Puisi: Lintas Batas (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Lintas Batas” karya Wayan Jengki Sunarta bercerita tentang seseorang yang terjaga di batas hayat, menelusuri kembali sunyi dan kenangan yang ..
Lintas Batas

di batas hayat
aku terjaga

telah kuarungi sunyi
yang dulu kubangun dari
kuntum-kuntum bunga karang
tiba di pintu ombakmu
tertegun aku dalam ketukan jiwa
sepucuk rindu hanyut

masih adakah bunga karang
yang mewangi?
desah ombak mengeja jejakmu basah
tiba di dermaga
kenanganku mengabur

dalam matamu desir senja suntuk
menghitung dingin yang ranggas
menimbun puing-puing silam
semakin mendendam rindu
akankah kau ikuti jejak sunyiku
menembang sajak-sajak bisu
tanpa keluh

dengan debur laut di jiwa
kita terima kesunyian
sebagai bunga karang
bekal pelayaran menuju arah
yang paling perih

1995

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Lintas Batas” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan perjalanan batin yang lirih dan mendalam, dengan laut sebagai metafora utama. Larik-lariknya bergerak perlahan, seperti gelombang yang terus berulang, membawa penyair menyeberangi batas antara hidup dan ingatan, rindu dan kesunyian, perjumpaan dan perpisahan. Puisi ini terasa sebagai sajak kontemplatif tentang kesadaran diri saat berada di ambang yang rapuh.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan batin melintasi batas kesunyian, rindu, dan kefanaan. Puisi ini juga mengandung tema penerimaan atas perpisahan dan kesadaran akan batas hayat, di mana manusia dihadapkan pada keterbatasannya sendiri.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terjaga di batas hayat, menelusuri kembali sunyi dan kenangan yang pernah dibangun bersama seseorang yang dirindukan. Perjalanan itu diibaratkan sebagai pelayaran di laut, dengan ombak, dermaga, dan bunga karang sebagai penanda perasaan. Ada keraguan, harapan, sekaligus pasrah dalam menapaki lintasan batin tersebut.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa melintasi batas hidup—baik batas usia, perasaan, maupun hubungan—menuntut keberanian untuk menerima kehilangan. “Lintas batas” bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan peralihan kesadaran: dari berharap menuju merelakan, dari rindu menuju sunyi yang diterima sebagai bagian dari diri.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa melankolis, hening, dan reflektif. Desir ombak, senja suntuk, dan kenangan yang mengabur menciptakan nuansa duka yang lembut, bukan meledak, tetapi mengendap perlahan dalam batin.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kesunyian dan perih adalah bagian dari perjalanan hidup yang tak terelakkan, dan keduanya dapat menjadi bekal untuk melangkah ke arah berikutnya. Penerimaan, bukan penolakan, menjadi kunci untuk melintasi batas-batas batin tersebut.

Puisi “Lintas Batas” karya Wayan Jengki Sunarta adalah sajak perenungan tentang rindu, perpisahan, dan kesunyian yang diterima dengan kesadaran penuh. Melalui metafora laut yang konsisten, puisi ini mengajak pembaca menyelami proses melintasi batas-batas batin yang paling perih—bukan untuk menghindar, melainkan untuk memahami dan menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Lintas Batas
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.