Musik Kenangan
Nada seruling dan puput yang menawan telinga.
Katakan dari putaran angkasa biru asalnya.
Tapi iman yang mengatas rantai angan dan cita.
Tahu si pembuat suara sumbang dan merdu.
Kami adalah bagian dari Adam, bersamanya kami dengar.
Lagu para malaikat dan serafim.
Kenangan kami, walau tolol dan menyedihkan.
Menambat alunan musik biola surga.
O musik adalah daging semua pencinta.
Musik menggetarlambungkan jiwa ke langit angkasa.
Bara berpijar, api abadi tambah berkobar.
Kami dengar senantiasa dan hidup dalam ria dan damai.
Catatan:
Puisi ini berasal dari buku Semesta Maulana Rumi (DIVA Press, 2016) oleh Abdul Hadi WM yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari puisi-puisi Rumi yang berasal dari buku Mystical Poems of Rumi (The University of Chicago Press, 1968) oleh Arthur John Arberry dan buku Rumi: Poet and Mystic (Mandala Books, 1978) oleh Reynold Alleyne Nicholson.
Analisis Puisi:
Puisi “Musik Kenangan” karya Jalaluddin Rumi merupakan salah satu teks liris yang memperlihatkan bagaimana pengalaman spiritual diekspresikan melalui simbol musik. Dalam tradisi sufistik, musik bukan sekadar bunyi, melainkan jembatan antara dunia lahir dan batin, antara manusia dan asal-usul ilahiah. Puisi ini menghadirkan renungan mendalam tentang ingatan primordial manusia, iman, dan kerinduan jiwa akan sumbernya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan kerinduan jiwa manusia terhadap asal-usul ketuhanannya. Musik diposisikan sebagai medium pengingat, yang membangunkan memori terdalam manusia akan hubungan awalnya dengan Tuhan. Dalam kerangka pemikiran Rumi, bunyi dan irama bukan sekadar hiburan, tetapi sarana transendensi yang mampu menembus batas rasionalitas.
Selain itu, puisi ini juga memuat tema keimanan yang melampaui angan dan cita, sebagaimana tergambar dalam larik tentang iman yang “mengatas rantai angan dan cita.” Iman menjadi kekuatan yang memungkinkan manusia mengenali sumber sejati dari keindahan dan harmoni.
Puisi ini bercerita tentang musik sebagai gema kenangan purba manusia. Sejak awal, Rumi menyebut nada seruling dan puput yang memikat telinga, lalu mengaitkannya dengan asal-usul kosmis: “putaran angkasa biru.” Musik tidak dipahami sebagai sesuatu yang lahir di dunia semata, melainkan berasal dari dimensi yang lebih tinggi.
Selanjutnya, puisi menghubungkan manusia dengan Adam dan para malaikat. Manusia digambarkan pernah mendengar lagu para malaikat dan serafim, sebuah simbol akan pengalaman spiritual sebelum terlempar ke dunia material. Kenangan ini, meskipun “tolol dan menyedihkan,” tetap menjadi pengikat yang menambatkan manusia pada “musik biola surga.”
Di bagian akhir, musik dipersonifikasikan sebagai “daging semua pencinta,” sesuatu yang menyatu dengan keberadaan mereka. Musik menjadi energi yang menggetarkan jiwa, menyalakan api cinta ilahi, dan menghadirkan kehidupan yang damai.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini terletak pada gagasan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk spiritual yang tengah lupa akan asal-usulnya. Musik berfungsi sebagai pemantik ingatan—sebuah pengingat halus akan dunia asal yang penuh harmoni dan cahaya. Ketika manusia tersentuh oleh musik, yang sebenarnya bergetar bukan sekadar telinga, melainkan jiwa.
Penyebutan iman yang melampaui angan dan cita menunjukkan kritik Rumi terhadap pemahaman rasional yang semata-mata mengandalkan logika. Pengetahuan sejati tentang sumber keindahan hanya bisa dicapai melalui iman dan pengalaman batin. Musik, dalam hal ini, menjadi bahasa iman yang tidak terucapkan.
Rujukan pada Adam, malaikat, dan serafim juga menyiratkan pandangan kosmologis sufistik: bahwa seluruh keberadaan terhubung dalam satu harmoni ilahi. Musik adalah pantulan kecil dari harmoni besar tersebut.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk kembali mendengarkan suara batin dan tidak memandang musik—atau keindahan pada umumnya—sebagai sesuatu yang dangkal. Rumi mengajak pembaca menyadari bahwa di balik keindahan bunyi, terdapat panggilan spiritual yang menuntun manusia pada kedamaian dan cinta ilahi.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari kepemilikan duniawi, melainkan dari keterhubungan dengan sumber spiritual. Dengan membuka diri pada musik sebagai pengalaman batin, manusia dapat “hidup dalam ria dan damai,” sebagaimana digambarkan dalam larik penutup.
Puisi “Musik Kenangan” menegaskan posisi Jalaluddin Rumi sebagai penyair mistik yang mampu mengolah simbol sederhana menjadi refleksi spiritual yang mendalam. Melalui musik, Rumi mengajak pembaca menyelami ingatan purba, menyalakan kembali api cinta ilahi, dan menemukan kedamaian dalam kesadaran bahwa jiwa manusia selalu terhubung dengan semesta dan Sang Pencipta.
Karya: Jalaluddin Rumi
Biodata Jalaluddin Rumi:
- Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
- Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
- Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.