Sumber: Dermaga Tak Bernama (2010)
Analisis Puisi:
Puisi “Seperti Batu di Jurang” karya Fitri Yani menghadirkan narasi batin yang intens tentang keterikatan, kesetiaan, dan pergulatan antara keinginan untuk bertahan dan dorongan untuk pergi. Dengan menghadirkan jurang, batu, hujan, dan langit sebagai entitas yang seolah hidup, puisi ini menyuguhkan perenungan eksistensial yang gelap namun reflektif.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesetiaan yang lahir dari keterbiasaan dan keterikatan emosional, meskipun berada dalam situasi yang mengekang dan menyakitkan. Puisi ini juga mengangkat tema konflik batin antara harapan dan ketakutan akan perubahan, serta ketergantungan pada ruang yang kelam tetapi telah menjadi identitas diri.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di sebuah jurang—ruang yang gelap, dalam, dan menekan. Di tempat itu, penyair hidup berdampingan dengan sebuah batu, hingga muncul keraguan tentang siapa yang lebih dulu ada: dirinya atau batu tersebut. Jurang digambarkan sebagai ruang yang menahan, bahkan “meminta” agar penyair tetap tinggal, sementara langit dan hujan menghadirkan kemungkinan lain: harapan, perpindahan, dan kebebasan.
Hujan hadir sebagai pemicu kesadaran, mengajak penyair untuk pergi dan “menjadi awan”, sementara jurang justru mengungkapkan cinta dan keinginannya agar penyair tetap tinggal. Konflik ini berakhir dengan keputusan penyair untuk tetap setia, “seperti batu”, meskipun menyadari adanya kehampaan dan keinginan untuk pergi.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan kondisi manusia yang terjebak dalam situasi tidak ideal tetapi sulit ditinggalkan, entah karena rasa aman semu, keterbiasaan, atau ikatan emosional. Jurang dapat dimaknai sebagai keadaan hidup yang menekan, relasi yang toksik, atau kondisi batin yang gelap. Batu melambangkan keteguhan, tetapi juga kebekuan dan kepasrahan.
Kepergian hujan menandai hilangnya kesempatan untuk berubah, sementara genangan yang ditinggalkan menunjukkan sisa harapan yang tidak benar-benar diikuti. Kesetiaan di akhir puisi bukan sepenuhnya kemenangan, melainkan pilihan yang sarat ambiguitas.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung muram, sunyi, dan melankolis, dengan dominasi rasa gelap, hampa, dan tertekan. Namun, suasana tersebut sesekali diselingi oleh nuansa lembut dan reflektif saat hujan dan langit hadir sebagai simbol harapan. Perubahan suasana ini mempertegas konflik batin yang dialami penyair.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kesetiaan tidak selalu berarti kebahagiaan, dan keterikatan yang terlalu lama pada ruang yang kelam dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berubah. Puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia perlu jujur pada dirinya sendiri: apakah bertahan karena cinta, atau karena takut meninggalkan kebiasaan.
Puisi “Seperti Batu di Jurang” karya Fitri Yani adalah puisi reflektif yang kuat dalam menggambarkan pilihan batin manusia antara bertahan dan berubah. Dengan bahasa yang lirih dan simbol yang konsisten, puisi ini mengajak pembaca merenungkan makna kesetiaan, kenyamanan semu, dan keberanian untuk meninggalkan jurang demi langit yang lebih luas.
Karya: Fitri Yani
Biodata Fitri Yani:
- Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
