Puisi: Kilas Keladi (Karya A. Muttaqin)

Puisi “Kilas Keladi” karya A. Muttaqin bercerita tentang pengalaman seseorang yang mencintai secara intens, tetapi cintanya tampaknya tidak ...
Kilas Keladi

Bisa jadi
cintakulah yang tak kau mengerti
keningmu bening
terlalu bening
hingga tak kuasa aku melihatmu
kemuning oleh seranai serbuk matahari:
serbuk yang mengaduk umbiku
dari dasar mimpi
sampai
di suatu pagi tinggi
kugelindingkan kau
dari pipiku hening
seperti airmata sang dewa
atau
malah mungkin airmataku sendiri
yang menitis dari sumsum Sepi.

2008

Analisis Puisi:

Puisi “Kilas Keladi” karya A. Muttaqin menghadirkan pengalaman emosional yang intim dan penuh intensitas. Penyair memadukan simbol alam, tubuh, dan unsur spiritual untuk mengekspresikan cinta yang rumit dan perasaan yang sulit dipahami. Puisi ini menggunakan bahasa metaforis dan imaji kuat untuk menangkap pengalaman batin yang halus namun mendalam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta dan ketidakpahaman dalam hubungan emosional. Selain itu, puisi ini menyinggung kesunyian, perenungan, dan refleksi diri yang muncul ketika perasaan tidak tersampaikan secara utuh.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang mencintai secara intens, tetapi cintanya tampaknya tidak dipahami oleh orang yang dicintai. Penyair menggambarkan perasaan ini melalui kening yang “bening”, pipi yang “hening”, dan interaksi simbolik dengan cahaya matahari. Puisi ini juga menampilkan perjalanan batin dari mimpi hingga pagi, seolah perasaan cinta menembus ruang dan waktu.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta seringkali tidak hanya soal kata-kata atau pengertian dari orang lain, tetapi juga soal pengalaman batin yang mendalam. Intensitas perasaan bisa menimbulkan kesedihan, keheningan, atau bahkan rasa keterasingan, yang tetap indah dan penuh makna bagi yang merasakannya.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa hening, intim, dan kontemplatif. Ada perpaduan antara keindahan dan kesepian, antara harapan dan perasaan tak tersampaikan. Keheningan pipi, sumsum Sepi, dan serbuk matahari membangun nuansa lirih yang mendalam dan reflektif.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa cinta dan perasaan manusia bersifat kompleks dan seringkali tidak mudah dimengerti oleh orang lain. Pengalaman batin yang mendalam tetap berharga dan membentuk pemahaman tentang diri, perasaan, dan hubungan dengan orang lain.

Puisi “Kilas Keladi” adalah puisi yang mengekspresikan intensitas cinta, kesunyian, dan perasaan yang sulit dipahami. A. Muttaqin berhasil memadukan simbol alam dan pengalaman batin untuk menghadirkan karya yang intim, reflektif, dan penuh makna emosional bagi pembaca.

A. Muttaqin
Puisi: Kilas Keladi
Karya: A. Muttaqin

Biodata A. Muttaqin:
  • A. Muttaqin lahir pada tanggal 11 Maret 1983 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.