharui kembali” mengandung pesan sufistik bahwa Tuhan senantiasa aktif dalam penciptaan. Dunia tidak berjalan secara otomatis, melainkan bergantung sepenuhnya pada tindakan ilahi. Kesadaran akan hal ini seharusnya membuat manusia lebih rendah hati dan tidak terjebak pada ilusi kekekalan dunia.
Metafora kembang api dan lingkaran api juga menyiratkan bahwa apa yang dianggap “nyata” oleh indra sering kali hanyalah hasil persepsi yang terbatas. Realitas sejati tidak selalu dapat ditangkap oleh penglihatan kasat mata, melainkan membutuhkan kesadaran batin.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan dunia dan pentingnya orientasi spiritual. Rumi seakan mengingatkan bahwa hidup di dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan proses menuju Tuhan.
Puisi ini juga menyampaikan pesan agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan intelektual maupun keterikatan pada waktu. Pikiran, sehebat apa pun, tetaplah akan kembali kepada Tuhan sebagai asal mula. Dengan demikian, manusia diajak untuk selalu menyelaraskan kesadarannya dengan kehendak Ilahi, bukan hanya dengan logika duniawi.
Kesadaran akan pembaruan terus-menerus juga mendorong sikap mawas diri. Jika dunia selalu berubah, maka manusia pun seharusnya terus memperbaiki diri secara spiritual, bukan sekadar mempertahankan bentuk luar kehidupan.
Puisi ini adalah refleksi singkat namun mendalam tentang hakikat waktu, kehidupan, dan realitas dunia. Melalui metafora yang sederhana tetapi kuat, Rumi menggugah kesadaran pembaca bahwa apa yang tampak berkesinambungan sebenarnya adalah ilusi yang lahir dari perubahan cepat yang digerakkan oleh Tuhan.
Dengan memahami tema, apa yang diceritakan, serta makna tersirat di dalamnya, puisi ini dapat dibaca bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai cermin spiritual. Ia mengajak pembaca untuk melampaui pandangan lahiriah dan menyadari bahwa kehidupan sejati bukan terletak pada dunia yang fana, melainkan pada perjalanan kembali kepada Sang Sumber Waktu itu sendiri.
Karya: Jalaluddin Rumi
Biodata Jalaluddin Rumi:
- Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
- Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
- Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.