Kita Berjalan dalam Bising
Kita berjalan dalam bising. Berdesak dihalau
Suara-suara yang bergelut dari sender-sender radio
Dan dari rimba peperangan yang gemuruh
Bersipongang di sudut-sudut langit dekat dan jauh
Kalender pun menunjuk-nunjuk hari membunuh sempat
Angka-angka dan huruf-huruf pamflet beranjak dan berjingkat
Musik yang berdesing di lobby-lobby hotel dan bar
Dengan gitar-gitar Fender yang hingar
Polemik-polemik politik dan perdebatan di setiap edisi
Koran yang hiruk pikuk sepanjang hari
Demonstrasi dan coret-moret di dinding-dinding
Bukankah kita masih berjalan dalam bising-bising
Sumber: Horison (Februari, 1973)
Analisis Puisi:
Puisi “Kita Berjalan dalam Bising” karya Hadi Utomo merupakan sajak sosial yang menggambarkan kehidupan modern yang dipenuhi kebisingan—baik secara harfiah maupun simbolik. Penyair menghadirkan suasana kota yang riuh oleh media, politik, musik, dan demonstrasi, sehingga manusia seakan kehilangan ruang sunyi untuk merenung.
Puisi ini tidak hanya memotret kebisingan fisik, tetapi juga kebisingan batin dan sosial yang terus-menerus mengiringi langkah manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehidupan modern yang penuh hiruk-pikuk dan kebisingan sosial-politik. Selain itu, terdapat tema tentang keterasingan manusia di tengah arus informasi dan konflik yang tak henti.
Puisi ini bercerita tentang “kita” yang berjalan di tengah bisingnya dunia. Suara radio, gemuruh peperangan, musik di hotel dan bar, polemik politik di koran, hingga demonstrasi di jalanan semuanya bercampur menjadi latar kehidupan sehari-hari.
Kalender yang “menunjuk-nunjuk” hari dan angka-angka pamflet yang “beranjak dan berjingkat” memperlihatkan betapa waktu dan informasi terus bergerak tanpa henti. Semua itu menciptakan suasana yang padat, sesak, dan gaduh.
Pada akhirnya, pertanyaan retoris di akhir puisi menegaskan bahwa manusia masih terus berjalan dalam kebisingan tersebut—seolah tak punya pilihan untuk berhenti.
Makna Tersirat
Puisi ini adalah kritik terhadap masyarakat modern yang terjebak dalam arus informasi, propaganda, dan konflik. Kebisingan bukan sekadar suara, melainkan simbol dari kekacauan pikiran dan ketidaktenangan batin.
“Rimba peperangan yang gemuruh” menyiratkan konflik global yang gaungnya sampai ke ruang pribadi. Sementara “polemik-polemik politik” dan “demonstrasi” menunjukkan dinamika sosial yang tak pernah benar-benar tenang.
Puisi ini menyiratkan bahwa di tengah kebisingan kolektif, manusia bisa kehilangan kepekaan dan kesadaran diri.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa riuh, padat, dan melelahkan. Irama larik-lariknya memperkuat kesan hiruk-pikuk yang terus menerus.
Namun di balik keramaian itu, tersirat nuansa kritis dan reflektif—sebuah ajakan untuk menyadari kondisi tersebut.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah agar manusia tidak larut sepenuhnya dalam kebisingan zaman. Perlu ada kesadaran dan sikap kritis terhadap arus informasi, konflik, dan polemik yang terus membanjiri kehidupan.
Puisi ini juga mengingatkan pentingnya mencari ruang hening agar tidak kehilangan jati diri di tengah bisingnya dunia.
Puisi “Kita Berjalan dalam Bising” karya Hadi Utomo merupakan potret tajam kehidupan modern yang dipenuhi suara, konflik, dan perdebatan. Melalui rangkaian imaji yang riuh, penyair mengajak pembaca menyadari bahwa kita hidup dalam kebisingan yang hampir tanpa jeda.
Pertanyaannya kemudian: apakah kita akan terus berjalan tanpa refleksi, ataukah berani mencari makna di tengah hiruk-pikuk zaman?
