Puisi: Nafas Gunung Tua (Karya Yusriman)

Puisi “Nafas Gunung Tua” karya Yusriman bercerita tentang Gunung Marapi yang bangun sebelum fajar, mengirim kabut ke lembah, berdiri sebagai ...

Nafas Gunung Tua


Marapi bangun sebelum fajar menulis warna,
ia mengirim kabut seperti surat rahasia
kepada lembah yang masih memeluk tidur.
Di punggungnya, waktu berjalan tanpa jam,
dan batu-batu menghafal kisah yang tak selesai.

Langit sering datang sebagai sahabat sunyi,
menaruh awan seperti selimut tipis.
Di bawahnya, desa-desa menyala pelan,
lampu kecil seperti doa yang lupa padam,
menggantung di antara dingin dan harap.

Setiap retakan adalah bahasa bumi,
setiap gemuruh adalah huruf tua.
Tak semua orang mampu membacanya,
namun semua orang pernah mendengarnya,
dalam getar yang menyusup ke tulang.

Marapi tak pernah meminta dipuja,
ia hanya berdiri seperti penjaga yang lelah.
Menatap manusia yang datang dan pergi,
seperti ombak yang tak pernah mengingat pantai,
tetapi selalu kembali.

Dan ketika malam menutup kelopak langit,
gunung itu masih bernapas perlahan.
Seolah berkata pada dunia yang bising:
segala yang tinggi akan kembali sunyi,
segala yang sunyi akan menjadi abadi.

14 Februari 2026

Analisis Puisi:

Puisi “Nafas Gunung Tua” karya Yusriman menghadirkan refleksi mendalam tentang alam, waktu, dan keberadaan manusia. Gunung Marapi digambarkan bukan sekadar bentang alam, melainkan sosok tua yang hidup, bernapas, dan menyimpan kebijaksanaan purba. Melalui bahasa yang puitis dan simbolik, penyair mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan alam serta makna keheningan dalam kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keabadian alam dan kefanaan manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kebijaksanaan alam, kesunyian, dan perenungan tentang waktu.

Puisi ini bercerita tentang Gunung Marapi yang bangun sebelum fajar, mengirim kabut ke lembah, berdiri sebagai penjaga yang lelah, serta tetap bernapas perlahan ketika malam tiba. Gunung digambarkan sebagai saksi perjalanan waktu dan kehidupan manusia yang datang dan pergi.

Desa-desa di kakinya, lampu-lampu kecil, gemuruh, retakan bumi—semuanya menjadi bagian dari narasi besar tentang hubungan manusia dengan alam yang megah dan sunyi.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam memiliki kebijaksanaan yang jauh melampaui kehidupan manusia. Gunung tidak meminta puja-puji, ia hanya berdiri dan menjadi saksi. Ini menyiratkan pesan bahwa kebesaran sejati tidak membutuhkan pengakuan.

Selain itu, baris “segala yang tinggi akan kembali sunyi, segala yang sunyi akan menjadi abadi” mengandung perenungan filosofis tentang siklus kehidupan: kejayaan, kebisingan, dan ambisi manusia pada akhirnya akan kembali pada keheningan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, khidmat, reflektif, dan agung. Ada ketenangan yang dalam, namun juga kekuatan tersembunyi dalam gemuruh dan retakan bumi. Nuansa spiritual dan kontemplatif sangat terasa sepanjang puisi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa manusia sebaiknya belajar rendah hati di hadapan alam dan waktu. Alam mengajarkan keteguhan, kesabaran, dan kesunyian sebagai bentuk kebijaksanaan. Manusia yang sering bising oleh ambisi diingatkan bahwa pada akhirnya semua akan kembali pada keheningan.

Puisi “Nafas Gunung Tua” karya Yusriman merupakan karya yang sarat makna filosofis tentang alam dan kehidupan. Dengan bahasa yang lembut namun kuat, penyair menggambarkan gunung sebagai simbol kebijaksanaan dan keteguhan yang melampaui usia manusia. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenung, menghargai kesunyian, serta memahami bahwa dalam keheningan terdapat keabadian yang sejati.

Yusriman
Puisi: Nafas Gunung Tua
Karya: Yusriman

Biodata Yusriman:
  • Yusriman merupakan mahasiswa, Fakultas Ilmu Budaya, di Universitas Andalas.
© Sepenuhnya. All rights reserved.