Puisi Yusriman

Puisi: Nafas Gunung Tua (Karya Yusriman)

Nafas Gunung Tua Marapi bangun sebelum fajar menulis warna, ia mengirim kabut seperti surat rahasia kepada lembah yang masih memeluk tidur. Di punggu…

Puisi: Peluk yang Tak Pernah Datang (Karya Yusriman)

Peluk yang Tak Pernah Datang Aku menunggu peluk, bukan dari siapa-siapa, tapi dari semesta yang diam. Terlalu lama aku menunggu, hingga hatiku menjad…

Puisi: Di Balik Pintu Kamar (Karya Yusriman)

Di Balik Pintu Kamar Di balik pintu kamar, aku menjadi diriku yang sebenarnya. Tak ada senyum palsu, tak ada tawa sosial yang memaksa. Hanya ada napa…

Puisi: Langit Tanpa Bintang (Karya Yusriman)

Langit Tanpa Bintang Ada malam tanpa bintang, dan aku di dalamnya. Gelap, tapi bukan berarti tanpa arah. Kadang aku takut menatap langit, karena taku…

Puisi: Menatap Cermin (Karya Yusriman)

Menatap Cermin Aku menatap cermin, dan bertanya siapa yang kulihat di sana. Wajahku tampak sama, tapi matanya menyimpan hujan yang belum reda. Aku te…

Puisi: Rumah dalam Diri (Karya Yusriman)

Rumah dalam Diri Aku mencari rumah, tapi bukan dari tembok atau atap. Rumah itu ternyata ada di dalam diriku sendiri. Tempat aku boleh lemah tanpa ta…

Puisi: Suara dalam Kepala (Karya Yusriman)

Suara dalam Kepala Ada bisik halus di kepala yang tak pernah diam. Kadang lembut, kadang seolah berteriak memaki. Ia menyuruhku berhenti, padahal aku…

Puisi: Cahaya di Ujung Napas (Karya Yusriman)

Cahaya di Ujung Napas Setiap kali aku ingin menyerah, aku ingat bahwa aku pernah bertahan. Bukan karena kuat, tapi karena tak punya pilihan selain ma…

Puisi: Lelah Tanpa Luka (Karya Yusriman)

Lelah Tanpa Luka Tidak ada darah, tapi aku terluka. Tidak ada tangis, tapi jiwaku bergetar pelan. Kelelahan ini bukan karena kerja, tapi karena berpu…

Puisi: Bahagia yang Sederhana (Karya Yusriman)

Bahagia yang Sederhana Bahagia bukan berarti tak punya luka, tapi tahu bagaimana berdamai dengannya. Aku belajar menikmati kopi pagi tanpa membanding…
© Sepenuhnya. All rights reserved.