Puisi: Gua (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi "Gua" karya Wayan Jengki Sunarta menekankan nilai kesendirian, refleksi diri, dan pencarian kehangatan batin dalam menghadapi kerasnya dunia.
Gua

aku memandang ke dalam jurang
menatap kedalaman matamu
yang kulihat adalah
musim dingin tak terperikan

aku menyalakan diriku
sebagai api unggun
namun malam menggigil
musim jadi pucat pasi

daun-daun layu
seperti sabda tanpa tuah
jiwaku mengabu
dalam unggunan

aku kembali ke dalam gua
pengasingan tak peduli perangai cuaca
lumut dan tetes air
memberiku kehangatan
melebihi cahaya matamu.

2016

Sumber: Montase (2016)

Analisis Puisi:

Puisi "Gua" karya Wayan Jengki Sunarta adalah sebuah karya sastra yang memadukan introspeksi personal dengan refleksi eksistensial. Puisi ini menampilkan pengalaman batin yang intens melalui simbolisme alam dan penggambaran kondisi psikologis yang dalam, sehingga mampu menghadirkan resonansi emosional bagi pembaca.

Tema

Tema utama puisi ini berkisar pada kesendirian, pencarian kehangatan batin, dan perenungan diri dalam kesunyian. Penulis menggunakan gua sebagai simbol ruang pengasingan dan perlindungan, sementara elemen alam seperti malam, daun layu, dan musim dingin menjadi metafora bagi kesepian, kehampaan, dan ketidakpastian dalam kehidupan. Dengan demikian, puisi ini menyoroti hubungan antara manusia dengan dunia batin mereka sendiri, serta bagaimana kesendirian bisa menjadi tempat refleksi dan pemulihan.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang pengalaman pribadi penyair menghadapi kesepian dan kerapuhan emosional. Penyair mencoba menyalakan api sebagai simbol upaya untuk menghadirkan kehangatan, namun tetap merasakan dinginnya malam dan musim yang pucat. Pada akhirnya, tokoh memilih kembali ke gua—sebuah ruang pengasingan—yang memberikan rasa hangat lebih dari sekadar cahaya manusia lain. Puisi ini menghadirkan perjalanan batin seorang individu yang mencari kenyamanan dan perlindungan di tengah kerasnya dunia luar.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan penerimaan diri dan pengakuan akan pentingnya ruang pribadi sebagai tempat pemulihan batin. Ungkapan seperti “aku kembali ke dalam gua” menunjukkan bahwa terkadang kedamaian hanya dapat ditemukan dengan mengasingkan diri dari pengaruh eksternal, termasuk hubungan dengan orang lain atau dunia yang penuh ketidakpastian. Kehangatan yang diperoleh dari lumut dan tetes air menekankan bahwa sumber kenyamanan bisa datang dari hal-hal sederhana yang alami, bukan dari perhatian atau cinta manusia lain yang kadang membekukan hati.

Puisi "Gua" karya Wayan Jengki Sunarta menekankan nilai kesendirian, refleksi diri, dan pencarian kehangatan batin dalam menghadapi kerasnya dunia. Melalui tema kesepian, perjalanan batin penyair, dan penggunaan simbolisme alam, puisi ini berhasil mengekspresikan pergulatan emosional manusia secara mendalam. Dengan imaji yang kuat dan majas metafora yang halus, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan mereka dengan diri sendiri, serta menemukan ketenangan di tengah keheningan yang alami.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Gua
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.