Puisi: Kusir Bendi (Karya Iyut Fitra)

Puisi “Kusir Bendi” karya Iyut Fitra bercerita tentang seorang kusir bendi yang menjalani hari-harinya mengantar penumpang di kota, sambil ...
Kusir Bendi

Kuda merah dan bendi merah. Sudah berapa jauh penumpang diantarkan
sedari pagi muncul matahari. siang sejenak rumput dan sagu
hingga jelang petang
di antara kleneng genta. Ia kisahkan kesepian
tentang kota yang menjulang. Laju pacu kendaraan
atau peluh yang kering di badan. ke mana kota ini akan dibawa?

Kuda merah dan bendi merah. Ia kusir yang sendirian
hidup tergantung pada penumpang. Menghiba ketika pekan lengang
ia bayangkan sepuluh tahun nanti. Di dalam kandang kuda-kuda mati
terkekang zaman. Hilang daya ketika cemeti patah tiga di gelanggang pacuan
ke mana kota ini akan dibawa?

Kuda merah dan bendi merah
betapa yang lamban akan tertinggal oleh setiap yang gegas.

Payakumbuh, 2013

Sumber: Baromban (2016)

Analisis Puisi:

Puisi “Kusir Bendi” karya Iyut Fitra menghadirkan potret sosial yang kuat tentang nasib profesi tradisional di tengah perubahan zaman. Melalui figur kusir bendi dan kudanya, penyair menggambarkan keterpinggiran, kesepian, serta kecemasan menghadapi modernitas kota. Bahasa puisi yang repetitif dan simbolik mempertegas konflik antara yang lama dan yang baru.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterpinggiran tradisi di tengah arus modernisasi. Bendi sebagai kendaraan tradisional berhadapan dengan kendaraan modern yang lebih cepat dan efisien. Kusir menjadi simbol manusia yang hidupnya tergantung pada sistem lama yang perlahan ditinggalkan zaman. Tema ini juga bersinggungan dengan perubahan sosial-ekonomi di kota.

Puisi ini bercerita tentang seorang kusir bendi yang menjalani hari-harinya mengantar penumpang di kota, sambil merasakan kesepian dan kecemasan terhadap masa depan profesinya.

Sejak pagi hingga petang ia bekerja, tetapi kota di sekitarnya terus berubah: kendaraan modern melaju cepat, sementara bendi menjadi lamban dan tersisih. Kusir membayangkan masa depan suram—kuda mati di kandang, profesinya hilang ditelan zaman.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap modernisasi yang menyingkirkan manusia kecil dan tradisi lokal.

Beberapa lapisan makna yang dapat dibaca:
  • Kusir bendi → simbol pekerja tradisional atau masyarakat kecil.
  • Kota menjulang → modernitas dan pembangunan.
  • Kendaraan cepat → teknologi dan kapitalisme.
  • Kuda mati di kandang → punahnya tradisi.
  • Pertanyaan “ke mana kota ini akan dibawa?” → kegelisahan arah pembangunan.
Puisi menyiratkan bahwa kemajuan sering tidak inklusif dan meninggalkan mereka yang tak mampu mengikuti percepatan zaman.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi adalah melankolis, sepi, dan cemas. Kesepian kusir, bayangan masa depan yang suram, serta kontras antara kelambanan bendi dan kegesitan kota menciptakan nuansa kehilangan dan keterasingan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa perubahan zaman seharusnya tidak menghapus manusia dan tradisi yang lebih lemah.

Puisi mengajak pembaca merenungkan arah pembangunan: apakah kemajuan hanya milik yang cepat dan kuat, sementara yang lamban harus tersingkir? Ada seruan implisit agar modernisasi tetap manusiawi dan berkeadilan.

Puisi “Kusir Bendi” karya Iyut Fitra merupakan refleksi puitik tentang benturan tradisi dan modernitas. Melalui figur kusir bendi, puisi ini menyuarakan kegelisahan manusia kecil yang tertinggal oleh percepatan dunia modern.

Iyut Fitra
Puisi: Kusir Bendi
Karya: Iyut Fitra

Biodata Iyut Fitra:
  • Iyut Fitra (nama asli Zulfitra) lahir pada tanggal 16 Februari 1968 di Nagari Koto Nan Ompek, Kota Payakumbuh, Sumatra Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.