Puisi: Nyanyian Rumput Gelagah (Karya Jalaluddin Rumi)

Puisi “Nyanyian Rumput Gelagah” karya Jalaluddin Rumi mengingatkan bahwa jalan menuju pemahaman sejati bukanlah penumpukan ilmu, melainkan ...

Nyanyian Rumput Gelagah

Dengarkanlah nyanyian rumput gelagah
Dengarkan sungguh-sungguh ratapan
kesedihan berpisah dari sang Kekasih

"Semenjak aku direnggut dari kayu ranjang tidurku
Lagu dukaku menyentuh hati setiap lelaki
dan wanita, mereka meratap bersamaku
Kucari hati yang terluka pedih karena perpisahan
Hanya merekalah yang paham akan rasa
luka sebab rasa rindu yang menggebu
Siapa pun yang meninggalkan tanah kelahiran
akan merindukan suatu hari untuk kembali pulang
Di tengah orang-orang yang berwajah gembira maupun sedih
Aku lantunkan nyanyian ratap tangis
Setiap orang boleh mengartikannya dengan
makna masing-masing
Tak seorang pun pernah menyelidiki rahasia
dalam diri ini
Rahasiaku ada di ratapanku
yang diketahui oleh mata dan telinga yang
mempunyai cahaya saja"

Gemerisik suara gelagah berasal dari api
bukan dari angin yang menggoyangkan rumpunnya
Apalah arti hidup manusia tanpa api?
Api cintalah yang mengantarkan musik
kepada gelagah
Aroma cintalah yang memberi rasa pada anggur
Nyanyian gelagah meneduhkan luka jiwa
karena hilangnya cinta
Nadanya menabiri hati
Apakah racun yang terasa lebih pahit
Ataukah gula yang terasa lebih manis
semanis nyanyian rumpun rumputan gelagah?
Untuk bisa mendengar lagu rumpun gelagah
Tinggalkan semua yang pernah kau tahu dan
pelajari dalam hidupmu

Catatan:

Puisi ini berasal dari buku Jalan Menuju Cinta (Terompah, 2000) oleh Asih Ratnawati yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari buku In the Arms of the Beloved (Tarcher, 1997) oleh Jonathan Star.

Analisis Puisi:

Puisi “Nyanyian Rumput Gelagah” merupakan salah satu teks paling ikonik dalam khazanah puisi sufistik Jalaluddin Rumi. Puisi ini kerap dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami dunia batin Rumi: dunia kerinduan, perpisahan, dan pencarian cinta sejati. Melalui simbol sederhana berupa rumput gelagah (atau seruling bambu), Rumi menyampaikan kegelisahan eksistensial manusia yang terpisah dari asal spiritualnya.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang kesedihan personal, tetapi juga mengandung refleksi metafisis yang dalam tentang hubungan antara makhluk dan Sang Kekasih, antara manusia dan Tuhan, antara jiwa dan sumbernya.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah kerinduan jiwa akibat perpisahan dari asalnya, yang dalam tradisi sufistik dimaknai sebagai keterpisahan manusia dari Tuhan. Kerinduan tersebut bukan kerinduan biasa, melainkan luka eksistensial yang melekat sejak manusia “direnggut” dari sumber cahaya dan cinta ilahi.

Selain itu, tema cinta ilahiah, penderitaan spiritual, dan pencarian makna sejati juga sangat kuat. Rumi memosisikan cinta sebagai api kehidupan, satu-satunya kekuatan yang membuat nyanyian—dan hidup—menjadi bermakna.

Puisi ini bercerita tentang ratapan rumput gelagah yang bersuara karena telah dipisahkan dari asalnya. Gelagah menjadi personifikasi jiwa manusia yang merintih karena perpisahan dengan Sang Kekasih. Sejak ia dipotong dari rumpunnya, nyanyiannya menjadi keluhan yang menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya—lelaki maupun perempuan, bahagia maupun sedih.

Rumi menggambarkan bahwa hanya mereka yang pernah terluka oleh perpisahan yang benar-benar mampu memahami nyanyian ini. Tidak semua orang bisa menangkap rahasia di balik ratapan tersebut, sebab maknanya hanya terbuka bagi “mata dan telinga yang mempunyai cahaya”.

Pada bagian selanjutnya, puisi ini menegaskan bahwa suara gelagah bukan berasal dari angin, melainkan dari api—api cinta. Tanpa api itu, hidup manusia dianggap hampa. Dengan demikian, nyanyian gelagah adalah musik cinta, obat bagi luka jiwa, sekaligus ujian: pahit atau manisnya tergantung kesiapan batin pendengarnya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini sangat kental dengan ajaran tasawuf. Rumput gelagah bukan sekadar tanaman, melainkan simbol jiwa manusia. Perpisahan dari “kayu ranjang tidurku” menandakan keterputusan jiwa dari alam asalnya—alam ketuhanan.

Ratapan yang dilantunkan gelagah menyiratkan bahwa penderitaan manusia di dunia bersumber dari keterasingan spiritual. Namun, penderitaan itu sendiri justru menjadi jalan untuk mengenali cinta sejati. Api yang disebut Rumi bukan api fisik, melainkan api cinta ilahi yang menghidupkan jiwa, memberi rasa pada hidup, dan makna pada pengalaman.

Kalimat penutup puisi—tentang meninggalkan semua yang pernah diketahui dan dipelajari—menyiratkan bahwa pemahaman sejati tidak bisa dicapai hanya lewat akal dan pengetahuan duniawi. Ia menuntut penanggalan ego, kepastian palsu, dan keterikatan lama agar seseorang mampu mendengar “nyanyian” yang sesungguhnya.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana melankolis dan kontemplatif, dipenuhi ratapan, kesedihan, dan kerinduan yang mendalam. Namun di balik kesedihan itu, terselip kehangatan dan keteduhan, seolah ratapan tersebut justru memberi penghiburan bagi jiwa yang terluka.

Nada puisinya lembut tetapi intens, seperti bisikan panjang dari jiwa yang telah lama merindu pulang. Kesedihan dalam puisi ini bukan kesedihan putus asa, melainkan kesedihan yang subur—kesedihan yang melahirkan kesadaran dan cinta.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat utama puisi ini adalah bahwa hidup tanpa cinta adalah kehampaan, dan cinta yang dimaksud Rumi bukan sekadar cinta duniawi, melainkan cinta ilahi. Manusia diajak untuk menyadari luka terdalamnya, sebab dari luka itulah kerinduan kepada asal sejati muncul.

Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa tidak semua kebenaran dapat dipahami oleh semua orang. Dibutuhkan kepekaan batin, cahaya spiritual, dan keberanian untuk melepaskan pengetahuan lama agar seseorang mampu menangkap rahasia kehidupan.

Rumi seakan mengingatkan bahwa jalan menuju pemahaman sejati bukanlah penumpukan ilmu, melainkan pengosongan diri.

Ini bukan sekadar puisi ratapan, melainkan manifesto spiritual tentang manusia yang merindu pulang. Dengan bahasa simbolik yang sederhana namun sarat makna, Jalaluddin Rumi mengajak pembaca untuk mendengarkan suara terdalam jiwa—suara yang sering tertutup oleh kebisingan pengetahuan dan rutinitas dunia.

Puisi ini tetap relevan lintas zaman, karena kerinduan, perpisahan, dan pencarian makna adalah pengalaman universal manusia. Dan seperti yang disiratkan Rumi, hanya mereka yang berani meninggalkan apa yang “pernah diketahui” yang akan benar-benar mampu mendengar nyanyian itu.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Nyanyian Rumput Gelagah
Karya: Jalaluddin Rumi

Biodata Jalaluddin Rumi:
  • Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
  • Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
  • Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.
© Sepenuhnya. All rights reserved.