Puisi: Puncak (Karya Harijadi S. Hartowardojo)

Puisi "Puncak" karya Harijadi S. Hartowardojo adalah sebuah karya sastra yang mempersembahkan pesan tentang pergulatan masa remaja, pertanyaan ....
Puncak

Sudah lalu remaja
dalam asap api menyala rata
Tidak ada lagi yang akan dipilih
Yang tinggal suatu endapan
dan ajakan turun tangan
menguburkan arang dan sisa kebakaran

Tak ada lagi yang akan dipilih?
Masih! Pernapasan.
Jawaban dari kumpulan tanda tanya:
Di manakah pintu, jendela
dan jalan angin?

Aku memandang air muka dalam kaca
Layat rak makan angin
Perahu dibawa arus
Matahari terbit pada keempat mata angin

Berjalan bersilang di atas kepala
Kehilangan telunjuk aku memandang
membungkuk merenung laut tenang
di sana juga ada matahari
Di jauhan, mengambang tangis pengembara tewas

Anak perahu beterjunan ke laut
ketakutan.

Sumber: Luka Bayang (1979)

Analisis Puisi:

Puisi "Puncak" karya Harijadi S. Hartowardojo adalah sebuah karya sastra yang sarat dengan makna mendalam tentang pergulatan masa remaja, pertanyaan hidup, dan ketakutan yang dialami oleh seorang individu dalam perjalanan hidupnya.

Pergulatan Masa Remaja: Puisi ini menggambarkan perjalanan masa remaja yang sudah berlalu. Remaja yang telah mengalami masa-masa berapi-api, dalam arti bersemangat dan penuh semangat untuk menjalani hidupnya. Namun, saat masa remaja berlalu, semangat itu menurun, dan segala pilihan hidup tampak telah terlampaui.

Pertanyaan Hidup dan Endapan: Puisi ini menyiratkan rasa ketidakpastian tentang arah hidup dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Frasa "Di manakah pintu, jendela, dan jalan angin?" mencerminkan ketidakjelasan tentang jalur dan arah hidup yang seharusnya diambil.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut meninggalkan endapan yang berarti bahwa pilihan-pilihan hidup sebelumnya telah membentuk keadaan saat ini. Pengalaman masa lalu membentuk bagaimana seseorang melihat dunia dan menentukan pilihan hidupnya.

Pemandangan dan Pertemuan dengan Ketakutan: Puisi ini mengeksplorasi pemandangan dan perenungan seseorang, yang menghadapi ketakutan dalam menghadapi perubahan dan tantangan hidup. Kata "Ketakutan" di akhir puisi mencerminkan perasaan takut yang mengintai dalam diri individu, mungkin karena ketidakpastian tentang masa depan atau kesulitan dalam menghadapi perubahan.

Deskripsi tentang anak perahu yang beterjunan ke laut menggambarkan tindakan impulsif yang mungkin diakibatkan oleh ketakutan dan perasaan terjepit. Gambaran ini menyoroti konflik emosional dan mental yang dialami oleh seorang individu saat menghadapi situasi yang mengharuskan mereka mengambil keputusan sulit.

Puisi "Puncak" karya Harijadi S. Hartowardojo adalah sebuah karya sastra yang mempersembahkan pesan tentang pergulatan masa remaja, pertanyaan hidup, dan ketakutan yang dialami oleh seseorang dalam perjalanan hidupnya. Puisi ini menggambarkan perasaan ketidakpastian dan endapan dari pilihan-pilihan hidup sebelumnya yang membentuk keadaan saat ini.

Melalui bahasa puitisnya, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang pentingnya merenung dan mencari makna dalam kehidupan yang penuh tantangan. Pesan-pesan dalam puisi ini menawarkan pandangan tentang perjalanan hidup yang kompleks dan menantang, di mana pertanyaan-pertanyaan eksistensial, ketakutan, dan perubahan menjadi bagian dari perjalanan menuju kedewasaan dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia sekitar.

Harijadi S. Hartowardojo
Puisi: Puncak
Karya: Harijadi S. Hartowardojo

Biodata Harijadi S. Hartowardojo:
  • Harijadi S. Hartowardojo (nama lengkap: Harjadi Sulaiman Hartowardojo / EyD: Hariyadi Sulaiman Hartowardoyo) lahir pada tanggal 18 Maret 1930 di Desa Ngankruk Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia.
  • Harijadi S. Hartowardojo meninggal dunia pada tanggal 9 April 1984 di Jakarta, Indonesia (dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia).
  • Harijadi S. Hartowardojo adalah salah satu Sastrawan Angkatan 1950-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.