Pertemuan
Pertemuan berlaku
di penjuru matamu
yang ungu
lalu membiru.
Pertemuan berlaku
dipenjuru dadaku
yang sayu
lalu terharu.
1974
Sumber: Di Penjuru Matamu (1975)
Analisis Puisi:
Puisi “Pertemuan” karya T. Alias Taib adalah contoh puisi singkat namun sarat makna, yang mampu mengekspresikan pengalaman batin dan emosi melalui penggunaan kata yang sederhana tetapi penuh simbolisme. Puisi ini menyoroti interaksi manusia yang intim, di mana perasaan dan penglihatan bertemu dalam momen yang mendalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pertemuan emosional dan batiniah antar manusia, yang menekankan hubungan antara penglihatan dan perasaan hati. Puisi ini juga mengangkat tema keterhubungan manusia melalui pengalaman inderawi dan emosional, di mana mata dan hati menjadi medium untuk memahami kedekatan dan resonansi emosional.
Puisi ini bercerita tentang momen pertemuan antara dua individu, yang tercermin melalui pengamatan mata dan perasaan hati. Bait pertama menyoroti mata yang mengalami transformasi warna, dari ungu menjadi biru, yang bisa ditafsirkan sebagai perubahan emosional atau intensitas rasa yang dirasakan saat melihat seseorang. Bait kedua menekankan dada atau hati yang merasakan emosi, dari sayu menjadi terharu, menunjukkan reaksi batin terhadap pertemuan tersebut. Dengan demikian, puisi ini menggambarkan proses pertemuan fisik yang juga memicu resonansi batin dan emosional yang mendalam.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah keindahan dan keajaiban pertemuan yang sederhana namun emosional, di mana interaksi manusia dapat mengubah persepsi dan perasaan. Transformasi warna mata dan perasaan hati menandakan bahwa pertemuan bukan sekadar kontak fisik, tetapi juga pengalaman yang mampu menggugah rasa, menghadirkan ketenangan, keharuan, atau bahkan keterpesonaan. Puisi ini secara halus menekankan bahwa emosi manusia dapat terpancar dan terlihat melalui indera dan respons batin.
Puisi “Pertemuan” karya T. Alias Taib menghadirkan pengalaman batin yang intim dan mendalam melalui bahasa yang minimalis namun simbolik. Dengan memfokuskan pada mata dan dada sebagai medium perasaan, puisi ini mampu menyampaikan bahwa setiap pertemuan manusia memiliki resonansi emosional yang unik dan mampu memengaruhi persepsi serta hati yang menerima momen itu.
Karya: T. Alias Taib
Biodata T. Alias Taib:
- T. Alias Taib lahir pada tanggal 20 Februari 1943 di Kuala Terengganu, Malaysia. Ia mulai menulis puisi dan cerpen pada tahun 1960.
- T. Alias Taib meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 2004 di Kuala Lumpur, Malaysia.
