Lakon
Sebuah pementasan telah memecah tubuhku
Menjadi beberapa bagian, dan kepalaku tinggal rongga
Tak kusediakan nyawa yang lain, penyambung
potongan kata-kata, halaman demi halaman
yang kutulis pelan-pelan
Dan garis-garis putih di rambutku, meminta pengertian
tentang ujian yang kalah oleh perjalanan waktu
Setiap gema Tuhan adalah palu yang siap melebamkan
atau melenakan jantung takdir
Sedang usia terus menghitung jalannya matahari
Hingga bunga dan keranda menggiringku
pada pengadilan yang turun dari langit
April, 2014
Sumber: Buletin Jejak (edisi Agustus, 2014)
Analisis Puisi:
Puisi sering menjadi cermin yang merefleksikan perjalanan hidup dan makna eksistensi manusia. Dalam puisi "Lakon" karya Weni Suryandari, penyair mengeksplorasi tema perjalanan hidup, pementasan kehidupan, dan ketentuan takdir.
Pementasan yang Memecah Tubuh dan Kepala yang Tinggal Rongga: Puisi dibuka dengan gambaran dramatis tentang sebuah pementasan yang memecah tubuh. Penyair menyampaikan perasaan terpecah-belah dan rentan, diwujudkan dalam tubuh yang terpecah menjadi beberapa bagian. Kepala yang tinggal rongga mungkin mencerminkan rasa hampa atau kekosongan yang dihasilkan oleh pementasan kehidupan itu sendiri.
Nyawa sebagai Penyambung Potongan Kata-Kata dan Halaman-Halaman yang Ditulis Pelan-Pelan: Penyair merujuk pada nyawa sebagai penyambung potongan kata-kata dan halaman-halaman yang ditulisnya secara perlahan. Metafora ini menciptakan gambaran bahwa setiap bagian dari kehidupan, setiap kata, dan setiap halaman tulisan merupakan elemen yang menyatu dan menjadi bagian dari kisah hidup.
Garis-Garis Putih di Rambut sebagai Penanda Ujian dan Perjalanan Waktu: Garis-garis putih di rambut menjadi penanda ujian dan perjalanan waktu. Ini menciptakan citra tentang penuaan dan pengalaman hidup yang ditorehkan pada tubuh. Garis-garis putih ini meminta pengertian tentang perjalanan hidup yang kalah dalam pertarungan dengan waktu, menggambarkan bahwa setiap tanda penuaan memiliki kisahnya sendiri.
Gema Tuhan sebagai Palu yang Melenakan Jantung Takdir: Penyair menyatakan bahwa setiap gema Tuhan adalah palu yang dapat melebamkan atau melenakan jantung takdir. Ini menggambarkan pengaruh ketentuan takdir yang datang dalam bentuk beragam pengalaman hidup. Gema Tuhan menjadi simbol pengaruh ilahi yang membentuk dan mengubah jalan hidup seseorang.
Usia yang Menghitung Jalannya Matahari dan Akhir Kehidupan: Puisi menggambarkan usia sebagai entitas yang terus menghitung jalannya matahari. Penggambaran ini memberikan kesan perjalanan waktu yang tak terelakkan. Akhirnya, bunga dan keranda menggiring penyair pada pengadilan yang turun dari langit, menciptakan citra akhir kehidupan dan pertemuan dengan takdir yang telah ditentukan.
Puisi "Lakon" karya Weni Suryandari adalah puisi yang mendalam dan mendramatisir perjalanan hidup manusia. Dengan menggunakan metafora teatrikal, penyair berhasil menciptakan gambaran tentang fragilitas, ketidakpastian, dan ketentuan takdir dalam kehidupan manusia. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna eksistensi dan penerimaan terhadap setiap babak dalam pementasan kehidupan yang kita jalani.
Karya: Weni Suryandari
Biodata Weni Suryandari:
- Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
