Seseorang Telah Meninggal Dunia
katakanlah sesuatu, apa saja
supaya pertemuan ini menghasilkan sesuatu.
lorong ini sepi sesudah jam sepuluh
tapi katakanlah sesuatu, apa saja,
paling sedikit supaya lorong ini mengandung suara
dan pagar bambu itu akan merasa diperhatikan
takkan dan yang melihat bahwa sebenarnya ia bergoyang.
pertemuan ini sangat berarti,
dengarlah, ia setara dengan seluruh kamus
dan seluruh orkes dunia yang terbagus.
katakanlah sesuatu,
supaya tak lagi jejak-jejak akan terhapus.
Sumber: Horison (Februari, 1973)
Analisis Puisi:
Puisi “Seseorang Telah Meninggal Dunia” karya Yuswadi Saliya menghadirkan ironi yang halus antara judul dan isi. Alih-alih menuturkan peristiwa kematian secara langsung, puisi ini justru berfokus pada kebutuhan mendesak akan kata-kata, suara, dan pengakuan. Kematian dihadirkan bukan sebagai kejadian fisik, melainkan sebagai ancaman sunyi: hilangnya jejak, makna, dan keberadaan jika tak ada yang diucapkan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kebermaknaan kata dan suara dalam menghadapi sunyi dan kefanaan. Puisi ini menekankan pentingnya kehadiran bahasa sebagai penanda bahwa sesuatu—atau seseorang—pernah ada dan berarti.
Puisi ini bercerita tentang sebuah pertemuan di lorong yang sepi setelah jam sepuluh. Dalam kesunyian itu, penyair berulang kali meminta agar “katakanlah sesuatu, apa saja”, demi menghindari kehampaan total. Ucapan, sekecil apa pun, dianggap mampu memberi isi pada pertemuan, menghidupkan ruang, dan mencegah lenyapnya jejak.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kegelisahan terhadap kemungkinan dilupakan. Judul “Seseorang Telah Meninggal Dunia” dapat dibaca sebagai metafora: seseorang benar-benar “meninggal” ketika tak lagi ada suara yang menyebutnya, tak ada kata yang menandai kehadirannya. Puisi ini menyiratkan bahwa bahasa memiliki peran penting dalam merawat ingatan dan makna.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, hening, dan sedikit mendesak. Kesepian lorong malam dipadukan dengan permintaan yang berulang, menciptakan ketegangan antara diam dan keharusan untuk bersuara.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk tidak membiarkan pertemuan, kenangan, dan keberadaan berlalu begitu saja. Kata-kata—meskipun sederhana—memiliki kekuatan untuk mengabadikan, menghidupkan, dan memberi arti pada momen yang rapuh.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Repetisi, pada frasa “katakanlah sesuatu, apa saja”, yang menegaskan urgensi untuk bersuara.
- Personifikasi, ketika pagar bambu digambarkan dapat “merasa diperhatikan”.
- Hiperbola, dalam pernyataan bahwa pertemuan ini “setara dengan seluruh kamus dan seluruh orkes dunia yang terbagus”, untuk menekankan nilai pertemuan tersebut.
Puisi “Seseorang Telah Meninggal Dunia” karya Yuswadi Saliya adalah puisi yang mengajak pembaca merenungkan arti kehadiran dan suara. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh tekanan makna, puisi ini menunjukkan bahwa diam dapat menjadi bentuk kematian, sementara kata-kata—betapapun kecil—adalah cara manusia mempertahankan jejak dan keberartiannya di dunia.
Biodata Yuswadi Saliya:
Juswadi Saliya lahir pada tanggal 15 Juni 1938 di Bandung. Sejak SMA ia sudah mulai menulis, mula-mula pada lembaran-lembaran remaja lalu pada majalah-majalah kebudayaan seperti Basis.
Ia tamat sebagai sarjana arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1966 dan direkrut sebagai staff di ITB pada saat itu. Kemudian mengajar Sejarah Arsitektur dan Ilmu-Ilmu Sosial. Ia mendapat gelar master dari University of Hawaii pada tahun 1975.
