Ia Merungut
(Puitisasi terjemahan al-Qur'an: Surat 'Abasa)
Ia merungut dan memalingkan muka
Karena padanya datang seorang buta
Apakah kau mengerti barangkali ia mau menyucikan diri?
Atau mengalap ajaran sampai bisa berguna baginya?
Sedang orang yang tak perlu apa-apa
Justru engkau melayaninya
Padahal kau pun takkan ternoda
Bila ia tak menyucikan dirinya
Sedang orang yang datang padamu dengan tergopoh
Dan ia takut juga pada Allah
Malahan tidak kaupedulikan
O, jangan! Sungguh, itu suatu peringatan
Maka siapa suka, biar memperhatikannya
Di dalam kitab-kitab yang mulia
Yang diagungkan, yang disucikan
Di tangan para pencatat
Yang terhormat dan taat
Terkutuklah manusia! Betapa kafir dia!
Coba, dari apa Allah membuat dia?
Dari nutfah! Allah menciptanya lalu memastikannya
Kemudian membukakan jalan gampang baginya
Lalu membuatnya mati dan menentukan kuburnya
Dan menghidupkannya lagi bila la berkenan
O, tapi manusia tak menjalankan apa yang diperintahkan
Maka suruh dia memperhatikan makanannya
Betapa Kami curahkan air berlimpah
Lalu Kami belah bumi terpecah-pecah
Dan Kami tumbuhkan di dalamnya ji-bijian
Dan anggur dan pohon sayur
Dan zaitun dan palma korma
Dan kebun-kebun yang rimbun
Dan uah-buahan dan put-rumputan
Perbekalan bagimu dan hewan ternakmu
Tapi bila tiba teriak yang membuat pekak
Pada hari kapan manusia lari meninggalkan saudaranya
Dan ibu dan bapaknya
Dan isteri dan anaknya
Hari itu setiap orang repot sendiri
Pada yang lain tidak peduli
Hari itu wajah-wajah berseri
Tertawa, gembira
Dan hari itu banyak wajah berdebu
Kegelapan melintup
Itulah orang-orang yang kafir dan durhaka
Sumber: Kabar dari Langit (1988)
Analisis Puisi:
Puisi “Ia Merungut” karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi dari Surat ‘Abasa dalam al-Qur’an. Sebagai karya yang bersumber dari teks suci, puisi ini tidak berdiri sebagai ekspresi personal semata, melainkan sebagai upaya menghadirkan kembali pesan ilahiah dalam bentuk bahasa puitik yang lebih reflektif dan kontemplatif. Melalui susunan larik-larik yang lugas namun sarat makna, puisi ini menegaskan relasi antara manusia, wahyu, dan tanggung jawab moral di hadapan Tuhan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah peringatan moral dan spiritual bagi manusia, khususnya terkait sikap sombong, pengabaian terhadap kebenaran, serta ketidakpekaan terhadap sesama. Puisi ini menyoroti bagaimana manusia kerap salah menilai siapa yang layak diperhatikan, sekaligus mengingatkan posisi manusia yang sejatinya lemah dan bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah.
Puisi ini bercerita tentang peristiwa teguran ilahiah terhadap sikap memalingkan muka dari seorang buta yang datang dengan niat tulus untuk belajar dan menyucikan diri, sementara perhatian justru diberikan kepada orang-orang yang merasa tidak membutuhkan petunjuk. Cerita kemudian meluas menjadi pengingat tentang asal-usul manusia, nikmat-nikmat Allah dalam kehidupan, hingga gambaran dahsyatnya hari kiamat ketika setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri.
Makna Tersirat
Makna tersirat yang kuat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kesombongan manusia dan kecenderungan menilai orang lain berdasarkan status lahiriah. Puisi ini menegaskan bahwa nilai seseorang di hadapan Tuhan tidak ditentukan oleh kedudukan sosial atau pengaruhnya, melainkan oleh ketakwaan dan kesungguhannya mencari kebenaran. Selain itu, puisi ini juga mengandung peringatan keras tentang kelalaian manusia dalam menjalankan perintah Tuhan meskipun telah diberikan kehidupan, rezeki, dan kemudahan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini bergerak dari teguran yang tegas menuju perenungan yang mendalam, lalu berakhir pada suasana genting dan menggetarkan. Pada bagian akhir, gambaran hari kiamat menciptakan suasana mencekam, penuh kepanikan, sekaligus keadilan mutlak, ketika wajah-wajah manusia terbelah antara yang berseri dan yang berdebu diliputi kegelapan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puis
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini sangat jelas, yakni ajakan untuk bersikap rendah hati, adil, dan peka terhadap sesama, terutama mereka yang datang dengan niat tulus mencari petunjuk. Puisi ini juga mengingatkan manusia agar tidak melupakan asal-usulnya yang hina serta tanggung jawabnya untuk menjalankan perintah Tuhan sebelum datang hari pembalasan.
Puisi “Ia Merungut” karya Mohammad Diponegoro tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga membawa pesan etis dan spiritual yang kuat. Sebagai puitisasi Surat ‘Abasa, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungi kembali sikap hidup, cara memandang sesama, serta kesadaran akan hari pertanggungjawaban. Dengan bahasa yang sederhana namun menghunjam, puisi ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada kedudukan duniawi, melainkan pada ketakwaan dan kesediaan menerima peringatan.
Karya: Mohammad Diponegoro
Biodata Mohammad Diponegoro:
- Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, pada tanggal 28 Juni 1928.
- Mohammad Diponegoro meninggal dunia di Yogyakarta, pada tanggal 9 Mei 1982 (pada usia 53 tahun).
