Puisi: Ia Memberiku Anggur Agar Aku Turut Mencicipi Rasanya (Karya Jalaluddin Rumi)

Puisi "Ia Memberiku Anggur Agar Aku Turut Mencicipi Rasanya" karya Jalaluddin Rumi bercerita tentang pengalaman seorang pencari (salik) yang terus ...

Ia Memberiku Anggur Agar Aku Turut Mencicipi Rasanya

Jangan berputus asa jika Kekasih mengusirmu
sebab bila Ia mengusirmu hari ini
berarti Ia akan menghampiri dan
merangkulmu lagi esok hari

Jika Ia membanting pintu saat kau permisi di ambangnya
Jangan pergi dulu, tunggulah sebentar–
engkau akan segara dapat berdiri menyisi-Nya
Jika Ia memasang sekat pada lorong-lorong rumah
Jangan kehilangan harapan–
Sebab Ia ingin menunjukkan padamu sebuah
jalan rahasia yang tak seorang pun tahu

Tukang jagal memotong kepala seekor domba
untuk disembelih dan disantap dagingnya
Bukan untuk dibuang!
Ketika domba itu telah kehilangan semua nafas hidupnya
Si tukang jagal meniupkan nafas hidupnya untuk si domba
Wahai, Hidup sebagai apakah yang dibawa
oleh nafas Tuhan kepada-mu!

Namun keserupaan harus berhenti di sini–
Sebab kedermawanan Tuhan jauh lebih dari
kedermawanan tukang jagal itu
Tiupan nafas Tuhan tidak pernah
membawa pada kematian
Ia anugerahkan kekayaannya kepada Sulaiman
untuk disampaikan kepada seekor semut kecil
Ia berikan semua harta yang tersimpan di dua dunia
kepada siapa pun yang meminta dari-Nya
Ia memberi dan akan selalu memberi
Namun kemurahannya tak menyentuh sebuah hati

Aku telah memperjalankan langkah ke semua tepian bumi
namun tak kutemukan seorang pun yang serupa dengannya
Siapa yang akan sesuai menjadi pasangan-Nya?
Siapa yang akan mampu memegangi lilin kemuliaan-Nya?

Kesunyian!
Ia telah memberi kita anggur untuk kita cicipi
tidak untuk kita perbincangkan bagaimana rasanya …

Ia memberi untuk kita hirup
Ia memberi untuk kita cicipi
Ia memberi untuk kita nikmati

Saat kita terikat begini. Ia tambahkan belenggu lagi.
Saat kita menderita, Ia tambahkan keluhan
Saat kita tersesat di dalam rumah kaca
Ia putarkan kita melingkar dan melingkar
tak putus-putus
Lalu ditambahkannya sebuah cermin lagi

Wajahku memucat karena marah–jangan tanya mengapa!
Airmataku mengalir seperti biji delima–jangan kau tanya mengapa!

Siapa yang mempedulikan apa yang terjadi dalam rumahku?
Ada tetesan darah di ambang pintunya–jangan tanya kenapa!

Catatan:

Puisi ini berasal dari buku Jalan Menuju Cinta (Terompah, 2000) oleh Asih Ratnawati yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari buku In the Arms of the Beloved (Tarcher, 1997) oleh Jonathan Star.

Analisis Puisi:

Puisi "Ia Memberiku Anggur Agar Aku Turut Mencicipi Rasanya" merupakan salah satu sajak mistik Jalaluddin Rumi yang hadir dalam bahasa Indonesia melalui buku Jalan Menuju Cinta (Terompah, 2000), terjemahan dari In the Arms of the Beloved (Tarcher, 1997) yang disusun oleh Jonathan Star. Sebagaimana puisi-puisi Rumi lainnya, puisi ini berbicara dalam bahasa simbol, metafora, dan paradoks—cara khas tradisi sufistik dalam menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai Kekasih Absolut.

Puisi ini tidak menawarkan kenyamanan instan. Sebaliknya, ia mengajak pembaca memasuki wilayah spiritual yang penuh guncangan, penantian, luka, dan keheningan. Di sinilah Rumi menempatkan cinta ilahi sebagai pengalaman yang harus dijalani, bukan sekadar dipahami.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan melalui cinta, penderitaan, dan kepasrahan total. Rumi menggambarkan relasi antara manusia dan Tuhan bukan sebagai hubungan yang selalu manis, melainkan relasi dinamis yang dipenuhi penolakan, jarak, cobaan, dan pada akhirnya anugerah.

Cinta ilahi dalam puisi ini tidak bersifat romantis dalam pengertian umum, tetapi bersifat transformatif. Penolakan Tuhan justru dipahami sebagai bentuk kasih sayang yang lebih dalam, karena melalui penolakan itulah manusia dimatangkan secara batin.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seorang pencari (salik) yang terus mendekat kepada Tuhan meski berulang kali diusir, diuji, dan dilukai. Sang Aku lirik menyadari bahwa pengusiran, pintu yang dibanting, dan lorong yang ditutup bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses pengenalan terhadap “jalan rahasia” yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang bersabar dan berserah.

Rumi menggunakan perumpamaan tukang jagal dan domba untuk menjelaskan bahwa kematian ego—yang tampak kejam—sebenarnya bertujuan menghadirkan kehidupan baru. Demikian pula penderitaan spiritual manusia: ia bukan untuk memusnahkan, melainkan untuk menghidupkan kembali jiwa dalam bentuk yang lebih murni.

Makna Tersirat

Makna tersirat yang kuat dalam puisi ini adalah penolakan terhadap pendekatan rasional dan verbal dalam memahami Tuhan. Ungkapan “Ia telah memberi kita anggur untuk kita cicipi, tidak untuk kita perbincangkan bagaimana rasanya” menjadi inti ajaran sufistik Rumi.

Tuhan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya dengan kata-kata, logika, atau diskusi teologis. Ia hanya bisa dialami secara langsung. Anggur menjadi simbol pengalaman ekstase spiritual—sesuatu yang jika hanya dibicarakan, justru kehilangan maknanya.

Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa penderitaan batin, kemarahan, air mata, bahkan darah, bukanlah tanda kegagalan iman. Semua itu adalah konsekuensi dari kedekatan yang terlalu intim dengan Yang Ilahi, sebuah kedekatan yang mengguncang batas kemanusiaan seseorang.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana yang intens, gelap-terang, dan penuh tekanan batin. Ada nuansa harap dan putus asa yang berjalan bersamaan, kesunyian yang menekan, serta ketegangan antara cinta dan penderitaan.

Kesunyian menjadi ruang penting dalam puisi ini—bukan kesunyian kosong, melainkan kesunyian yang sarat makna, tempat pengalaman spiritual mencapai puncaknya tanpa perlu penjelasan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat utama puisi ini adalah ajakan untuk tidak menyerah dalam perjalanan spiritual, meski Tuhan terasa menjauh atau menyakitkan. Rumi menegaskan bahwa apa yang tampak sebagai penolakan sering kali adalah bentuk cinta yang lebih dalam.

Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa iman sejati tidak selalu tampak tenang dan rapi. Ia bisa hadir dalam bentuk kemarahan, tangisan, dan luka batin. Selama semua itu lahir dari pencarian yang jujur, maka pengalaman tersebut tetap berada dalam lingkaran cinta Ilahi.

Ini adalah puisi yang menuntut keberanian batin dari pembacanya. Rumi tidak mengajak kita memahami Tuhan dengan aman, tetapi mengalaminya dengan risiko kehilangan diri lama kita. Puisi ini menjadi pengingat bahwa cinta sejati—terutama cinta kepada Tuhan—bukan untuk dibicarakan, melainkan untuk dijalani, dirasakan, dan diterima sepenuhnya, meski harus berdarah dan menangis dalam diam.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Ia Memberiku Anggur Agar Aku Turut Mencicipi Rasanya
Karya: Jalaluddin Rumi

Biodata Jalaluddin Rumi:
  • Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
  • Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
  • Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.
© Sepenuhnya. All rights reserved.