Puisi: Kwatrin buat AKH (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Kwatrin buat AKH” bercerita tentang seseorang yang melintasi sebuah tempat konkret—gang Jujur Kendal—yang membangkitkan ingatan tentang masa ..
Kwatrin buat AKH

melewati gang jujur kendal suatu pagi
melintasi depan rumahmu penuh buku dulu
aku ingat puisi, cerpen, dan kisah cintamu
mengapakah kau tanpa menoleh lagi saat pergi?

Analisis Puisi:

Puisi “Kwatrin buat AKH” merupakan puisi pendek berbentuk kwatrin (empat baris) yang memuat kenangan personal, jejak intelektual, serta rasa kehilangan yang dihadirkan secara sederhana namun menyentuh. Dengan bahasa yang tenang dan naratif, Gunoto Saparie menghadirkan ruang perenungan tentang ingatan, perpisahan, dan sosok yang meninggalkan jejak mendalam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan dan perpisahan, khususnya kenangan terhadap seorang tokoh yang lekat dengan dunia literasi—puisi, cerpen, dan kisah cinta. Tema ini juga bersinggungan dengan penghormatan diam-diam terhadap sosok yang pernah dekat secara emosional maupun intelektual.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang melintasi sebuah tempat konkret—gang Jujur Kendal—yang membangkitkan ingatan tentang masa lalu. Di tempat itu terdapat rumah penuh buku, simbol kehidupan literer seseorang yang dikenang. Perjalanan fisik tersebut berubah menjadi perjalanan batin, hingga berujung pada pertanyaan reflektif tentang kepergian sosok “kau” yang pergi tanpa menoleh lagi.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini terletak pada rasa kehilangan yang tidak diungkapkan secara emosional berlebihan. Kepergian “kau” bisa dimaknai sebagai perpisahan permanen—entah karena jarak, waktu, atau kematian. Pertanyaan di baris terakhir bukan sekadar tanya, melainkan ungkapan kegamangan dan ketidakberdayaan penyair dalam menghadapi kenyataan bahwa kenangan hanya bisa dikenang, bukan diulang.

Selain itu, penyebutan “puisi, cerpen, dan kisah cinta” menyiratkan bahwa sosok AKH adalah figur penting dalam dunia sastra, sehingga puisi ini juga dapat dibaca sebagai bentuk penghormatan atau elegi singkat.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung melankolis dan reflektif. Tidak ada ledakan emosi, namun rasa sendu hadir melalui ingatan, pertanyaan, dan nada yang lirih. Kesederhanaan diksi justru memperkuat suasana hening dan kontemplatif.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan pesan tentang pentingnya mengenang dan menghargai jejak seseorang, terutama mereka yang pernah memberi makna melalui karya dan kehadirannya. Ia juga mengingatkan bahwa perpisahan sering kali datang tanpa penjelasan, dan manusia hanya bisa merawat kenangan sebagai bentuk kesetiaan terakhir.

Puisi “Kwatrin buat AKH” adalah puisi singkat yang padat makna. Dengan bahasa yang sederhana dan personal, Gunoto Saparie berhasil merangkum kenangan, penghormatan, dan duka dalam empat baris yang tenang namun menggugah. Puisi ini menunjukkan bahwa kadang-kadang, ungkapan paling dalam justru lahir dari kata-kata yang paling hemat.

Foto Gunoto Saparie 2019
Puisi: Kwatrin buat AKH
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.