Roti Mesir
Puisiku seperti roti Mesir–
Jika tak habis disantap dalam semalam, ia akan basi
Ambillah sebagian dari puisiku selama ia masih segar
Sebelum puisiku mengering terkena udara terbuka
Kata-kataku muncul dari kehangatan hati
Mereka menghilang oleh sebab dinginnya dunia
Seperti ikan yang berada di tanah kering tandus
Menggelepar sebentar lalu mati
Jika kau ambil kata-kataku tanpa kau cerna
Engkau sendirilah yang harus memberikan
warna pada setiap kebenaran
dengan pikiran dan anganmu
Wahai manusia, engkau minum dari cangkir yang kosong
sedangkan anggur yang amat berharga
mengalir lewat saluran tong
Engkau minum langsung dari sumur khayalanmu
seraya kau semburkan kata-kata yang manis dan bijak ini
Jika tetap kau makan roti yang sudah basi
karena kau anggap roti itu masih baik
yang kau rasakan tetap sama: sakit perut
Catatan:
Puisi ini berasal dari buku Jalan Menuju Cinta (Terompah, 2000) oleh Asih Ratnawati yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari buku In the Arms of the Beloved (Tarcher, 1997) oleh Jonathan Star.
Analisis Puisi:
Puisi “Roti Mesir” karya Jalaluddin Rumi merupakan salah satu teks pendek namun sarat makna dalam khazanah puisi sufistik. Meski disajikan dengan bahasa yang sederhana dan metafora sehari-hari, puisi ini menyimpan perenungan mendalam tentang kata, makna, dan hubungan manusia dengan kebenaran spiritual. Rumi menggunakan simbol roti, ikan, anggur, dan sumur untuk mengajak pembaca merenungi cara manusia menerima, mengolah, dan memahami hikmah.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketakterpisahan antara makna dan kesiapan batin manusia dalam menerima kebenaran. Rumi menegaskan bahwa kata-kata—termasuk puisi—bukanlah sesuatu yang abadi jika tidak segera dihayati. Kebenaran spiritual bersifat hidup, hangat, dan segar, namun dapat kehilangan daya jika diterima secara dangkal atau ditunda pemaknaannya.
Tema lain yang menguat adalah kritik terhadap sikap manusia yang hanya mengoleksi kata-kata bijak tanpa menginternalisasi maknanya, serta peringatan tentang bahaya ilusi pengetahuan.
Puisi ini bercerita tentang puisi itu sendiri yang dianalogikan sebagai roti Mesir: makanan yang harus segera dimakan selagi segar. Rumi menggambarkan bahwa puisinya lahir dari “kehangatan hati”, namun dapat “basi” bila dibiarkan terlalu lama di udara terbuka—yakni ketika hanya dibaca, dikutip, atau dihafal tanpa diresapi.
Ia juga bercerita tentang manusia yang sering keliru dalam memahami kebenaran. Alih-alih meminum anggur berharga yang mengalir dari tong (simbol kebenaran sejati), manusia justru minum dari “sumur khayalan” miliknya sendiri. Dengan kata lain, manusia lebih percaya pada tafsir subjektif yang semu daripada sumber makna yang autentik.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini sangat kuat dan berlapis. Beberapa di antaranya:
- Kata-kata bukan tujuan akhir. Rumi menegaskan bahwa kata-kata hanyalah wadah, bukan esensi. Jika kata-kata diambil tanpa dicerna, maknanya tidak akan memberi kehidupan—seperti ikan yang dilempar ke tanah kering, menggelepar sebentar lalu mati.
- Kebenaran membutuhkan kesiapan batin. Puisi ini menyiratkan bahwa kebenaran spiritual hanya dapat hidup jika diterima oleh hati yang hangat dan terbuka. Dunia yang dingin—dipenuhi kesombongan intelektual dan ilusi kebijaksanaan—membuat kata-kata suci kehilangan daya.
- Ilusi kebijaksanaan lebih berbahaya daripada ketidaktahuan. Rumi secara halus mengkritik manusia yang merasa sudah bijak karena mampu mengucapkan kata-kata manis, padahal ia tidak benar-benar meminum “anggur berharga” kebenaran. Ilusi ini justru menyebabkan “sakit perut”, simbol dari kegelisahan dan kesesatan batin.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menghayati kebenaran secara utuh, segera, dan jujur, bukan sekadar mengagumi atau memamerkan kata-kata bijak. Rumi mengingatkan bahwa hikmah harus dihidupi, bukan disimpan.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa setiap pembaca bertanggung jawab atas cara ia memaknai kebenaran. Jika seseorang memilih memakan “roti basi” karena mengira masih baik, maka konsekuensinya harus ia tanggung sendiri.
Puisi ini menunjukkan kepiawaian Jalaluddin Rumi dalam menyampaikan pesan spiritual melalui metafora sederhana namun menggugah. Melalui puisi ini, Rumi tidak hanya berbicara tentang sastra, tetapi juga tentang kehidupan, kesadaran, dan cara manusia berhubungan dengan kebenaran. Puisi ini menuntut pembacanya untuk tidak sekadar membaca, melainkan merasakan, mencerna, dan menghidupi makna yang terkandung di dalamnya.
Karya: Jalaluddin Rumi
Biodata Jalaluddin Rumi:
- Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
- Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
- Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.