Penghinaan Suci terhadap Tuhan
Berangkatlah dan belajarlah
Arah jalan yang ditempuh para pecinta
berlawanan arus dengan arah yang bukan pecinta
Kebohongan Sahabatku
tetap terasa lebih jujur daripada kejujuran
dan kebaikan hati teman-temanku
Bagi Dia
Yang mulanya serasa tak mungkin digapai
menjadi biasa-biasa saja
Mudah saja
Hukuman menjadi hadiah
Tirani menjadi keadilan
Cacian menjadi pujian
Kekasaran sikapnya terasa lembut
Penghinaannya terasa tulus suci
Darah yang menetes dari luka tusukan duri Kekasih
lebih merah dari merahnya kuntum-kuntum mawar dan basil
Saat wujud-Nya pahit, nyatalah lebih manis terasa di lidah
daripada warung penjual manisan dan gula-gula
Saat Dia memalingkan wajah, terasa hangat peluk ciumnya
Saat Dia mengucapkan, "Demi Tuhan, cukup sudah
kedekatan kita di sini."
Nyata kurasakan ucapannya itu bagai sumber air abadi yang
mengalirkan air kehidupan
Sepatah kata "Tidak" yang meluncur dari bibirnya,
serupa seribu patah "Ya"
Pada lorong yang meniadakan kehadiran diri
Ia berlaku bagai seorang asing
padahal sesungguhnya ia Sahabatmu yang
paling kau sayangi
Pengingkaran pada janji itulah tanda kesetiaan
Batu-batu di genggamannya itulah permata
Tuntutan pengembaliannya itulah tanda pemberian
Kekejamannya itulah kemurahan hati
Engkau boleh menertawakanku dan mengolokku
"Lorong yang kau tempuh penuh kelokan dan simpangan!"
Benar sekali–sebab pada lengkung alis-Nya
Aku memperniagakan cinta dalam jiwaku!
Lorong yang melengkung itu membuatku
benar-benar mabuk
Ayolah, hatiku yang mulia, tamatkan bait
syairmu dalam kesunyian
Wahai Syams, Pangeran dari negeri Tabriz,
Kemanisan apa lagi yang akan kau tuangkan ke dalam hidupku–
Yang sungguh-sungguh perlu kukerjakan ialah membuka
mulut lebar-lebar dan melagukan semua nyanyianmu
Setiap hari hatiku menjeritkan tangis ratapan
Setiap malam hatiku menjadi batu
Kisah cintaku tertulis rapi di wajahku dengan tinta darah
Kuminta Kekasihku membacanya
Ia memintaku untuk melupakannya seolah
tak pernah ada
Gundukan khayalanmu yang menggunung
tak lebih dari sekedar tumpukan remah-remah roti
Kedatangan dan kepergianmu
tak lebih dari sekedar permintaan maaf basa-basi
Dalam sesaat
kau dengarkan cerita hatiku
Bagimu tak lebih dari cerita karangan hantu
Catatan:
Puisi ini berasal dari buku Jalan Menuju Cinta (Terompah, 2000) oleh Asih Ratnawati yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari buku In the Arms of the Beloved (Tarcher, 1997) oleh Jonathan Star.
Analisis Puisi:
Puisi “Penghinaan Suci terhadap Tuhan” karya Jalaluddin Rumi merupakan salah satu teks mistik yang kuat dan menantang cara berpikir pembaca modern. Puisi ini hadir dalam buku Jalan Menuju Cinta (Terompah, 2000), terjemahan bahasa Indonesia dari In the Arms of the Beloved (Tarcher, 1997) karya Jonathan Star. Melalui bahasa yang paradoksal, Rumi mengajak pembaca menyelami pengalaman cinta ilahi yang tidak tunduk pada logika moral, sosial, atau psikologis manusia biasa.
Puisi ini tidak sekadar menawarkan keindahan metafora, tetapi juga mengguncang pemahaman umum tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Di dalamnya, luka menjadi anugerah, penolakan menjadi penerimaan, dan penghinaan justru menjelma kesucian.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta mistik (mahabbah ilahiyah)—cinta total antara hamba dan Tuhan yang melampaui rasionalitas, kepantasan sosial, bahkan batas-batas penderitaan manusia. Rumi menampilkan cinta sebagai jalan yang “berlawanan arus”, sebuah pengalaman spiritual yang hanya dapat dipahami oleh “para pecinta”, bukan oleh mereka yang berdiri di luar lingkaran cinta ilahi.
Tema lain yang menyertainya adalah paradoks spiritual, yakni pembalikan makna: hukuman menjadi hadiah, cacian menjadi pujian, penolakan menjadi bentuk tertinggi penerimaan. Semua ini menegaskan bahwa dalam pengalaman sufistik, nilai-nilai duniawi kehilangan kepastian maknanya.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seorang pecinta Tuhan yang rela menanggalkan harga diri, logika, dan harapan manusiawinya demi berada sedekat mungkin dengan Sang Kekasih. Sang Aku lirik menggambarkan relasi yang intens, bahkan menyakitkan, namun justru di situlah ia menemukan kemanisan tertinggi.
Rumi menghadirkan Tuhan bukan sebagai sosok yang selalu ramah dan menghibur, melainkan sebagai Kekasih yang kerap “memalingkan wajah”, menguji, melukai, bahkan seolah mengusir. Namun semua itu diterima dengan penuh cinta, sebab sang pecinta melihat makna yang lebih dalam di balik setiap sikap Kekasihnya.
Puisi ini juga memotret keterasingan spiritual: sang pecinta ditertawakan, diolok, dan dianggap menempuh jalan yang sesat. Namun justru di lorong yang “melengkung” dan tidak lurus itulah ia memperniagakan seluruh jiwanya demi cinta ilahi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini terletak pada gagasan bahwa kedekatan sejati dengan Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk kenyamanan. Sebaliknya, penderitaan, kehilangan, dan penolakan sering kali menjadi sarana pemurnian cinta. Rumi menunjukkan bahwa Tuhan tidak dapat diperlakukan sebagai objek yang harus selalu memuaskan keinginan manusia.
Penghinaan yang dialami sang penyair bukanlah pelecehan dalam pengertian duniawi, melainkan bentuk pengosongan diri (fana). Saat ego dihancurkan, saat harapan manusiawi runtuh, justru di sanalah ruang bagi kehadiran Ilahi terbuka sepenuhnya. Karena itu, “penghinaan” terasa “tulus suci”, sebab ia membersihkan jiwa dari ilusi kepemilikan dan kendali.
Makna lain yang tersirat adalah kritik terhadap spiritualitas dangkal—hubungan dengan Tuhan yang hanya diukur dari rasa nyaman, doa yang terkabul, atau kebaikan yang tampak. Rumi menolak konsep transaksional semacam itu.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat penting dalam puisi ini adalah keikhlasan total dalam mencintai Tuhan. Rumi seakan menegaskan bahwa cinta sejati tidak menuntut balasan yang menyenangkan, tidak mengajukan syarat, dan tidak mempersoalkan bentuk perlakuan yang diterima.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa jalan spiritual bersifat personal dan sering kali tidak dapat dipahami oleh orang lain. Tertawaan, penilaian, dan kecurigaan dari luar bukan tanda kesesatan, melainkan konsekuensi dari menempuh jalan cinta yang radikal.
Pada akhirnya, Rumi mengajak pembaca untuk berani memasuki kesunyian batin, menutup syair ego, dan membuka diri sepenuhnya terhadap “nyanyian” Ilahi—apa pun bentuknya.
Puisi “Penghinaan Suci terhadap Tuhan” adalah puisi yang tidak menawarkan ketenangan instan. Ia justru menantang, mengguncang, dan memaksa pembaca merenungkan ulang makna cinta, iman, dan penderitaan. Melalui bahasa yang kaya paradoks, Jalaluddin Rumi menghadirkan Tuhan sebagai Kekasih yang tidak bisa dikurung dalam definisi manusia.
Puisi ini menjadi pengingat bahwa dalam tradisi sufistik, cinta bukanlah jalan lurus yang nyaman, melainkan lorong berkelok yang membuat jiwa mabuk—hingga akhirnya hanya tersisa keheningan dan penyerahan total.
Karya: Jalaluddin Rumi
Biodata Jalaluddin Rumi:
- Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
- Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
- Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.